MONITOR – Indonesia memiliki potensi ekonomi akuakultur yang diperkirakan mencapai US$210 miliar per tahun, namun pemanfaatannya masih jauh dari optimal. Penguatan pembiayaan, teknologi, hilirisasi, dan tata kelola berkelanjutan dinilai menjadi kunci untuk menjadikan sektor kelautan sebagai salah satu penopang ketahanan pangan dan energi dunia.
Hal itu disampaikan Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University Prof. Rokhmin Dahuri dalam Global Ocean Development Forum (GODF) 2026 di Qingdao, China, Kamis (17/9/2026).
Dalam forum tersebut, Rokhmin memaparkan besarnya peluang akuakultur Indonesia di tengah meningkatnya kebutuhan pangan dunia dan tekanan terhadap sumber daya alam.
Menurut dia, Indonesia memiliki potensi produksi akuakultur berkelanjutan sekitar 100,06 juta ton per tahun. Namun, produksi pada 2025 baru mencapai sekitar 18,41 juta ton, atau sekitar 18,4 persen dari potensi tersebut.
“Indonesia memiliki potensi akuakultur yang sangat besar. Ini bukan hanya menyangkut produksi pangan, tetapi juga dapat menjadi bagian penting dari solusi terhadap krisis pangan dan energi dunia,” kata Rokhmin dalam paparannya.
Ia menjelaskan, secara global produksi perikanan dan akuakultur telah mencapai sekitar 235 juta ton, dengan akuakultur menyumbang sekitar 53 persen produksi hewan akuatik.
Perkembangan tersebut menunjukkan semakin pentingnya akuakultur dalam memenuhi kebutuhan protein masyarakat dunia. Karena itu, Indonesia dengan sumber daya pesisir dan laut yang luas dinilai memiliki peluang strategis untuk meningkatkan kontribusinya.
Namun, Rokhmin mengingatkan bahwa besarnya potensi sumber daya tidak otomatis menghasilkan manfaat ekonomi apabila tidak diikuti dukungan investasi dan kebijakan yang memadai.
Salah satu persoalan yang disorot adalah akses pembiayaan. Ia mencatat porsi kredit sektor perikanan masih sangat kecil dibandingkan total kredit perbankan nasional.
“Pembiayaan menjadi salah satu persoalan penting. Kredit untuk sektor perikanan pada 2024 hanya sekitar 0,35 persen dari total kredit bank komersial nasional,” ujarnya.
Menurut Rokhmin, kondisi tersebut menunjukkan perlunya terobosan kebijakan untuk meningkatkan akses pelaku usaha perikanan dan akuakultur terhadap pembiayaan.
Selain pembiayaan, pengembangan akuakultur juga membutuhkan penguatan teknologi, industri pengolahan, rantai pasok, serta hilirisasi agar nilai ekonomi yang dihasilkan tidak berhenti pada komoditas mentah.
Ia juga menawarkan pendekatan Marine Ranching yang mengintegrasikan kegiatan produksi dengan konservasi dan rehabilitasi ekosistem laut. Salah satu konsep yang dikembangkan adalah Tropical Ecological Marine Ranching (TEMR).
Konsep tersebut menggabungkan konservasi ekosistem, rehabilitasi lingkungan, kegiatan budidaya, pemanfaatan teknologi, serta pemberdayaan masyarakat pesisir.
Rokhmin mencontohkan pengalaman Sea Farming atau Marine Ranching di Kepulauan Seribu yang telah dikembangkan sejak 2005 sebagai salah satu praktik yang dapat menjadi pembelajaran dalam pengembangan ekonomi kelautan berkelanjutan.
Ia menekankan bahwa pengembangan akuakultur ke depan tidak semata-mata mengejar peningkatan produksi, tetapi harus memastikan keberlanjutan ekologis dan manfaat ekonomi bagi masyarakat pesisir.
Dengan pendekatan tersebut, akuakultur dapat ditempatkan bukan hanya sebagai sektor produksi pangan, tetapi sebagai bagian dari strategi pembangunan ekonomi kelautan yang mencakup penciptaan lapangan kerja, peningkatan pendapatan masyarakat, penguatan industri, hingga kontribusi terhadap ketahanan pangan nasional dan global.
Dalam konteks itu, Rokhmin mendorong adanya kebijakan yang lebih terintegrasi antara pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, masyarakat pesisir, dan lembaga keuangan.
Menurutnya, optimalisasi potensi akuakultur Indonesia membutuhkan ekosistem pembangunan yang memungkinkan teknologi, investasi, sumber daya manusia, dan pasar berkembang secara bersamaan.
“Potensi yang besar harus diikuti kebijakan yang tepat, investasi, teknologi, hilirisasi, dan tata kelola yang berkelanjutan agar memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat,” kata Rokhmin.
