PERTANIAN

Potensi Bakteri Dalam Pengejdalian OPT

MONITOR, Jakarta – Produksi pertanian yang sangat rentan pada cuaca terkadang terhalang oleh serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT). Bagaimana upaya pengendalian hama menjadi salah satu faktor yang menentukan keberhasilan usaha tani. Kementerian Pertanian (Kementan) belakangan ini mendorong pengendalian OPT yang ramah lingkungan salah satunya dengan pemanfaatan bakteri menekan populasi hama namun tidak menimbulkan residu bagi lingkungan. Sehubungan dengan hal tersebut kementerian pertanian melalui Direktorat Jenderal Tanaman Pangan mengadakan Sosialisasi Bimbingan teknis daring propaktani Potensi Bakteri dalam pengendalian OPT yang di hadiri oleh akademisi dari IPIB dan UNPAD (26/5/2022)

Akademisi IPB, Ruly Anwar menyampaikan bahwa jenis bakteri agens hayati yang mampu menginfeksi serangga disebut bakteri entomopatagen. Infeksi bakteri pada serangga ini telah terjadi sejak lama, salah satunya adalah red coloration pada ulat sutera yang kemudian teridentifikasi sebagai Serratia marcescens.

“Jalan masuk bakteri kedalam tubuh serangga hama harus melalui proses makan serangga, Setelah masuk kedalam tubuh serangga, bakteri akan melipatgandakan dan memproduksi toksin, merusak dinding sel pencernaan, masuk kedalam darah mengakibatkan pendarahan, sehingga serangga mati dan ditemukan sejumlah bakteri dalam darah serangga.” Ungkap Ruly.

Mengapa mikroorganisme patogen hama kadang-kadang tidak disukai oleh petani? Karena petani tidak bisa melihat kematian serangga hama yang sangat nyata. Petani inginnya melihat serangga hama langsung mati “klepek-klepek” setelah dilakukan pengendalian.

“Penggunaan patogen serangga mengakibatkan serangga sakit. Serangga sakit biasanya akan kehilangan selera makan. Jika selera makan berkurang, maka kerusakan tanaman juga berkurang.Ini yang harus disepakati bersama-sama dengan petani, penggunaan patogen serangga dapat menurunkan populasi secara perlahan” tambah Ruly.

Pada kesempatan yang sama Abdul munif akademisi IPB menerangkan Selain penggunaan bakteri patogen serangga seperti Bacillus thuringiensis, ada bakteri dalam tubuh tanaman yang berpotensi dalam pengendalian OPT. Bakteri yang hidup dalam jaringan tanaman yang sehat tanpa menimbulkan gejala penyakit pada tanaman tersebut dan tanaman memperoleh keuntungan atau manfaat dari keberadaannya disebut bakteri endofit.

“Ada tanaman yang dapat hidup di tembok, kira-kira seperti inilah gambaran endofit. Tanaman mampu hidup meski tidak diatas tanah, mengapa? Karena tanaman memiliki bakteri yang berasosiasi dalam jaringan tanamannya.Bagaimana interaksi tanaman dengan bakteri endofit? Ada timbal balik yang saling menguntungkan. Tanaman bagi bakteri adalah tempat singgah dan sumber nutrisi. Apa yang didapat tanaman dengan keberadaan bakteri ini? Bakteri dapat memacu pertumbuhan tanaman, meningkatkan ketahanan tanaman terhadap OPT dan juga terhadap stress lingkungan” papar Abdul Munif.

Fitri Widiantini akademisi UNPAD menjelaskan Berbagai macam bakteri yang terdapat di alam berpotensi dalam pengendalian OPT. Bagaimana cara memperoleh bakteri tersebut?.

“kita membutuhkan strategi untuk mendapatkan bakteri antara lain pemilihan ekosistem, metode isolasi yang dipengaruhi oleh darimana bakteri didapatkan, dan yang terakhir melakukan skrining antagonisme dan efikasinya. Media isolasi dan kondisi pertumbuhan mempengaruhi jenis dan jumlah bakteri yang dapat diperoleh” Jelas Fitri.

Sementara itu, secara terpisah, Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Suwandi, juga terus mendorong dan mendukung kegiatan pengendalian OPT berbasis ramah lingkungan dengan menggunakan agens hayati sebagai bahan pengendaliannya.

“Dengan semakin meningkatnya kesadaran petani terhadap pentingnya budidaya tanaman sehat demi keberlanjutan pertanian, diharapkan juga kesejahteraan petani turut meningkat karenanya.”, tutup Suwandi.

Recent Posts

Kemenhaj Minta Jemaah Umtah Tenang Atas Terdampaknya Penerbangan Akibat Abu Vulkanik

MONITOR, Jakarta - Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia mengambil langkah antisipatif untuk memastikan keselamatan,…

12 jam yang lalu

Kementan Ajak Alumni Peternakan Jadi Penggerak Hilirisasi dan Kesejahteraan Peternak

MONITOR, Purwokerto – Kementerian Pertanian (Kementan) mengajak perguruan tinggi, alumni, dan dunia usaha memperkuat kolaborasi…

13 jam yang lalu

Panen Demplot Pupuk Hayati Cair Organik di Kabupaten Bandung Naikkan Produksi Padi

MONITOR, Bandung – Para petani di Ciparay Kabupaten Bandung sumringah. Produksi padi yang menerapkan pupuk…

16 jam yang lalu

Wamenhaj Tekankan Revitalisasi KBIHU dan Pelindungan Jemaah dari Travel Bermasalah

MONITOR, Yogyakarta - Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) Republik Indonesia menekankan pentingnya penguatan pelindungan…

20 jam yang lalu

Prodi K3 Polteknaker Raih Akreditasi Unggul dari LAM-PTKes

MONITOR, Jakarta - Program Studi Sarjana Terapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Politeknik Ketenagakerjaan (Polteknaker)…

1 hari yang lalu

Kemenhaj Gelar CAT PPIH 2027 Non Nakes Serentak, Gandeng BKN untuk Perkuat Transparansi

MONITOR, Jakarta — Kementerian Haji dan Umrah menggandeng Badan Kepegawaian Negara (BKN) dalam pelaksanaan Computer…

2 hari yang lalu