MONITOR, Lombok Timur – Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) Koperasi terus memperkuat peran koperasi sebagai pusat pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui penyaluran dana bergulir yang disertai pendampingan kelembagaan.
Pendekatan tersebut terbukti mampu melahirkan ekosistem usaha yang berkelanjutan, sebagaimana ditunjukkan Koperasi Simpan Pinjam dan Pembiayaan Syariah (KSPPS) BMT Tunas Harapan Syantara (THS) di Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat.
Didukung pembiayaan dan pendampingan LPDB Koperasi, BMT THS tidak hanya memperluas akses pembiayaan bagi anggota, tetapi juga membangun ekosistem usaha berbasis syariah yang menghubungkan petani ikan, distributor pakan, pengepul, hingga akses pasar dalam satu rantai bisnis yang saling menguatkan.
Direktur Utama LPDB Koperasi Krisdianto mengatakan, keberhasilan BMT Tunas Harapan Syantara menunjukkan bahwa dana bergulir akan memberikan dampak yang jauh lebih besar ketika dikelola oleh koperasi yang memiliki tata kelola sehat, membangun ekosistem usaha anggota, serta terus berinovasi dalam memberikan pelayanan.
“Keberhasilan BMT Tunas Harapan Syantara menunjukkan bahwa dana bergulir akan memberikan dampak yang jauh lebih besar ketika dikelola oleh koperasi yang memiliki tata kelola yang baik, membangun ekosistem usaha anggotanya, dan terus berinovasi. Bagi LPDB Koperasi, pembiayaan hanyalah pintu masuk. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana koperasi bertumbuh, anggotanya semakin berdaya, usahanya berkembang, dan manfaat ekonomi dapat dirasakan masyarakat secara luas,” ujar Krisdianto.
Menurut Krisdianto, LPDB Koperasi tidak hanya hadir sebagai lembaga pembiayaan, tetapi juga sebagai mitra strategis koperasi melalui pendampingan kelembagaan, penguatan tata kelola, monitoring usaha, hingga peningkatan kapasitas pengurus agar koperasi mampu tumbuh secara sehat dan berkelanjutan.
“Kami ingin setiap koperasi mitra LPDB tidak hanya tumbuh dari sisi aset dan penyaluran pembiayaan, tetapi juga menjadi pusat pemberdayaan ekonomi masyarakat. Ketika koperasi mampu membangun ekosistem usaha seperti yang dilakukan BMT Tunas Harapan Syantara, maka manfaat dana bergulir akan berlipat ganda. Anggota memperoleh akses pembiayaan, kepastian usaha, pendampingan, hingga perluasan pasar. Inilah tujuan besar yang ingin terus kami dorong melalui dana bergulir LPDB Koperasi,” tambahnya.
Ketua Pengurus KSPPS BMT Tunas Harapan Syantara, Sarni, menjelaskan koperasi yang berdiri sejak 2013 tersebut kini berkembang menjadi koperasi syariah modern dengan fokus pada layanan simpan pinjam dan pembiayaan syariah. Berbagai unit usaha produktif yang sebelumnya berada di bawah koperasi dipisahkan ke badan usaha tersendiri agar koperasi dapat fokus menjalankan fungsi intermediasi keuangan tanpa mengurangi keberlanjutan usaha para anggotanya.
Menurut Sarni, langkah tersebut justru menjadi fondasi lahirnya model bisnis berbasis closed loop ecosystem yang kini menjadi kekuatan utama koperasi.
Melalui model tersebut, koperasi tidak hanya memberikan pembiayaan kepada petani ikan, tetapi juga kepada distributor pakan, pengepul, hingga pelaku usaha lain yang berada dalam satu rantai bisnis. Seluruh pelaku usaha tersebut menjadi anggota koperasi sehingga tercipta siklus ekonomi yang saling menguatkan.
Saat ini sekitar 300 petani ikan tergabung dalam ekosistem tersebut dengan dukungan sekitar 10 pengepul yang membina puluhan petani. Bahkan sebagian hasil produksi anggota telah memasok kebutuhan dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Bagi petani, mereka tidak lagi bingung mencari modal, membeli pakan, ataupun menjual hasil panennya. Semua sudah terhubung dalam satu sistem,” ujar Sarni.
Ekosistem yang dibangun koperasi tidak berhenti pada aspek ekonomi. Ketika masyarakat menghadapi persoalan distribusi air, koperasi ikut menggagas Pengelolaan Air Minum Dusun (PAMDUS) yang kini memasok kebutuhan air bagi kawasan budidaya ikan. Sebagai koperasi syariah, BMT THS juga mengembangkan fungsi Baitul Maal melalui pengelolaan zakat, infak, sedekah, serta berbagai program pendidikan dan pemberdayaan masyarakat.
Sarni mengungkapkan, kemitraan dengan LPDB Koperasi menjadi salah satu faktor penting yang mempercepat pertumbuhan koperasi.
“Kami sebenarnya bukan hanya mencari sumber dana. Yang kami cari adalah pendampingannya. Itu yang menurut kami sangat berharga,” katanya.
Menurutnya, pendampingan yang dilakukan LPDB Koperasi meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap koperasi. Dampaknya terlihat dari meningkatnya simpanan anggota, bertambahnya aset koperasi dari sekitar Rp10 miliar menjadi Rp18 miliar, serta semakin luasnya jaringan usaha yang dibangun bersama para anggota.
