MONITOR, Jakarta – Himpunan Alumni Institut Pertanian Bogor (HA IPB) menggelar Business Forum HA IPB sebagai momentum strategis memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam mendukung kedaulatan pangan dan energi nasional di Hotel Borobudur Jakarta, Sabtu (2/5/2026).
Mengusung tema “Sinergi Alumni untuk Kedaulatan Pangan dan Energi Menuju Pertumbuhan Ekonomi Nasional”, kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian Pelantikan Dewan Pengurus Pusat HA IPB Periode 2025–2029.
Forum tersebut dihadiri lebih dari 1.000 peserta, dengan sekitar 800 di antaranya merupakan pengurus aktif HA IPB. Kegiatan ini menjadi ruang strategis bagi alumni, pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan sektor keuangan untuk membangun sinergi dalam menjawab tantangan pangan dan energi nasional di tengah dinamika global.
Sejumlah tokoh nasional turut hadir dan memberikan pandangan strategis, di antaranya Menteri Lingkungan Hidup RI Jumhur Hidayat, Menteri Kehutanan RI Raja Juli Antoni, Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy, serta Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI Bahlil Lahadalia.
Dalam sambutannya, Menteri ESDM RI Bahlil Lahadalia membagikan kisah inspiratif saat dirinya masih menjadi mahasiswa di Irian Jaya, yang kini Papua. Ia mengenang upayanya mengundang Prof. Rokhmin Dahuri untuk menjadi narasumber di kampusnya pada masa itu.
“Pengalaman tersebut menjadi salah satu kenangan berharga yang memotivasi saya untuk terus bekerja keras dan memberikan kontribusi terbaik bagi bangsa Indonesia,” ujar Bahlil.
Pada sesi Business Forum I, tema yang diangkat adalah “Transformasi Pangan Nasional: Hilirisasi, Teknologi, dan Investasi”.
Forum ini menghadirkan sejumlah tokoh dari sektor pemerintahan, industri, dan keuangan nasional, di antaranya Anggota Komisi IV DPR RI Prof. Rokhmin Dahuri, Presiden Direktur PT Astra Agro Lestari, Direktur Utama PT Bank Mandiri Tbk, Wakil Ketua Umum HA IPB/Kepala Lembaga Pengembangan Agromaritim dan Akselerasi Innopreneurship, serta Direktur Utama Pupuk Indonesia.
Dalam paparannya, Prof. Rokhmin Dahuri menegaskan bahwa pembangunan sistem pangan nasional harus dilakukan secara terpadu dan berkelanjutan dari hulu hingga hilir.
“Pembangunan sistem pangan nasional harus mencakup penyediaan sarana produksi, peningkatan produktivitas melalui intensifikasi, ekstensifikasi, dan diversifikasi berbasis inovasi dan keberlanjutan, penguatan industri pengolahan dan kemasan, hingga pemasaran dari tingkat lokal sampai ekspor global,” ujar Prof. Rokhmin Dahuri.
Ia juga menekankan pentingnya dukungan kebijakan yang terintegrasi guna memperkuat ketahanan pangan nasional.
“Seluruh proses tersebut harus ditopang oleh logistik, konektivitas, infrastruktur, serta kebijakan fiskal, moneter, perdagangan, tata ruang, perpajakan, dan ketenagakerjaan yang tepat agar produktivitas pangan nasional mampu melampaui konsumsi, tetap sesuai daya dukung lingkungan, menyejahterakan produsen, memenuhi kebutuhan konsumen, serta menciptakan sistem pangan yang inklusif dan berkelanjutan,” lanjutnya.

Sebelumnya, Ketua Umum Himpunan Alumni IPB, Fauzi Amro, dalam sambutannya menyampaikan bahwa pihaknya telah melakukan audiensi dengan Menteri Koordinator terkait sektor pangan. Audiensi tersebut menghasilkan gagasan awal untuk membangun sebuah model kawasan terpadu berbasis potensi lokal.
“Insyaallah kami akan merumuskan model dari hulu ke hilir dalam satu kawasan. Di dalamnya ada peternakan ayam, perikanan, komoditas pisang, hingga pengolahan hasil yang saling terintegrasi.
Setiap sektor akan saling mensuplai, termasuk untuk mendukung kebutuhan program pemerintah serta kebutuhan masyarakat secara langsung,” ujar Fauzi.
Model kawasan ini diharapkan menjadi prototipe yang dapat direplikasi di berbagai daerah di Indonesia.
“Dengan dukungan jaringan alumni IPB yang luas, implementasi model tersebut diyakini mampu memperkuat rantai pasok nasional serta menggeser paradigma dari sekadar “titik dapur” menjadi sistem supply chain yang terintegrasi,” terangnya.
Melalui forum ini, HA IPB menegaskan bahwa kedaulatan pangan dan energi tidak dapat diwujudkan secara sektoral, melainkan membutuhkan orkestrasi kebijakan dan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat.
Peran alumni IPB dinilai strategis sebagai knowledge hub sekaligus agent of change dalam mendorong transformasi ekonomi Indonesia menuju ekonomi bernilai tambah tinggi yang inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan.
