MONITOR, Bantul – Produksi padi pada demplot seluas 5 hektare yang dikembangkan Kelompok Tani Lestari Nogosari, Kelurahan Trirenggo, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, menembus lebih dari 10 ton gabah per hektare.
Capaian tersebut tercatat pada perlakuan pemupukan berimbang dengan komposisi 70 persen pupuk sintetis dan pupuk hayati cair (PHC) Pureplant sebanyak 6 liter per hektare. Berdasarkan laporan hasil panen Kelompok Tani Lestari Nogosari yang diterima pada Kamis (17/9/2026), produktivitas mencapai 10.097 kilogram per hektare.
Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan dua perlakuan lainnya. Demplot dengan penggunaan 100 persen pupuk kimia menghasilkan 6.624 kilogram per hektare, sedangkan penggunaan 100 persen pupuk kimia yang ditambah PHC Pureplant menghasilkan 7.534 kilogram per hektare.
Ketua Gabungan Kelompok Tani Gemah Ripah Kelurahan Trirenggo, Sunarya, mengatakan pertumbuhan tanaman pada pola pemupukan berimbang menunjukkan hasil yang baik.
“Hasilnya bagus sekali, anakan mencapai 55 anakan dan bulirnya banyak,” kata Sunarya yang membina Kelompok Tani Lestari Nogosari.
Jika dibandingkan dengan produktivitas padi yang selama ini berada di kisaran 7 ton per hektare di kawasan Trirenggo, hasil demplot tersebut menunjukkan peningkatan sekitar 3 ton atau lebih dari 40 persen.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bantul Joko Waluyo berharap pola budidaya yang diterapkan dalam demplot tersebut dapat diuji dan dikembangkan di wilayah lain.
Menurut dia, perluasan praktik budidaya yang mampu meningkatkan produktivitas dapat berkontribusi terhadap peningkatan produksi padi Kabupaten Bantul, termasuk membuka peluang surplus yang dapat dipasok ke daerah lain.
Program demplot pemupukan berimbang tersebut merupakan kolaborasi pimpinan dan anggota Komisi IV DPR RI dengan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, Direktorat Pembenihan Kementerian Pertanian, PT Pupuk Indonesia (Persero), Perkumpulan Insan Tani dan Nelayan Indonesia (Intani), PT Intani Bumi Lestari, serta PT Indoraya Mitra Persada 168.
Dalam program tersebut, PHC Pureplant dan pembenah tanah organik (PTO) HumicGen digunakan sebagai bagian dari perlakuan budidaya. Demplot dikembangkan masing-masing seluas 5 hektare di Bantul, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, dan Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, dengan total luasan 15 hektare.
Program tersebut ditujukan untuk mendukung peningkatan produktivitas pertanian dan swasembada pangan nasional secara berkelanjutan. Lokasi demplot berada di wilayah binaan anggota Komisi IV DPR RI, yakni Siti Hediati di Bantul, Panggah Susanto di Temanggung, dan Dadang Naseer di Kabupaten Bandung.
Panen demplot di Bantul dilaksanakan pada Selasa (15/9/2026) oleh Gabungan Kelompok Tani Gemah Ripah Trirenggo. Kegiatan tersebut dihadiri Direktur Pembenihan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Ladiyani Retno Widowati, Direktur Pupuk Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian Kementerian Pertanian Syamsudin, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bantul Joko Waluyo, Manajer Senior Wilayah DIY-Jateng PT Pupuk Indonesia Jeff Narapati, Lurah Trirenggo Ernawati Kusumaningsih, Direktur Utama PT Indoraya Mitra Persada 168 Atik Chandra, serta Ketua Umum Intani Guntur Subagja Mahardika.

Direktur Pupuk Kementerian Pertanian Syamsudin mengapresiasi kolaborasi penerapan pemupukan berimbang tersebut. Ia menilai peningkatan produktivitas hingga mencapai 10 ton per hektare menunjukkan adanya potensi inovasi dalam sistem budidaya padi.
“Saya mengapresiasi apa yang dilakukan Intani. Sangat baik dan terukur dalam program swasembada pangan berkelanjutan. Jarang demplot seperti ini yang bisa meningkatkan produktivitas,” ujar Syamsudin.
Ia mengatakan peningkatan produksi melalui perbaikan sistem budidaya sejalan dengan perhatian pemerintah terhadap peningkatan produktivitas padi melalui program PM-AAS atau Pertanian Modern Advance Agriculture System.
Syamsudin juga menyampaikan pemerintah terus mendukung pemenuhan kebutuhan pupuk bagi petani. Menurut dia, kebutuhan pupuk yang disiapkan mencapai 18.713 ton yang terdiri atas urea dan NPK, dengan sekitar 62 persen di antaranya diserap petani padi. Dari sekitar 14,6 juta petani, sebanyak 10 juta petani tercatat telah menebus pupuk bersubsidi.
Sementara itu, Direktur Pembenihan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Ladiyani Retno Widowati mengatakan pemilihan benih unggul dan penerapan pemupukan berimbang menjadi bagian penting dalam meningkatkan produktivitas tanaman.
Ladiyani menyebut penyediaan benih merupakan salah satu dukungan dalam program demplot tersebut, sementara kebutuhan pupuk kimia nonsubsidi didukung PT Pupuk Indonesia.
Ia juga mengatakan penerapan pupuk hayati dapat menjadi salah satu pendekatan dalam memperbaiki kondisi tanah pertanian. Menurut dia, persoalan kesehatan tanah perlu mendapat perhatian seiring kondisi sebagian lahan pertanian yang mengalami degradasi.
“Pemilihan benih yang unggul dan pola pemupukan berimbang terbukti mampu meningkatkan produksi yang tinggi,” katanya.
Ketua Umum Intani Guntur Subagja Mahardika mengatakan penerapan pemupukan berimbang yang memadukan pupuk sintetis dan pupuk hayati cair memiliki tiga tujuan, yakni memperbaiki kondisi tanah, meningkatkan produktivitas, serta meningkatkan efisiensi dan menekan biaya produksi.
“Dengan tiga hal tersebut otomatis pendapatan dan kesejahteraan petani akan meningkat. Sekadar ilustrasi, setiap kenaikan produksi 1 ton per hektare, pendapatan petani bertambah sekitar Rp7 juta. Di Bantul kenaikannya bisa mencapai 3 ton,” ujar Guntur.
Hasil demplot tersebut menjadi dasar bagi para pihak yang terlibat untuk mendorong pengujian dan pengembangan pola pemupukan berimbang di wilayah lain, dengan tetap mempertimbangkan kondisi tanah, varietas benih, lingkungan budidaya, serta kebutuhan pemupukan di masing-masing daerah.
