Kejahatan Ekologis: Karhutla, Hutan yang Hilang, Bencana yang Diwariskan

Oleh: Maria Ulfa
Dosen Ilmu Susastra, Prodi Sastra Inggris, Fakultas Adab & Humaniora,
Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta

Puisi Kritis-Reflektif

  1. Bara Menjalar, Jangan Jadikan Alam Terdakwa

Kebakaran hutan dan lahan—Karhutla—
datang lagi, lagi, lagi, lagi, dan lagi.
Berbulan-bulan negeri ini membara.
Dari Aceh sampai Merauke.
Sumatera disergap asap, sesak dan pengap.
Kalimantan menyala tanpa jeda.
Sulawesi menatap langit semakin sempit.
Papua memerah, rimbanya rebah.
Berapa banyak atap yang telah hilang?

Tahun ini,
Ratusan ribu hektare dilahap kobaran,
merah menjalar dari tanah ke langit,
hitam menggantung, mengurung ruang dan jantung,
Matahari memucat, menyimpan perih yang tak kunjung pulih.
Langit menahan hujan, geram menggumpal di awan.
Bumi mengerang di bawah pijar yang tak padam.
Dari rimba hingga kota, selubung kelabu menutup cakrawala.
Karhutla menulis peta Indonesia
dengan api, abu, asap, luka, duka,
amarah dan sumpah serapah.

- Advertisement -

Jangan jadikan kemarau tameng.
Jangan jadikan El Niño dalih
untuk mengaburkan jejak kerakusan manusia.
Kemarau memang mengeringkan dahan,
tetapi siapa membawa api?
Angin memang mengantarkan pijar,
tetapi siapa membuatnya tetap menyala?
Siapa menukar belantara dengan angka?
Siapa yang merenggut gambut?
Di tangan yang lekas menghitung laba,
kepentingan dipeluk kuasa,
sementara rimba memikul nestapa.

Hari berganti, api kembali;
korban berganti, alasan terus diberi.
Kami muak pada asap yang terus dimaklumi,
pada duka yang disamarkan cuaca.
Kami lelah melihat Karhutla datang silih berganti
seperti kalender usang yang terus berulang,
dari tahun ke tahun, nyala kian berbilang.
Karhutla bukan lagi sekadar musim,
ia luka yang dibiarkan dan dipelihara terlalu lama.

  1. Tanah Membara, Hutan Kehilangan Nyawa

Api menyusup ke perut gambut.
Ia merangkak di bawah tanah, mencengkeram akar,
membara tanpa cahaya, menyala tanpa suara.
Bara bersarang, tanah mengerang,
kepulan, menggumpal, menebal.
Angin datang, nyala menggeliat,
menjalar, mengejar, melumat yang tersisa.
Ia tak pernah benar-benar padam.

Hutan tak lagi utuh dalam rindangnya.
Satwa tak lagi memiliki naungan,
mati, terusir, kehilangan jalan pulang.
Hutan hangus, habitat putus, kehidupan kian tergerus.
Yang hangus bukan hanya rimba,
tetapi denyut hidup
yang tumbuh bersamanya.

Ekosistem runtuh, rantai kehidupan luluh.
Tanah kehilangan daya, mata air kehilangan nadi,
udara mengeruh, cahaya menjauh dari langit.
Rimba yang dahulu paru-paru negeri,
kini mengembuskan jelaga,
melintasi pulau, melampaui batas,
membawa sesak ke tanah seberang,
menuai murka Dunia.

  1. Ketika Asap Merampas Kehidupan

Kabut asap menjegal.
Jutaan nafas tersengal.
Ia menjelma batuk yang berlarut.
Nafas menyempit, dada terhimpit,
mata pedih, tubuh letih.
Ketika udara menjadi ancaman,
bernapas bukan lagi perkara biasa,
melainkan perjuangan melawan kematian.

Sekolah tutup, cahaya belajar ikut redup.
Pesawat tertahan, perjalanan kehilangan tujuan.
Jalan mengabur, pandangan kian pudar.
Rumah terbakar, pekerjaan buyar.
Penghasilan menyusut, harapan ikut surut.
Karhutla tak hanya membakar hutan dan lahan,
ia merampas ruang belajar, ruang bekerja, ruang hidup,
mengusir rasa aman dari hari-hari
warga yang tak pernah menyalakan api.

Bara berbiak di ribuan petak.
Berapa hektare lagi harus dilumat menjadi abu?
Berapa wilayah lagi harus kehilangan nafas?
Berapa nyawa lagi harus melayang?
Sampai kapan kalimat “Semuanya masih terkendali”
menjadi tameng penguasa?
Kelalaian yang terus dipelihara,
menjelma Malapetaka.

  1. Siapa Untung, Siapa Menanggung?

Siapa membuka hutan dengan sulutan,
mengubah rimba menjadi neraca?
Siapa membelah belantara dengan bara,
menjadikannya petak-petak kuasa?
Di balik bara, modal berputar.
Hutan ditebang, lahan dibakar,
cara murah membuka ruang.
Siapa menadah laba?
Siapa menanggung harga bara?

