PARLEMEN

DPR Soroti Jalur Mandiri PTN, Dinilai Tekan Daya Saing Perguruan Tinggi Swasta

MONITOR, Pekanbaru — Anggota Komisi X DPR RI, Abdul Fikri Faqih, menyoroti sistem penerimaan mahasiswa baru di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang dinilai belum adil bagi keberlangsungan Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Salah satu poin krusial adalah durasi pendaftaran jalur mandiri PTN yang dianggap terlalu panjang hingga menyentuh bulan Agustus.

Politisi dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu mengungkapkan, pembentukan Panitia Kerja (Panja) di Komisi X DPR RI dilatarbelakangi banyaknya keluhan dari pihak PTS yang merasa terdesak oleh kebijakan jalur mandiri PTN. Menurutnya, perlu ada penataan ulang agar PTN tidak menyerap seluruh potensi calon mahasiswa baru.

“Problematikanya adalah perguruan tinggi swasta menganggap ini tidak adil. Jalur PTN itu ada yang lewat tes, ada yang tanpa tes, kemudian diperpanjang lagi melalui jalur mandiri. Kalau memang benar memberatkan perguruan tinggi swasta, maka kita harus meluruskan,” tegas Fikri saat mengikuti Kunjungan Kerja Spesifik Bidang Pendidikan Tinggi Komisi X DPR RI di Universitas Riau, Pekanbaru, Riau, Rabu (9/4/2026).

Ia menekankan bahwa PTN seharusnya lebih difokuskan pada peningkatan mutu pendidikan, sementara PTS didorong untuk memperluas aksesibilitas pendidikan tinggi bagi masyarakat.

Selain itu, Fikri juga menyoroti variabel waktu pendaftaran PTN yang kerap molor hingga pertengahan bahkan akhir tahun. Kondisi tersebut dinilai mempersempit ruang gerak PTS dalam menjaring mahasiswa baru secara proporsional.

“Waktu pendaftaran PTN itu terlalu panjang, bahkan sampai Juli, sebagian hingga Agustus. Ini membuat peluang PTS semakin sempit,” ujarnya.

Lebih lanjut, legislator dari daerah pemilihan Jawa Tengah IX itu turut mengingatkan adanya potensi tumpang tindih program studi (prodi) lintas kementerian. Ia menilai sejumlah prodi di bawah Kementerian Pendidikan, Kementerian Agama, hingga Perguruan Tinggi Kementerian/Lembaga (PTKL) memiliki kemiripan yang berpotensi menimbulkan persaingan tidak sehat dengan PTS.

Fikri menegaskan pentingnya pengaturan ulang prodi agar masing-masing institusi memiliki keunggulan spesifik dan saling melengkapi, bukan justru saling beririsan.

“Ini menjadi peringatan agar pengaturan program studi bisa lebih sinergis. Setiap perguruan tinggi harus memiliki keunggulan masing-masing sehingga tidak saling berhimpitan,” pungkasnya.

Recent Posts

MenPPPA: Gerakan Ruang Aman Anak Perkuat Sinergi Perlindungan Anak Nasional

MONITOR, Depok - Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifatul Choiri Fauzi menegaskan Gerakan Nasional…

5 jam yang lalu

Menhaj Bawa Salam Presiden Prabowo untuk Keluarga dr. Fitri, Negara Hormati Pengabdiannya Hingga Akhir Hayat

MONITOR, Baubau - Menteri Haji dan Umrah (Menhaj) Republik Indonesia, Mochamad Irfan Yusuf, mengunjungi kediaman keluarga…

5 jam yang lalu

Kemenag Siapkan Lima Pilar Pesantren Ramah Anak, Perketat Tata Kelola dan Pengaduan

MONITOR, Depok - Kementerian Agama (Kemenag) memperkuat sistem perlindungan anak di lingkungan pesantren dan madrasah…

9 jam yang lalu

Mahasiswi PAI UIN Jakarta Raih Juara I Musabaqah Tilawatil Qur’an Putri pada International Qur’anic Festival 2026

MONITOR, Tangerang Selatan – Mahasiswi Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Ilmu Tarbiyah dan…

11 jam yang lalu

Rokhmin Dahuri Resmikan Fasilitas Toilet dan Tempat Wudhu KBNU Gebang, Tegaskan Semangat Pelayanan Umat

MONITOR, Cirebon - Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PDI Perjuangan sekaligus Guru Besar Ilmu…

12 jam yang lalu

Panen 88 Hari, Demplot Padi Organik di Subang Tingkatkan Produktivitas hingga Tiga Kali Lipat

MONITOR, Subang – Demplot budidaya padi organik di kawasan Lembur Pakuan, Desa Sukasari, Kecamatan Dawuan,…

2 hari yang lalu