HUKUM

Datangi Pimpinan DPR, Muhammadiyah Tolak RUU Omnibus Law Cipta Karya

MONITOR, Jakarta – Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyayangkan proses pembahasan RUU Cipta Karya cenderung tertutup, tidak akuntabel dan minim partisipasi publik. Hal tersebut diutarakan Wakil Ketua Majelis Hukum dan HAM Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Maneger Nasution, saat bertemu dengan Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad, yang didampingi Ketua Baleg DPR Supratman di Gedung Nusantara III, Komplek DPR Senayan, Jakarta, Rabu (15/7).

Maneger datang bersama Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang membidangi Hukum, HAM, dan Kebijakan Publik, Busyro Muqoddas. Dalam kesempatan itu, ia berpandangan penyusunan RUU Cipta Karya sejatinya harus memperhatikan kepentingan bangsa dan negara secara menyeluruh, bukan hanya kepentingan ekonomi kelompok tertentu dan apalagi kepentingan asing.

RUU tersebut juga dinilai mengabaikan etika lingkungan (environmental ethics) dan tidak berpihak kepada kepentingan masyarakat lebih luas. Secara substantif, kata Maneger, RUU tersebut juga berwatak refresif dan cenderung melanggar hak-hak warga negara (pasal 28H ayat (1), 28I ayat (3) dan pasal 33 ayat (3) UUDNRI tahun 1945.

“Berbagai titik lemah RUU tersebut jika tidak diperhatikan akan berimplikasi secara luas kepada keberlangsungan hidup bangsa dan negara khususnya dalam pengelolaan SDM dan SDA,” kata Maneger, dalam keterangan yang diterima MONITOR.

Muhammadiyah pun khawatir RUU ini akan berdampak sosial sangat luas khususnya di kalangan buruh. Apalagi, RUU tersebut dibahas dlm situasi pandemi Covid-19 dimana publik sibuk dengan beban darurat corona.

“Untuk itu, Muhammadiyah menyatakan menolak dengan tegas substansi RUU tersebut karena bertentangan dengan jiwa dan nilai-nilai dasar moralitas konstitusi,” tegasnya.

PP Muhammadiyah, kata Maneger, berharap para pembuat UU tersebut berbesar hati untuk menarik Draft RUU tersebut. Sekiranya pembuat UU meningkatkan komitmennya pada ikhtiar peningkatan perekenomian negara, hendaknya ditempuh dengan penuh seksama dalam bentuk kajian etid-akademis yang didasarkan pada sikap konsisten terhadap moralitas konstitusi.


Recent Posts

3 Negara Diguncang Gempa Hebat, Puan Sampaikan Simpati dan Tekankan Perlindungan WNI

MONITOR, Jakarta - Ketua DPR RI Puan Maharani menyampaikan rasa simpati atas musibah bencana gempa…

4 jam yang lalu

Menhaj Buka IEE 2026, Tegaskan Transformasi Haji dan Umrah Harus Berpihak kepada Jemaah

MONITOR, Jakarta - Menteri Haji dan Umrah Moch. Irfan Yusuf menegaskan transformasi penyelenggaraan haji dan umrah…

11 jam yang lalu

Waka Komisi VII DPR: Kebijakan Bebas Visa Kunjungan Dapat Buka Lapangan Kerja

MONITOR, Jakarta - Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Evita Nursanty, menyoroti polemik antara Kementerian…

12 jam yang lalu

Rokhmin Dahuri bekali Anggota DPRD dan DPC PDIP Paradigma Ekonomi Biru Atasi Krisis Pembangunan

MONITOR, Makassar – Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dengan lebih dari 17 ribu pulau,…

13 jam yang lalu

Kemenag dan BI Dorong Rohis Jadi Agen Perubahan dan Penggerak Literasi Syariah di Ruang Digital

MONITOR, Bali - Kementerian Agama Republik Indonesia bekerja sama dengan Bank Indonesia terus memperkuat kapasitas…

14 jam yang lalu

Gaungkan Gerakan Literasi, Legislator Willy Aditya Usul Ada Pojok Baca untuk Karyawan Hingga OB dan Sopir

MONITOR, Jakarta - Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI, Willy Aditya sebagai salah satu legislator…

14 jam yang lalu