Selain Kaya Gizi, Nilai Jamur Susu Juga Prospektif

1010
Jamur Susu

MONITOR, Jakarta – Jamur semakin digemari masyarakat karena bergizi tinggi dan memiliki rasa eksotik. Selain itu, budidayanya pun terbilang mudah dan ramah lingkungan. Media tanamnya memanfaatkan bahan baku limbah seperti jerami, serbuk gergaji, tongkol jagung, tangkos kelapa sawit, batang tebu hingga daun pisang kering. Sampai saat ini terdapat tiga jenis jamur yang banyak dikembangkan petani yaitu jamur tiram, jamur merang dan jamur kuping.

Kini hadir varietas baru yang unik dan prospektif di iklim tropis, yaitu jamur susu atau dikenal milky white mushroom (Calocybe indica). Jamur ini memiliki rasa lezat dan bertekstur lembut serta diperkaya kalsium, kalium, fosfor dan zat besi.

“Jamur itu dibudidayakan dengan ramah lingkungan. Media tanamnya dari limbah pertanian dan perkebunan dan tidak menggunakan pupuk maupun pestisida kimia buatan. Bahkan limbah media tanam jamur dapat diolah lagi menjadi pupuk organik,” ungkap Sri Setiati, Kasie Penerapan Teknologi Sayuran Daun dan Jamur saat kunjungan ke Desa Dwi Tunggal Jaya, Kecamatan Banjar Agung Kabupaten Tulang Bawang – Lampung.

Kepala Bidang Hortikultura dari Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Lampung, Muverdi mengungkapkan saat ini Petani Jamur di Lampung menyukai budidaya jamur tiram karena mudah. Selain itu bahan baku media tanamnya mudah tersedia dan banyak diminati konsumen.

“Dengan pengembangan varietas jamur susu berarti pilihan petani untuk membudidayakan jamur bertambah dan menambah peluang bisnisnya,” ujar Muverdi.

Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Kementerian Pertanian, Moh Ismail Wahab, saat dihubungi (20/3) mengatakan pihaknya terus mendorong pengembangan jenis-jenis jamur yang bernilai komersial tinggi.

“Jenis jamur yang kita kenal bernilai ekonomis tinggi dan bisa diekspor seperti champignon umumnya masih diproduksi oleh swasta atau industri. Kalau untuk petani rata-rata belum menguasai teknologi budidayanya. Petani jamur kita paling banyak masih memilih jenis merang, tiram dan kuping,” jelas Ismail.

Ismail melanjutkan, “Sudah saatnya petani menambah variasi jenis jamur yang bernilai ekonomi tinggi dan bergizi. Jamur susu sangat potensial dikembangkan di Indonesia, selain karena cocok untuk iklim tropis juga mudah cara budidayanya. Di India malah sudah dikembangkan sejak 1998. Yang pasti nilai ekonomisnya tinggi sehingga sangat menguntungkan bagi petani. Celah pasarnya pun masih terbuka luas. Kami siap dukung pengembangannya.”

Eko Suwondo, Salah satu Penangkar benih jamur Susu di Desa Dwi Tunggal Jaya, Kecamatan Banjar Agung Kabupaten Tulang Bawang – Lampung mengungkapkan, “Saya tertarik budidaya jamur ini karena belum banyak dibudidaya secara komersial di Indonesia, jadi belum banyak juga petani dan konsumen yang mengenalnya. Jamur ini menyukai suhu tropis, sekitar 30 hingga 320C. Fisiknya gemuk, batang dan tudung yang tebal dan warnanya putih bersih. Sangat menarik.”

Ukuran jamur susu bisa disetel besar atau kecil tergantung besar kecilnya baglog yang ditempati. Hal ini berkaitan dengan jumlah cadangan makanan yang disediakan. Baglog yang berukuran besar 20 kg dapat menghasilkan 4 kg jamur.

“Jamur ini juga memiliki daya simpan yang tinggi pada suhu kamar. Dapat bertahan selama 5 – 7 hari, sehingga tahan dalam pengangkutan,” terang Eko.

Selama ini jamur susu hasil produksi Eko baru dipasarkan secara terbatas ke konsumen perkantoran setempat dengan harga Rp 40 ribu per kg. Pengalaman Eko dari 10 baglog ukuran tinggi 40 cm menghasilkan 12 kg jamur pada panen pertama. Jamur milky dapat dipanen dua kali. Modal satu bagloglog kurang lebih Rp 20 ribu.

“Setiap kali menawarkan biasanya langsung laris manis habis dibeli. Konsumen sangat menyukainya. Ini menandakan prospek ke depan masih terbuka sangat luas dan menguntungkan,” pungkasnya. Anda tertarik?