Di Masa Pandemi, BI Dorong Perbankan Realisasikan Open Banking

Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, dalam kegiatan BI Mengajar yang diselenggarakan secara virtual di Universitas Darusallam Gontor, Ponorogo, Jawa Timur. Kamis (05/08/2020).

MONITOR, Jakarta – Bank Indonesia (BI) mendorong perbankan merealisasikan open banking atau digitalisasi layanan perbankan kepada nasabah secara terbuka agar bisnisnya tidak ketinggalan karena kini menjadi kebutuhan pada masa pandemi COVID-19.

“Bank yang tidak melakukan digital banking atau open banking tentu saja model bisnisnya akan ketinggalan,” kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam diskusi daring di Jakarta, Selasa.

Bank sentral ini sejak Mei 2019 mendorong open banking sebagai bagian Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia 2025.

Perry mengatakan bahwa melalui open banking atau digitalisasi perbankan layanan bank bisa disambungkan dengan platform digital lain, di antaranya perusahaan teknologi keuangan (fintech) hingga perusahaan perdagangan daring atau e-commerce melalui Application Programming Interface (API), sehingga memberikan kemudahan layanan transaksi kepada nasabah.

Dalam kesempatan itu Gubernur BI juga memaparkan empat aspek yang perlu cermati perbankan dalam mengembangkan open banking, yaitu transformasi infrastruktur teknologi yakni semua sistem layanan perbankan saling terkoneksi misalnya terkait tresuri, kredit, hingga dana yang tersambung dengan data terkait dana, nasabah hingga petugas bank.

Aspek kedua, lanjut dia, membangun gudang data dari berbagai sistem informasi yang dimiliki bank di antaranya meliputi metadata deposan dan debitur.

Apakah metadata itu juga sudah dibangun dengan artificial intelligentbig data analytical, harus dikembangkan untuk mengolah berbagai data sehingga bisa berguna,” imbuh Gubernur BI.

Selanjutnya, aspek terkait pengembangan model bisnis berdasarkan sistem teknologi informasi dan metadata yang dimiliki bank hingga memberikan layanan interaktif secara daring dengan nasabah.

“Sehingga dulu nasabah harus ke bank buka rekening atau mengajukan kredit, sekarang banyak dilakukan hanya dengan jari melalui gadget. Inilah kenapa pelayanan perbankan meningkat,” katanya.

Aspek terakhir yakni mengubah pola pikir yang dilakukan dari jajaran level tertinggi perusahaan hingga bawahan dalam melalukan transformasi.

“Kalau pimpinan, para CEO, direksi mendrive dan di bawah milenial itu siap, middle manager harus mengubah mindset, mereka tahu bisnis perbankan tapi masalah kemampuan digital perlu terus dilakukan,” kata Perry.