POLITIK

PSI Ungkap Drama Pemulangan 14 WNI Korban Perdagangan Orang di RRC

MONITOR, Jakarta – Rasa syukur dan haru diungkapkan Ketua Umum PSI Grace Natalie setelah sekitar sembilan perempuan korban perdagangan manusia di RRC dipulangkan dan bertemu dengan pihak keluarga.

Grace, begitu sapaan politikus PSI ini, tampak senang para korban yang rata-rata masih berusia belasan tahun ini akhirnya dipulangkan dengan selamat oleh Negara. Ia pun mengucapkan rasa terimakasih kepada sejumlah pihak, termasuk Presiden Joko Widodo, atas keberhasilan ini.

“Terima kasih pak Jokowi, Kemenlu, Kemensos, Rumah Aman, Kepolisian Republik Indonesia, dan semua pihak yang telah membantu proses pemulangan ini,” kata Grace Natalie, Sabtu (7/9).

Berikut ini kronologi yang diulas kembali mantan Jurnalis ini tentang proses pemulangan perempuan korban perdagangan orang yang cukup berliku tajam.

Setahun tertahan di RRC

Setahun lebih, para korban tertahan nasibnya di RRC. Mirisnya lagi, mereka kerap menerima perlakuan kasar, tidak menyenangkan bahkan tidak diperbolehkan pulang.

Dikatakan Grace, para keluarga korban ini meminta bantuan kepada PSI setahun yang lalu melalui Muannas Alaidid.

“Kami membawa mereka ke sejumlah pihak terkait namun harapan untuk bisa membawa mereka pulang sepertinya amat tipis. Padahal Polda Jabar sudah menangkap pelaku yang terlibat dalam transaksi perdagangan manusia ini,” terang Grace Natalie.

Drama pemulangan mencekam

PSI, yang kemudian turut bertanggungjawab atas nasib para korban ini ikut was-was. Grace menyebut drama pemulangan para korban sangat mencekam. Para korban ini memainkan perannya demi keluar dari “penjara” majikannya.

Ada yang pura-pura mandi, lalu kabur ketika pintu pagar terbuka bahkan hanya mengenakan daster dan handuk. Adapula yang berani loncat dari lantai 2 rumah tinggalnya. Ada juga yang nekad menerobos masuk ke hutan. Walhasil, para korban tiba di KBRI dengan selamat.

Akan tetapi, masalah tidak berhenti sampai disitu saja. Grace mengatakan para korban tidak bisa langsung pulang karena beberapa kendala yang dihadapi.

“Masalah belum berhenti sampai disitu. Mereka tetap belum bisa pulang karena masih terikat pernikahan dan tidak ada dokumen perjalanan,” tuturnya.

“11 bulan para perempuan ini tertahan di KBRI,” tambahnya lagi.

Namun beruntung, berkat bantuan Pemerintah, 14 WNI korban perdagangan orang bisa selamat pulang ke Tanah Air.

“Syukurlah pada 18 Juli 2019 kami berkesempatan menyampaikan hal ini kepada pak Jokowi . Beliau langsung memberi instruksi. Alhasil, 14 perempuan berhasil pulang ke Tanah Air bertemu kembali dengan keluarga,” pungkas Grace.

Recent Posts

Menhaj: Pengelolaan Dana Haji Harus Aman dan Produktif

MONITOR, Jakarta - Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf menegaskan pentingnya keseimbangan antara keamanan…

2 jam yang lalu

Rokhmin Dahuri: Karhutla Bisa Diantisipasi, Jangan Tunggu Bencana Baru Bergerak

MONITOR, Jakarta - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) harus dicegah sebelum meluas, bukan baru ditangani…

1 hari yang lalu

GPK Desak Polemik Pemakzulan Gibran Diakhiri, DPR Diminta Fokus pada RUU Perampasan Aset dan Pemilu

MONITOR, Jakarta - Gerakan Pemuda Ka’bah (GPK) meminta DPR dan pemerintah tidak membiarkan polemik pemakzulan…

1 hari yang lalu

Ekonomi Biru Bisa Buka 45 Juta Lapangan Kerja, Hilirisasi Jadi Kunci

MONITOR, Jakarta - Indonesia memiliki potensi ekonomi kelautan yang diperkirakan mencapai 1,4 triliun dolar AS…

1 hari yang lalu

Menag Apresiasi Kerja Kehumasan ASN Kemenag atas Raihan Top GPR Figure Award 2026

MONITOR, Jakarta - Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menyampaikan apresiasi kepada seluruh Aparatur Sipil Negara…

2 hari yang lalu

Jasa Marga Raih Top 10 BUMN Layanan Terbaik dalam Danantara Indonesia CX100 Award 2026

MONITOR, Jakarta - PT Jasa Marga (Persero) Tbk berhasil meraih peringkat 10 dalam ajang Danantara…

2 hari yang lalu