NASIONAL

MUI Minta Publik Hentikan Polemik Pernyataan Jusuf Kalla

MONITOR, Jakarta – Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengimbau masyarakat untuk menghentikan polemik terkait potongan pernyataan Jusuf Kalla mengenai memori kolektif peristiwa Ambon. Imbauan ini disampaikan guna menjaga harmoni sosial dan memperkuat persatuan nasional di tengah dinamika ruang publik.

Sekretaris Dewan Pertimbangan MUI, Zainut Tauhid Sa’adi, menegaskan bahwa seluruh ajaran agama pada dasarnya menjunjung tinggi nilai cinta kasih, persaudaraan, serta penghormatan terhadap kemanusiaan. Oleh karena itu, narasi yang berkembang di masyarakat seharusnya mencerminkan nilai-nilai tersebut.

“MUI menilai penting agar setiap pernyataan dipahami secara utuh dan komprehensif, bukan dipotong sehingga menimbulkan kesalahpahaman,” ujar Zainut melalui keterangan tertulis yang di terima, Senin (20/4).

Menurutnya, pernyataan Jusuf Kalla perlu ditempatkan dalam konteks sejarah yang lebih luas, mengingat kontribusinya dalam proses perdamaian di Indonesia. MUI mengingatkan agar publik tidak terjebak pada interpretasi yang dapat memicu sentimen negatif.

Lebih lanjut, MUI menekankan bahwa sejarah bangsa harus dijadikan sebagai sumber pembelajaran (ibrah) untuk memperkuat fondasi kebangsaan. Nilai-nilai dari peristiwa masa lalu diharapkan mampu menjadi inspirasi bagi generasi penerus dalam membangun masa depan yang harmonis.

Dalam upaya menjaga suasana kondusif, MUI juga mengajak masyarakat untuk mengedepankan penggunaan bahasa yang menyejukkan dan mempersatukan. Kedewasaan dalam berbangsa, menurut MUI, tercermin dari kemampuan mengelola perbedaan menjadi energi positif.

Selain itu, masyarakat diimbau untuk mengedepankan sikap husnuzan (prasangka baik) serta membudayakan tabayun (klarifikasi) terhadap informasi yang beredar, khususnya di media sosial, agar tidak mudah terprovokasi oleh narasi yang terfragmentasi.

“MUI mengajak seluruh pihak, terutama tokoh masyarakat dan agama, untuk tidak memperpanjang polemik yang tidak produktif dan berpotensi merusak kerukunan umat beragama,” tegasnya.

MUI juga menegaskan pentingnya memperkuat ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wataniyah, dan ukhuwah basariyah sebagai fondasi utama kehidupan berbangsa.

“Tokoh-tokoh bangsa adalah guru bagi kita semua. Mari rawat pesan perdamaian dengan tutur kata santun dan hati yang jernih. Masa depan Indonesia yang damai adalah tanggung jawab bersama,” pungkas Zainut.

Recent Posts

Membangun Relasi Kiai-Santri

SuwendiDosen Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Fenomena kekerasan seksual (KS) yang dilakukan oleh beberapa…

39 menit yang lalu

Bawa Pesan Presiden Prabowo, Menaker Akan Serahkan Instrumen Ratifikasi Konvensi ILO 188 di Jenewa

MONITOR, Jenewa — Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli berada di Jenewa, Swiss, membawa pesan Presiden Prabowo…

2 jam yang lalu

5.499 Jemaah Haji Gelombang Kedua Tiba di Madinah, Wamenhaj Minta Jaga Kesehatan

MADINAH – Sebanyak 5.499 jemaah haji Indonesia gelombang kedua dijadwalkan tiba di Madinah pada Minggu…

7 jam yang lalu

​Jaring Mahasiswa Terbaik, Kemenag Gelar Tes Beasiswa Maroko Tahun 2026

MONITOR, Jakarta — Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama menggelar Computer Based Test (CBT) Seleksi…

7 jam yang lalu

Jemaah Haji Gelombang Kedua Mulai Bergerak ke Madinah, Kemenhaj Pastikan Layanan Optimal hingga Kepulangan

MONITOR, Jakarta – Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Republik Indonesia mulai memberangkatkan jemaah haji gelombang…

7 jam yang lalu

Wamenaker Ajak Serikat Buruh Berkolaborasi Revisi UU Ketenagakerjaan dan Regulasi K3

MONITOR, Jakarta — Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker) Afriansyah Noor mengajak serikat pekerja/serikat buruh untuk berkolaborasi…

7 jam yang lalu