Klarifikasi Bumi Sarana Migas terkait Proyek Terminal Regasifikasi LNG Bojonegara

MONITOR, Jakarta – PT Bumi Sarana Migas (BSM) – anak perusahaan Kalla Group bersama dua perusahaan Jepang sejak 2013 mengajak kerjasama Pertamina dan PLN dalam pembangunan infrastruktur Proyek Terminal Regasifikasi LNG (liquefied natural gas) dengan kapasitas 500 mmscfd di Bojonegara, Banten dengan model bisnis private public partnership (PPP).

“Sejak 2013 kami menginisiasi Pertamina untuk membangun proyek infrastruktur Terminal Regasifikasi LNG dengan model PPP. Kerja sama ini murni business to business untuk mengantisipasi defisit gas di Jawa bagian Barat.

Dalam skema kerja sama ini BSM menyerahkan sepenuhnya offtaker LNG kepada Pertamina, namun dalam perjalanannya PLN juga dilibatkan,”  kata CEO Kalla Group Solihin Kalla, Senin (30/4), di Jakarta.

Solihin menjelaskan BSM telah menawarkan kepemilikan saham kepada Pertamina dan PLN sebesar 15% dalam proyek  pembangunan infrstruktur terminal regasifikasi LNG di Bojonegara. Pembahasan saham itu dibahas sekitar akhir 2016, namun hingga saat ini belum diketahui perkembangan soal penawaran kepemilikan saham kepada kedua BUMN tersebut. “BSM saat ini  memiliki saham 50%, Tokyo Gas dan Mitsui 35%, sisanya 15% ditawarkan kepada  Pertamina dan PLN di Proyek. Bahkan kami membuka kesempatan peningkatan kepemilikam saham BUMN hingga 25%.  Jadi ini bukan soal bagi-bagi fee seperti yang diberitakan di banyak media.

Dia menegaskan walaupun Pertamina dan PLN tidak memiliki controlling share di proyek kerjasama tersebut, namun kondisi pasar gas di Indonesia, untuk pipa distribusi gas didominasi kepemilikannya oleh Pertamina dan PGN. Sementara konsumsi terbesar atas gas adalah PLN,  maka praktis BUMN sebagai offtaker dari Terminal Bojonegara telah mempunyai control atas keberadaan proyek tersebut.

Sebelumnya mantan Dirut Pertamina  Elia Masa Manik menjanjikan akan meninjau ulang kerjasama dengan Pertamina dengan joint venture BSM, Tokyo Gas dan Mitsui. Namun, hingga saat ini belum ada update apapun dari hasil review tersebut.

Sementara itu, dia menjelaskan bahwa pembangun proyek infrastruktur terminal regasifikasi LNG itu berdasarkan data Kementerian ESDM dan kajian Wood MacKenzie mengenai Outlook Suplai Gas tahun 2013 – 2030.  Data tersebut menunjukan bahwa Jawa bagian Barat akan mengalami defisit neraca gas pada 2023 yang disebabkan oleh berkurangnya dan akan habisnya (depletion) cadangan gas dari Sumatera serta meningkatnya permintaan akan kebutuhan gas.

Mitra dari Jepang,  Tokyo Gas dan Mitsui digandeng BSM dalam joint venture itu karena memiliki pengalaman di bidang LNG dan kemampuan kapasitas pendanaannya. Mengingat nilai investasi Proyek Terminal Regasifikasi LNG di Bojonegara  ini cukup besar sekitar Rp10 triliun.

Rencananya proyek ini akan dibiayai oleh pemenuhan modal pemegang saham serta pinjaman dari Lembaga Keuangan Jepang, yang terdiri dari Lembaga Keuangan Pemerintah Jepang dan Perbankan Jepang. “Untuk kajian awal proyek LNG di Bojonegara ini saja Konsorsium BSM, Tokyo Gas dan Mitsui sudah mengeluarkan biaya sebesar US$20 juta. Jadi kami tidak hanya sekadar berkontribusi di lahan seluas 30 hektare saja.”