Api tidak pernah sendirian.
Di belakang kobaran,
modal, izin, dan kepentingan berjalan beriringan.
Hutan dihitung, Sawit ditakar, tanah masuk neraca.
Jangan sembunyikan nama-nama dibalik meja.

Adili Mereka.
Jangan biarkan kuasa menjadi tamengnya.
Yang membakar, hukumlah.
Yang lalai, tindaklah.
Yang merusak, cabut izinnya.
Sebut nama Mereka.

Jika api terus menemukan jalan pulang,
pernahkah hukuman membuat tangan gentar?
Kabut kelabu melintasi batas,
Sudahkah hukum melangkah sejauh itu?

Sebab rakyat telah membayar terlalu mahal:
dengan rumah, pekerjaan, kesehatan, penghidupan.
Jangan hitung berapa hektare yang hangus;
hitung juga harta yang hilang, habitat yang tumbang,
dan nyawa yang tak mungkin dipulangkan.
Kami menuntut p-e-r-t-a-n-g-g-u-n-g-j-a-w-a-b-a-n, bukan pernyataan;
P-e-m-u-l-i-h-a-n, bukan pencitraan;
K-e-a-d-i-l-a-n, bukan keuntungan
yang ditumpuk di atas tanah yang menjadi arang.

  1. Bencana Rakyat, Candaan Kuasa?

Rakyat tercekik asap, Kalian sibuk merangkai alasan.
Rakyat mengais udara untuk bertahan, Kalian sibuk merias jabatan.
Bencana datang berulang, pencegahan tak kunjung datang.
Anggaran terus mengalir, sementara api mengukir jejak getir.
Rapat digelar, laporan disebar, janji diumbar,
namun warga tetap terkapar.
Di mana Kalian sebelum nyala membesar?
Di mana Kalian sebelum rimba terbakar?
Kalian datang ketika kobaran sudah menjadi bencana,
lalu pergi ketika akar masalah masih bernyawa.
Jangan biarkan anggaran menguap di meja kekuasaan,
sementara kemanusiaan tinggal slogan.

Lebih perih ketika bencana berubah menjadi c-a-n-d-a.
Para penguasa—entah ke mana:
ada yang melipat tangan di balik meja,
ada yang menutup mata, menumpulkan rasa,
ada pula yang melangkah jauh ke negeri Singa.
Kami tak butuh lelucon ketika udara menebar sengsara,
tak butuh pidato setelah langit merah membara,
apalagi belasungkawa setelah jiwa tak lagi bernyawa.
Jangan datang hanya ketika kamera menyala.
Alasan datang berkali-kali,
pernahkah maaf benar-benar sampai ke pintu kami?
Kami muak pada kelalaian yang berlindung di balik kuasa,
pada ketidakpedulian yang bersembunyi di balik dalih.
Bencana ini bukan c-a-n-d-a-a-n.
Ia nafas yang dirampas. Ia jiwa yang didera.
Ia murka yang lahir dari jeritan derita yang dianggap biasa.

  1. Cukup! Hentikan Karhutla!

Negara, Rakyat tak menadahkan belas kasihan,
tapi menagih k-e-w-a-j-i-b-a-n.
Jaga gambut sebelum gersang,
lindungi hutan sebelum hilang.
Awasi izin sebelum api membuka ladang.
Selamatkan warga sebelum nafas tumbang.

Jangan hanya memadamkan nyala.
Cabut akar keserakahan
yang terus melahirkan bara!
Karhutla telah terlalu lama berulang;
Setiap api kembali,
Kegagalan lama ikut berulang
mewariskan luka yang sama.

Kami bertanya dari rumah-rumah yang terbakar:
Berapa lama sebuah pulau harus membara
sebelum disebut bencana bangsa?
Berapa bentang hutan harus menjadi arang?
Berapa malam harus terus memerah?
Berapa banyak dada harus dijejali kabut pekat?
Sebelum Negeri ini mengerti
Karhutla bukan sekadar musim,
Bukan berita tahunan
yang boleh dibaca, dilupakan, lalu dibiarkan berulang.
Dan kini kami bertanya dengan suara yang tak lagi lirih:
Berapa banyak pulau harus menjadi abu
sebelum Negara benar-benar merasa Malu?

Jangan biarkan asap hilang bersama ingatan.
Jangan biarkan berita padam
sebelum bara benar-benar padam.
Selama api masih berulang,
suara kami tak akan hilang.

Cukup!
Kami tidak memohon hak untuk bernapas,
kami menuntut kembali
Udara yang dirampas
Hutan yang dikorbankan
dan Keadilan yang terlalu lama dipadamkan.[]

- Advertisement -

BERITA TERKAIT

TERPOPULER

BERITA TERKINI