NASIONAL

IKI Februari 2026 Tembus 54,02, Industri Manufaktur Tetap Ekspansif

MONITOR, Jakarta – Kinerja industri pengolahan nasional pada awal tahun 2026 tetap menunjukkan ketahanan dan berada pada jalur ekspansi. Hal ini tercermin dari Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Februari 2026 yang tercatat sebesar 54,02. Capaian tersebut memang melambat tipis 0,10 poin dibandingkan Januari 2026, namun meningkat 0,87 poin dibandingkan Februari 2025 dan menjadi level tertinggi kedua sejak IKI diluncurkan pada November 2022.

Berdasarkan hasil survei IKI Februari 2026, dari 23 subsektor industri pengolahan yang dianalisis, sebanyak 19 subsektor berada pada fase ekspansi dan hanya 4 subsektor yang mengalami kontraksi. Subsektor yang berada pada fase ekspansi memiliki kontribusi sebesar 92,9 persen terhadap PDB industri pengolahan nonmigas.

“Dua subsektor dengan nilai IKI tertinggi adalah Industri Pencetakan dan Reproduksi Media Rekaman serta Industri Alat Angkutan Lainnya,” papar Juru Bicara Febri Hendri Antoni Arief dalam Rilis IKI Bulan Februari 2026 di Jakarta, Kamis (26/2/2026).

Jubir Kemenperin menyampaikan, kedua subsektor tersebut mengalami ekspansi seiring meningkatnya permintaan dari sejumlah sektor industri, seperti industri makanan, minuman, tekstil dan produk tekstil (TPT), serta alas kaki, dengan industri pencetakan berperan sebagai sektor pendukung. Kemudian, adanya kenaikan angka penjualan sepeda motor pada bulan Januari 2026 mencapai 577.763 unit, meningkat 3,11 persen dibanding Januari 2025 (y-o-y).

Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Februari 2026, Kemenperin mencermati adanya peningkatan konsumsi rumah tangga terhadap komoditas industri pakaian, alas kaki, serta jasa perawatannya. Pada tahun 2024, pertumbuhan konsumsi sektor ini tercatat sebesar 2,73 persen dan meningkat menjadi 4,52 persen pada tahun 2025.

Namun, berdasarkan hasil pengamatan terhadap IKI, khususnya IKI pasar domestik tahun 2025, industri pakaian jadi yang berorientasi pada pasar dalam negeri justru mengalami kontraksi. Kondisi ini mengindikasikan bahwa peningkatan konsumsi rumah tangga tersebut tidak sepenuhnya diserap oleh produk industri dalam negeri.

“Dengan demikian, terdapat indikasi kuat bahwa kenaikan permintaan tersebut lebih banyak dipenuhi oleh produk impor,” ungkap Febri.

Oleh karena itu, Kementerian Perindustrian memandang momentum peningkatan konsumsi domestik seharusnya dapat dimanfaatkan secara optimal oleh industri dalam negeri, guna memperkuat struktur manufaktur nasional dan meningkatkan daya saing produk lokal di pasar domestik.

Adapun subsektor yang mengalami kontraksi yaitu Industri Kayu, Barang dari Kayu, dan Gabus (Tidak Termasuk Furnitur dan Barang Anyaman dari Bambu, Rotan dan sejenisnya, Industri Barang Galian Non Logam, Industri Komputer, Barang Elektronik, dan Optik, dan Reparasi dan Pemasangan Mesin dan Peralatan.

Sekretaris Direktorat Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil Sri Bimo Pratomo mengatakan, Industri Barang Galian Non Logam mengalami kontraksi pada variabel pesanan dan persediaan. Hal ini disebabkan menurunnya permintaan dalam negeri yang berasal dari pengadaan pemerintah.

“Karena bulan ini masih memasuki awal tahun anggaran dan Bulan Ramadhan, sehingga banyak proyek infrastruktur yang belum berjalan. Sehingga permintaan produk bahan bangunan (BGNL) juga ikut turun. Kemungkinan besar akan dimulai setelah lebaran,” tuturnya.

Pada variable produksi Industri Kayu, Barang dari Kayu, dan Gabus, kontraksi yang terjadi dipicu oleh ketidakpastian global dan beberapa kekhawatiran pelaku industri terhadap dampak kesepakatan perdagangan global.

“Subsektor Industri Komputer, Barang Elektronik, dan Optik, mengalami penurunan pada pesanan luar negeri yang menyebabkan terjadinya kontraksi pada IKI Februari 2026. Selain itu, komponen elektronik berbahan baku semikonduktor saat ini tengah mengalami kelangkaan,” kata Direktur Industri Peralatan Pertanian dan Alat Mesin Pertanian (IPAMP) Solehan.

Kedua orientasi pasar IKI baik ekspor maupun impor masih berada dalam zona ekspansi meskipun mengalami sedikit perlambatan. IKI orientasi ekspor pada bulan Februari 2026 berada di level 54,61 atau melambat 0,01 poin dibanding bulan Januari 2026 yang berada di level 54,62. Sedangkan IKI berorientasi pada pasar domestik berada di level 53,12, melambat 0,13 poin dibanding bulan Januari 2026 yang berada di level 53,25.

Secara umum, kondisi kegiatan usaha pada Februari 2026 masih tergolong baik. Sebanyak 77,6 persen responden menyampaikan kegiatan usahanya membaik dan stabil. Tingkat optimisme pelaku usaha meningkat menjadi 73,5 persen, sementara tingkat pesimisme menurun menjadi 3,9 persen. Seluruh variabel pembentuk IKI, yakni pesanan, produksi, dan persediaan, berada pada zona ekspansi. Variabel produksi mencatat ekspansi tertinggi sejak Januari 2025 dan telah berada pada fase ekspansi selama dua bulan berturut-turut.

Recent Posts

DPR Semprot BP BUMN Karena Nasib 1.225 Eks Karyawan Merpati Masih Terkatung-katung

MONITOR, Jakarta - Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Charles Honoris geram kepada pihak BP…

8 jam yang lalu

Hadapi Lonjakan Harga Plastik, Puan Dorong Penggunaan Kemasan Alternatif dari Bahan Organik

MONITOR, Jakarta - Ketua DPR RI Puan Maharani menilai lonjakan harga plastik dapat menjadi momentum…

8 jam yang lalu

Waka Komisi X DPR Dorong Sanksi dengan UU TPKS di Kasus FH UI: Jangan Normalisasi Kekerasan Seksual!

MONITOR, Jakarta - Wakil Ketua Komisi X DPR RI MY Esti Wijayanti mendesak pihak Universitas…

8 jam yang lalu

Marak Kasus Pelecehan Seksual di Dunia Pendidikan, Legislator Desak Evaluasi Total Tradisi dan Edukasi UU TPKS

MONITOR, Jakarta - Anggota Komisi III DPR RI Abdullah menyoroti kasus dugaan pelecehan seksual di…

8 jam yang lalu

Fitur CCTV Travoy Diakses 3,59 Juta Kali Selama Periode Mudik-Balik Lebaran 2026

MONITOR, Jakarta - PT Jasa Marga (Persero) Tbk mencatat tingginya antusiasme pengguna yang mengoptimalisasi fitur…

9 jam yang lalu

Inabuyer B2B2G Expo 2026 Perkuat Peran UMKM dalam Rantai Pasok Program Prioritas Nasional

MONITOR, Jakarta — Pemerintah melalui Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) bersama Lembaga Kebijakan…

10 jam yang lalu