JABAR-BANTEN

Panen 88 Hari, Demplot Padi Organik di Subang Tingkatkan Produktivitas hingga Tiga Kali Lipat

MONITOR, Subang – Demplot budidaya padi organik di kawasan Lembur Pakuan, Desa Sukasari, Kecamatan Dawuan, Kabupaten Subang, mencatat lonjakan produktivitas yang signifikan.

Berdasarkan hasil ubinan yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Subang bersama petani pada Jumat (10/7/2026), produktivitas lahan yang sebelumnya hanya sekitar 1 ton gabah per hektare meningkat menjadi sekitar 4,76 ton per hektare setelah menerapkan budidaya menggunakan pupuk hayati cair Pureplant dan pembenah tanah organik HumicGen.

Pengukuran dilakukan pada demplot seluas 1,12 hektare yang merupakan lahan baru bekas kebun rambutan dan selama tiga musim tanam dikenal memiliki produktivitas rendah.

Tim ubinan BPS Kabupaten Subang dipimpin Didit Hendrawan, sementara sehari sebelumnya pengambilan sampel juga dilakukan oleh tim Dinas Pertanian Kabupaten Subang.

Kepala Desa Sukasari, Olih Solihin, mengatakan peningkatan hasil tersebut menjadi kabar menggembirakan bagi petani karena lahan tersebut selama ini tergolong sulit menghasilkan panen optimal.

“Ini lahan baru bekas kebun rambutan yang dijadikan sawah. Sudah tiga kali tanam hasilnya hanya sekitar satu ton per hektare. Sekarang hasilnya lebih dari 4 ton per hektare. Tentu kami sangat bersyukur,” ujarnya.

Menurut Olih, berbagai metode budidaya dan penggunaan pupuk, baik kimia maupun organik, sebelumnya telah dicoba. Namun produktivitas tetap berada di bawah rata-rata sawah di wilayah tersebut.

“Rata-rata produksi di kawasan ini sekitar 3 ton per hektare. Yang menarik, lahan yang sebelumnya ekstrem kini mampu mencapai sekitar 4,7 ton per hektare,” katanya.

Demplot tersebut merupakan program kolaborasi Perkumpulan Insan Tani dan Nelayan Indonesia (Intani) bersama Pemerintah Desa Sukasari, didukung PT Intani Bumi Lestari (IBL) dan PT Indoraya Mitra Persada 168 (IMP 168) sebagai penyedia pupuk hayati Pureplant dan pembenah tanah HumicGen.

Ketua Intani Jawa Barat, Riyan Sumindar, mengatakan program tersebut merupakan bagian dari upaya memperbaiki kualitas tanah pertanian yang menurutnya banyak mengalami degradasi kesuburan.

“Tujuan kami bukan hanya meningkatkan produksi, tetapi juga memperbaiki kesehatan tanah dan menekan biaya produksi petani. Dengan aplikasi Pureplant dan HumicGen, biaya budidaya menurut perhitungan kami bisa jauh lebih efisien dibandingkan pola konvensional,” ujarnya.

Riyan juga menyebut umur panen pada demplot tersebut relatif lebih singkat. Pengambilan sampel dilakukan pada umur tanaman 86 hari setelah tanam yang dimulai pada 15 April 2026, sedangkan panen dijadwalkan pada hari ke-88.

“Hasil panen nantinya diperkirakan tidak akan jauh berbeda dengan hasil ubinan. Bisa sedikit lebih tinggi atau sedikit lebih rendah,” kata alumnus Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran itu.

Ia menjelaskan Pureplant dikembangkan menggunakan mikroorganisme lokal yang berasal dari sumber hayati Indonesia dan dirancang untuk mendukung pemulihan kesuburan tanah secara berkelanjutan.

Sementara itu, Agronomis PT IMP 168, Rohman, menjelaskan penerapan teknologi budidaya tersebut relatif sederhana sehingga mudah diadopsi petani.

Pembenah tanah HumicGen diaplikasikan saat pengolahan lahan sekitar dua minggu sebelum tanam. Selanjutnya pupuk hayati Pureplant disemprotkan pada umur tanaman 7, 14, 21, dan 30 hari setelah tanam.

“Prosedurnya sederhana. Pupuk cukup dicampur air lalu disemprotkan sesuai jadwal aplikasi sehingga mudah diterapkan oleh petani,” ujarnya.

Pureplant mengandung berbagai mikroorganisme yang berfungsi membantu proses biologis di dalam tanah, seperti bakteri penambat nitrogen, pelarut fosfat dan kalium, serta mikroba dekomposer. Produk tersebut juga diklaim mengandung zat pengatur tumbuh (fitohormon) yang mendukung pertumbuhan akar, batang, daun, hingga fase pembungaan tanaman.

Selain padi, produk tersebut disebut dapat diaplikasikan pada berbagai komoditas pangan, hortikultura, dan perkebunan, antara lain sawit, kakao, kopi, alpukat, mangga, dan durian.

Melalui program ini, Intani berharap teknologi budidaya berbasis pupuk hayati dapat menjadi salah satu alternatif dalam mendukung peningkatan produktivitas pertanian sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional melalui sistem pertanian yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Recent Posts

DPR Dukung Aksi Jerhemy Nemo Tebang Sawit Ilegal, Dorong Gerakan Penghijauan Berbasis Pemberdayaan Masyarakat

MONITOR, Jakarta - Anggota Komisi IV DPR RI, Daniel Johan memuji aksi penghijauan yang dilakukan…

18 jam yang lalu

Legislator Soroti Dugaan Klaim Fiktif JKN, Dorong Agar Diusut Tuntas karena ‘Rampok’ Uang Rakyat

MONITOR, Jakarta - Anggota Komisi IX DPR RI Nurhadi menyoroti dugaan praktik klaim fiktif Jaminan…

18 jam yang lalu

Evaluasi Haji Embarkasi Banjarmasin, Menhaj Utamakan Istithaah Kesehatan Hingga Nol Toleransi Pelanggaran

MONITOR, Banjarbaru - Menteri Haji dan Umrah (Menhaj) RI Mochamad Irfan Yusuf menegaskan bahwa evaluasi…

18 jam yang lalu

Perkuat Ekosistem Transportasi Berkelanjutan, Jasa Marga Dukung Implementasi Biosolar B50 di Rest Area KM 57A

MONITOR, Jakarta - PT Jasa Marga (Persero) Tbk memperkuat perannya dalam mendukung ekosistem transportasi berkelanjutan…

19 jam yang lalu

Sikapi Penyesuaian BPIH 2027, Menhaj Tekankan Efisiensi Tanpa Turunkan Kualitas Layanan

MONITOR, Banjarbaru - Menteri Haji dan Umrah (Menhaj) RI Mochamad Irfan Yusuf menyampaikan bahwa Biaya…

19 jam yang lalu

STPK Matauli Perkuat Peran Kampus Maritim, Prof Rokhmin Usulkan Dua Prodi Baru untuk Dukung Ekonomi Biru

MONITOR, Tapanuli Tengah – Sekolah Tinggi Perikanan dan Kelautan (STPK) Matauli terus memperkuat posisinya sebagai…

22 jam yang lalu