PERISTIWA

Muhammadiyah Kehilangan Yunahar Ilyas, Figur Ulama Santun dari Bukittinggi

MONITOR, Yogyakarta – Tali persaudaraan antara Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir dengan Petinggi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Buya Yunahar Ilyas terjalin cukup lama. Haedar menyebut kedekatan itu menguat sejak tahun 1980-an.

Tokoh ulama asal Bukittinggi, Sumatera Barat, yang lahir pada 22 September 1956 silam itu telah ‘pulang’ mendahului sahabatnya pada Kamis, 2 Januari 2020 pukul 23.47 WIB di RS Sarjito Yogyakarta. Jenazah almarhum dilepas di Masjid Gedhe Kauman dan dikebumikan di Pemakaman Muslim Karangkajen, Yogyakarta, pukul 13.00 WIB.

Banyak kalangan merindukan sosoknya. Terbukti, ribuan jamaah memadati masjid dan berbondong-bondong melepas kepergiannya. Haedar mengatakan, alim ulama yang dikenal sangat santun dan bersahaja ini mewariskan keteladanan bagi banyak orang.

“Saya telah lama berkawan dan berinteraksi secara intens dengan Prof Yunahar sejak tahun 1980an, banyak teladan yang baik yang dapat diambil dari beliau,” tutur Haedar Nashir, dalam keterangan tertulisnya, Jumat (3/1).

Ia mengakui, Yunahar sangat cakap dalam penguasaan ilmu agama khususnya di bidang tafsir. Tak heran, ia pun diamanahi sebagai Ketua Bidang Tarjih dan Tajdid di struktural Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 2015-2020.

Selain itu, Haedar mengenang sosok Yunahar sebagai ulama yang ramah dan mudah bersahabat dengan banyak kalangan tanpa tebang pilih. Dalam syiar agama sekalipun, Yunahar sangat berhati-hati dalam bertutur kata, berpikir hingga bersikap. Alhasil, banyak umat menyukai keramahannya ketika berdakwah.

“Ramah dan mudah bersahabat, serta kehati-hatian dalam bersikap sehingga seksama dan bijaksana,” ujarnya.

Bagi Haedar, sosok Wakil Ketua Umum MUI tersebut banyak meninggalkan warisan keilmuan penting seperti buku-buku hingga tulisannya seputar tarikh di majalah Suara Muhammadiyah. Meski menderita gangguan kesehatan, Yunahar tetap rutin mengajarkan jamaah untuk belajar ilmu tafsir baik di gedung PP Muhammadiyah Yogyakarta maupun Jakarta.

“Kita sungguh kehilangan figur ulama yang santun dan menjunjung akhlak mulia. Beliau rutin mengajar tafsir di gedung PP Muhammadiyah Yogyakarta dan Jakarta serta dikenal ringan hati untuk memberi pengajian ke manapun,” ucap suami Siti Noordjannah Djohantini ini.

“Semoga semuanya menjadi amal jariyah yang terus mengalir baginya,” doa Haedar.

Selamat jalan, Buya Yunahar Ilyas.

Recent Posts

IPW: Wacana Kapolri dari Kalangan Sipil Sarat Muatan Politik dan Berpotensi jadi Alat Tawar Pembahasan RUU Polri

MONITOR, Jakarta – Indonesia Police Watch (IPW) menilai usulan Menteri Hak Asasi Manusia, Natalius Pigai,…

7 jam yang lalu

FEBI dan Pusat Bisnis UID Gelar Market Day, Bangun Jiwa Wirausaha untuk Indonesia Emas 2045

MONITOR, Depok – Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) bersama Pusat Bisnis Universitas Islam Depok…

11 jam yang lalu

AHU Kemenkum Sahkan Yayasan Pendidikan, UIN Jakarta Fokus Komitmen Tingkatkan Mutu Pendidikan

MONITOR, Tangerang Selatan – Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta menegaskan bahwa legalitas Yayasan…

17 jam yang lalu

LPDB Kawal Hilirisasi Tebu, Koperasi Ambil Peran Strategis di Industri Gula Nasional

MONITOR, Kediri - Guna memperkuat industri gula nasional berbasis koperasi semakin menunjukkan langkah nyata. Menteri…

17 jam yang lalu

Kemnaker Buka Pendaftaran Sertifikasi Kompetensi bagi Peserta MagangHub Batch 2

MONITOR, Jakarta – Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) membuka pendaftaran sertifikasi kompetensi bagi peserta Pemagangan Nasional (MagangHub)…

17 jam yang lalu

Kiai Manarul Hidayat Restui Gus Hery Haryanto Azumi Maju Calon Ketua Umum PBNU pada Muktamar ke-35

MONITOR, Depok – Menjelang pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35, dukungan terhadap munculnya kader-kader terbaik…

1 hari yang lalu