PENDIDIKAN

KPAI Desak Kemendikbud Selesaikan Kurikulum Adatif di PJJ Fase Kedua

MONITOR, Jakarta – Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) menyisakan beban dan tantangan baru bagi anak, orangtua maupun pihak sekolah. Pada PJJ fase pertama, sebuah survei menyebutkan metode ini berjalan tidak efektif dan 77,8% responden siswa mengeluhkan kesulitan belajar dari rumah.

Adapun rinciannya sebanyak 37,1% siswa mengeluhkan waktu pengerjaan yang sempit sehingga lelah dan stress; 42% siswa kesulitan daring karena orangtua mereka tidak mampu membelikan kuota internet, dan 15,6% siswa mengalami kesulitan daring karena tidak memiliki peralatan daring, baik handphone, komputer PC, apalagi laptop.

Komisioner KPAI Bidang Pendidikan Retno Listyarti mengatakan, ketika anak-anak memilih berhenti sekolah akibat tidak memiliki akses untuk pembelajaran daring, maka banyak anak yang akhirnya diminta orangtuanya bekerja atau menikah, sehingga angka pekerja anak dan perkawinan anak berpotensi meningkat. Menurut survei social ekonomi nasional tahun 2018, kata Retno, kondisi ekonomi menjadi alasan utama 50,1% anak tak melanjutkan pendidikan. Sebagian besar dari mereka harus bekerja guna membantu orangtua.

Untuk mengatasi kerentanan yang berpotensi dialami anak-anak selama PJJ, maka Retno mendesak agar proses pembelajaran jarak jauh di fase pertama seharusnya sudah dievaluasi dan diperbaiki pada PJJ fase kedua. KPAI, kata Retno, pun mendorong Kemendikbud segera melakukan penyederhanaan kurikulum di semua jenjang pendidikan, TK sampai SMA/SMK.

“Kurikulum 2013 harus segera disederhanakan, disesuaikan dengan situasi darurat, sehingga diharapkan menjadi kurikulum adatif dengan Kompetensi dasar yang sudah dikurangi. Kemdikbud harus memilah dan memilih materi yang esensial dan dapat dilaksanakan anak ketika belajar dari rumah,” ujar Retno Listyarti, dalam keterangannya, Senin (27/7).

Tak hanya itu, KPAI juga mendorong Pemerintah Pusat melalui Kemenkominfo RI agar segera membuat kebijakan pengratisan internet selama PJJ pada 6 bulan ke depan. Menurut Retno, banyak anak dari keluarga menengah ke bawah tak mampu melaksanakan pembelajaran daring akibat tak mampu membayar kuota internet.

Recent Posts

Menjangkau Siberut Memperkuat Wirausaha Terdampak Bencana

MONITOR, Jakarta - Di tengah bentang Samudra Hindia, Pulau Siberut di Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatra…

10 jam yang lalu

Guru Besar UIN Jakarta: Subkultur Pesantren Menjadi Identitas dalam Sistem Pendidikan Nasional

MONITOR - Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Dr. H. Suwendi, M.Ag., menegaskan bahwa…

14 jam yang lalu

Analis: Listyo Sigit di KSP Perkuat Perspektif Keamanan dalam Pengawalan Pembangunan

MONITOR, Jakarta - Perpindahan Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo dari posisi Kapolri ke Kepala Staf…

15 jam yang lalu

Panen Padi Temanggung Tembus 10,2 Ton/Ha, Komisi IV DPR dorong Pemupukan Berimbang

MONITOR, Temanggung - Produktivitas padi di demplot seluas 5 hektare di Desa Plosogaden, Kecamatan Candiroto,…

16 jam yang lalu

Kemenhaj–Kemendagri Padankan Data Jemaah Haji, Pastikan Antrean Lebih Akurat

MONITOR, Jakarta - Dalam upaya meningkatkan akurasi, transparansi, dan kualitas pelayanan ibadah haji, Menteri bersama…

21 jam yang lalu

Analis Meyakini Kapolri Baru Mampu Melanjutkan Transformasi Polri Berkesinambungan

MONITOR - Transformasi Polri tidak boleh ikut berganti setiap kali tongkat komando berpindah tangan. Di…

21 jam yang lalu