Categories: NASIONALPOLITIK

Tahun Politik, ICMI Ingatkan Masyarakat agar Tidak Kubu-kubuan

MONITOR, Jakarta – Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto belakangan sikapnya dinilai sedang menirukan strategi gaya kampanye dari Presiden Amerika Serikat yakni Donald Trump.

Hal itu dikarenakan, Pidato mantan komandan jendral Kopasus itu cenderung berisi makna pesimisme dan kekhawatiran. Sehingga sejumlah kalangan menduga hal itu sama seperti yang pernah dilakukan Donald Trump pada masa kampanye pilpres AS saat itu.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Umum Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) Jimly Asshiddiqie mengatakan, kalau tahun 2018 dan 2019 merupakan momentum politik yang hangat. Kata dia, masing-masing kubu pendukung pasangan calon akan terbelah dua. Namun, menurutnya hal itu adalah hal yang biasa.

“Satu kubu menggambarkan masa depan Indonesia ini positif dan optimis sekali. Kubu yang lain menggambarkan Indonesia ini pesimis sekali, negatif sekali. Nah itu biasa. Goreng-menggoreng kaya begitu biasa,” kata Jimly di Kantor ICMI Jalan Proklamasi, Kawasan Menteng, Jakarta Pusat, (6/4).

Selain itu, ia juga mengatakan kalau pidato Prabowo yang berisi makna negatif dan pesimisme itu diartikan sebagai peluru untuk meraih suara pada Pilpres 2019.

“Biasanya calon pejabat dan mantan pejabat selalu berfikir negatif, maksudnya entar kalau saya yang dipilih nah kita beresin, gitu,” tukasnya.

Namun, Jimly menegaskan, kalau serangan pesimisme dan negatif tersebut jangan sampai merujuk pada pribadi seseorang. Alangkan baiknya serangan tersebut dimaksudkan untuk mempertanyakan gagasan-gagasan dari kubu lawan.

“Yang penting jangan nyerang pribadi, dia nyerang gagasan oke. Nah maka pilihan-pilihan kata itu jangan bersifat pribadi. Tapi itu bagian dari kebudayaan demokrasi kita juga. Kita kan masih baru, tingkat peradaban demokrasi kita masih harus ditingkatkan terus,” ujarnya 

Lebih dari itu, Jimly yang merupakan mantan ketua Mahkamah Konstitusi (MK) itu, menghimbau, agar masyarakat tidak perlu merasa khawatir bahkan jangan sampai ikut-ikutan terbelah dua.

Sehingga, terlihat menjadi kubu-kubuan. Menurutnya, masyarakat harus bisa menikmati perbedaan pendapat yang kian kencang pada putaran pilpres 2019 mendatang.

“Jadi kita nggak usah terlalu terganggu, biar kita menikmati perbedaan pendapat antara kubu-kubu itu,” tandasnya.

Recent Posts

Rokhmin Dahuri: Revisi UU Kehutanan Kunci Atasi Deforestasi dan Perkuat Ekonomi Hijau

MONITOR, Jakarta – Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Prof. Rokhmin Dahuri, menegaskan…

5 jam yang lalu

Mahasiswa UNUSIA Gugat UU Pesantren ke MK, Desak Negara Hapus Syarat Anggaran Berdasarkan Kemampuan Keuangan

MONITOR, Jakarta – Mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) mengajukan uji materiil atau Judicial Review…

6 jam yang lalu

Sampaikan Pesan Presiden Prabowo, Menaker Serahkan Instrumen Asli Ratifikasi Konvensi ILO 188 kepada Dirjen ILO

MONITOR, Jenewa — Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli menyampaikan pesan Presiden Prabowo Subianto tentang pentingnya kehadiran…

8 jam yang lalu

Antisipasi Kelelahan Jemaah Pasca Armuzna, Klinik Satelit Madinah Siaga 24 Jam

MONITOR, Madinah – Kementerian Haji dan Umrah RI melalui Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab…

8 jam yang lalu

FH Unusia Dorong Kepailitan Berbasis Syariah Diselesaikan di Peradilan Agama

MONITOR, Jakarta – Bergulirnya pembahasan revisi Undang-Undang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) kembali…

8 jam yang lalu

Revisi UU Polri Disahkan, IPW Ingatkan Pentingnya Regenerasi dan Pengawasan

MONITOR, Jakarta - Ketua Indonesia Police Watch (IPW), Sugeng Teguh Santoso, menilai perubahan ketiga atas…

21 jam yang lalu