PERTANIAN

Pemerintah Pusat dan Daerah Harus Harmonis dorong Sektor Kelautan jadi Lumbung Pangan Nasional

MONITOR, Samarinda – Ketua Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI), Prof Rokhmin Dahuri mengatakan peran sektor kelautan dan perikanan dalam ketahanan/kedaulatan pangan nasional akan semakin strategis seiring dengan semakin berkurangnya lahan pertanian dan peternakan. Untuk itu diperlukan harmonisasi kebijakan dan regulasi pemerintah pusat dan daerah.

“Salah satu dampak pembangunan adalah berkurangnya lahan pertanian dan peternakan. Terkait hal itu, sektor kelautan dan perikanan seharusnya lebih dimaksimalkan untuk menjaga ketahanan dan kedaulatan pengan,” demikian disampaikan mantan menteri kelautan dan perikanan itu saat menjadi narasumber Seminar Nasional “Sinergitas Perdagangan Internasional, Hukum Kebijakan Ekspor Perikanan dan Kelautan Dalam Upaya Pembangunan Perekonomian Indonesia” yang diadakan oleh HIMASEPA, FPIK Universitas Mulawarman (Unmul), di  Gedung Serbaguna, Rektorat Unmul,  Samarinda, Rabu (23/10/2019).

Menurut Prof. Rokhmin, sekitar 60 persen  total asupan protein hewani rakyat Indonesia berasal dari ikan dan produk perikanan (Puslitbang Gizi, 2012). Seiring dengan meningkatnya kesadaran publik tentang gizi ikan (seafood) yang lebih sehat dan baik ketimbang red meat (daging merah), maka, konsumsi ikan perkapita dan permintaan terhadap ikan dan  produk perikanan akan terus meningkat.

Karena itu, kata guru besar kelautan dan perikanan IPB itu, kebijakan dan regulasi pemerintah nasional dan daerah harus harmonis dan kondusif bagi terwujudnya sektor perikanan RI yang maju, tangguh, mensejahterakan, dan berkelanjutan.  

“Perlu revisi atau pencabutan semua Permen Kementerian Perikanan (KP) yang terbit sejak Nopember 2014 – Maret 2019, sebab hampir semuanya menghambat kemajuan dan kesejahteraan sektor KP,” ujar Rokhmin yang membawakan makalah berjudul “Peningkatan ekspor perikanan menuju neraca perdagangan  positif”.

Ia menyebutkan, Indonesia merupakan  negara kepulauan terbesar di dunia, dengan tiga kekuatan utama: wilayah laut (termasuk ZEEI) meliputi ¾ wilayah NKRI;  potensi ekonomi kelautan yang luar biasa besar, namun hingga kini belum dimanfaatkan secara optimal; dan posisi geokonomi dan geoplitik Indonesia yang sangat strategis.

“Jika bidang kelautan (kemaritiman) didayagunakan dan dikelola secara tepat dan benar (berbasis sains dan teknologi serta manajemen modern),  niscaya bidang kelautan mampu berkontribus secara signifikan di dalam mengatasi segenap permasalahan dan tantangan bangsa, dan menghantarkan Indonesia sebagai negara maju, adil-makmur, dan berdaulat, paling lambat pada 2045,” tandasnya.

Recent Posts

Menag Apresiasi Kerja Kehumasan ASN Kemenag atas Raihan Top GPR Figure Award 2026

MONITOR, Jakarta - Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menyampaikan apresiasi kepada seluruh Aparatur Sipil Negara…

1 jam yang lalu

Jasa Marga Raih Top 10 BUMN Layanan Terbaik dalam Danantara Indonesia CX100 Award 2026

MONITOR, Jakarta - PT Jasa Marga (Persero) Tbk berhasil meraih peringkat 10 dalam ajang Danantara…

1 jam yang lalu

Mahasiswa UIN Jakarta dan UI ungkap Model Keberlanjutan Wakaf Rumah Sakit di GLOW 2026

MONITOR, Jakarta - Integrasi tata kelola syariah dan model bisnis hibrida menjadi kunci keberlanjutan wakaf…

19 jam yang lalu

Kemnaker Buka Seleksi Administratif Calon Hakim Ad Hoc PHI hingga 22 November

MONITOR, Jakarta — Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) mengumumkan pembukaan Seleksi Administratif Calon Hakim Ad Hoc Pengadilan…

22 jam yang lalu

Teken MoU, Kemenag dan Al-Azhar Buka Peluang Double Degree hingga Riset Bersama

MONITOR, Jakarta — Kementerian Agama (Kemenag) Republik Indonesia dan Universitas Al-Azhar Asy-Syarif, Mesir, memperkuat kemitraan…

1 hari yang lalu

Kemenhaj Imbau Jemaah Umrah Tingkatkan Kewaspadaan di Tengah Situasi Timur Tengah

MONITOR, Jakarta - Menyikapi perkembangan situasi keamanan di kawasan Timur Tengah akhir-akhir ini, Kementerian Haji…

1 hari yang lalu