Dukungan dan kesiapan mitra dari Jepang ini memberikan kemampuan kepada terminal untuk melayani kebutuhan gas di Tanah Air dengan biaya regasifikasi yang lebih murah, dibanding fasilitas regasifikasi yang ada pada saat ini. BSM menawarkan biaya regasifikasi sebesar US$1,2 US per MMBTU yang merupakan harga biaya termurah dibandingkan dengan pelaku di industri tersebut. Dengan demikian proyek ini sejalan dengan rencana pemerintah untuk menurunkan harga gas dalam negeri.

Dengan proyek kerja sama ini, jelas Solihin, kedua BUMN tersebut tidak perlu mengeluarkan dana yang sangat besar, tetapi tetap memiliki sebagian aset infrastruktur gas tersebut. Selain itu, kedua BUMN tersebut juga dapat mengontrol operasional di proyek tersebut, karena produksi Terminal Regasifikasi LNG sesuai dengan kebutuhan pasokan dan permintaan perusahaan plat merah tersebut.

Ari Sebagai Koordinator Senior

Solihin menjelaskan, proyek di Bojonegara ini merupakan gagasan dari Kalla Group yang kemudian ditawarkan kerjasama kepada PT Pertamina (Persero) pada tahun 2013.  Proyek infrastruktur Terminal Regasifikasi LNG ini akan dibangun dengan tingkat kehandalan yang tinggi serta kompetitif dibanding dengan terminal yang ada di Indonesia dan di regional.

Untuk itu, katanya, pada tahun 2013 BSM meminta Ari Soemarno bergabung sebagai Koordinator Senior Proyek LNG di Bojonegara, Banten. Proyek terminal regasifikasi LNG ini akan menjadi salah satu cara mengefisiensikan pendistribusian gas.  ”Penunjukan Pak Ari sebagai Kalla Group Senior LNG Project Coordinator didasarkan pada profesionalitas dan keahlian beliau yang sudah puluhan tahun menggeluti sektor LNG. “

Menurut Solihin, proyek terminal regasifikasi LNG di Bojonegara dibangun untuk mengantisipasi ancaman defisit gas di Jawa bagian Barat dan adanya kesiapan lahan yang  dimiliki oleh anak perusahaan Kalla Group sejak tahun 1990-an. Rencana pembangunan proyek ini sejalan dengan keinginan pemerintah, agar perusahaan swasta mau berpartisipasi dalam pembangunan infrastruktur.

Setelah melalui diskusi dan kajian bisnis di internal Kalla Group yang dipimpin oleh Senior LNG Project Coordinator yang berpengalaman, maka  pada tahun 2013 diputuskan untuk menunjuk salah satu Konsultan Teknik dari Jepang yang telah berpengalaman dan memiliki teknologi terbaik, dalam merancang bangun Terminal Regasifikasi LNG, untuk melakukan studi kelayakan pendirian Terminal Regasifikasi LNG. Hasil kajian Konsultan Teknik menunjukan bahwa lokasi tersebut sangat ideal untuk dimanfaatkan sebagai Terminal Regasifikasi LNG di darat.

Menurut Solihin, pada 12 Mei 2014 MoU kerjasama BSM dan Pertamina ditandatangani dan kedua pihak setuju untuk melakukan joint study. BSM setuju untuk mengalokasikan 30 Ha lahan dan mengajak Tokyo Gas Co Ltd dan Mitsui untuk bermitra dan membentuk joint venture Terminal Regasifikasi dengan kapabilitas pendanaan, teknologi, dan operasional pengelolaan terminal dan distribusi.

Dia menambahkan pada 1 April 2015 Pertamina telah meneken pokok-pokok kesepakatan (head of agreement/HoA) dengan BSM untuk membangun terminal penyimpanan dan regasifikasi LNG Bojanegara senilai USD500 juta. Dari hasil kajian lebih dalam diputuskan bahwa Pertamina harus mengamankan pelanggan terbesarnya, yaitu PLN. Oleh sebab itu PLN sebagai off-taker diajak dalam kepemilikan Proyek LNG di Bojonegara dan pembahasan terus berlanjut hingga awal tahun lalu.