DAERAH

Drainase Buruk, 100 Rumah di Rangkasbitung Lebak Terendam Banjir

MONITOR, Jakarta – Infrastruktur drainase di jantung Ibu Kota Kabupaten Lebak kembali menunjukkan rapor merah. Sebanyak 100 rumah di Kampung Sentral, Rangkasbitung, terendam banjir pada Senin (12/1/2026) dini hari akibat penyempitan saluran air yang tak kunjung dibenahi. Banjir ini menjadi bukti nyata bahwa sistem drainase kota sudah tidak mampu menampung beban curah hujan.

Meski ketinggian air rata-rata 10 sentimeter, bagi warga RT 02 dan RT 03 RW 13, ini bukan sekadar genangan biasa, melainkan cermin pengabaian pemerintah daerah terhadap masalah menahun.

Ketua RW 13, Yanto, menegaskan bahwa banjir ini adalah “penyakit kambuhan” yang solusinya sudah berulang kali ditawarkan warga, namun tak kunjung dieksekusi oleh pemerintah.

“Kami sudah bosan mengusulkan pembangunan embung dan penyudetan drainase menuju Sungai Ciberang sejak bertahun-tahun lalu. Proyek itu sangat krusial agar air tidak parkir di ruang tamu warga, tapi sampai sekarang hasilnya nihil,” ujar Yanto dengan nada kecewa.

Warga seperti Encup (55) terpaksa harus terjaga sepanjang malam demi menyelamatkan perabotan. “Setiap hujan turun, kami bukan beristirahat, tapi bersiap pengerukan air. Ini masalah klasik yang solusinya harus permanen, bukan sekadar kunjungan,” keluhnya.

Di sisi lain, birokrasi penanganan bencana di Lebak tampak masih terjebak pada tataran koordinasi. Kepala BPBD Kabupaten Lebak, Sukanta, mengakui bahwa arus air memang tidak lancar akibat drainase yang buruk. Ia menjanjikan akan berkoordinasi dengan Dinas PUPR untuk perbaikan fisik.

“Kami akan laporkan ke pimpinan. Selain banjir di Rangkasbitung, kami juga tengah memantau tujuh rumah yang terdampak longsor di Kecamatan Bayah. Peninjauan sedang dilakukan untuk tindak lanjut mitigasi,” jelas Sukanta.

Kejadian banjir di pusat kota dan longsor di wilayah Lebak Selatan (Bayah) dalam waktu bersamaan menjadi alarm keras bagi Pemerintah Kabupaten Lebak. Warga mendesak agar alokasi anggaran infrastruktur diprioritaskan untuk pembenahan drainase dan pembangunan penampungan air (embung), guna memutus siklus banjir langganan yang merugikan ekonomi masyarakat.

Recent Posts

Antisipasi PPPK Dirumahkan Buntut Efisiensi, Legislator Sebut Lebih Baik Hapus Kegiatan Seremonial

MONITOR, Jakarta - Anggota Komisi II DPR RI Muhammad Khozin menyoroti fenomena dirumahkannya Pegawai Pemerintah…

6 jam yang lalu

Gunung Anak Krakatau Aktif, Puan Dorong Kesiapsiagaan Nasional Demi Keselamatan Masyarakat

MONITOR, Jakarta - Ketua DPR RI Puan Maharani meminta Pemerintah melakukan persiapan yang matang menyusul…

6 jam yang lalu

BBM Nelayan Rp15.000, GNTI: Benahi Akses dan Tata Kelola agar Kebijakan Tepat Sasaran

MONITOR, Jakarta – Ketua PP Gerakan Nelayan Tani Indonesia (GNTI) Bidang Nelayan, Sarana dan Prasarana,…

16 jam yang lalu

LSAK Desak Presiden Copot Jaksa Agung, Sebut Jadi Tolok Ukur Independensi Pengusutan Dugaan Korupsi Eks Jampidsus

MONITOR, Jakarta – Lembaga Studi Anti Korupsi (LSAK) mendesak Presiden segera mencopot Jaksa Agung ST.…

16 jam yang lalu

Kemnaker Petakan Kebutuhan Industri Jepang untuk Perluas Peluang Kerja bagi Tenaga Kerja Indonesia

MONITOR, Jakarta – Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) memetakan kebutuhan industri Jepang dalam upaya menyelaraskan penyiapan tenaga…

20 jam yang lalu

Komnas Haji: Skema Biaya Haji 2027 Populis tapi Berpotensi Mengganggu Keberlanjutan

MONITOR, Tangerang Selatan - Ketua Komnas Haji, Dr. H. Mustolih Siradj, S.H.I., M.H., menilai rancangan…

21 jam yang lalu