OPINI

Langkah Berani Anwar Ibrahim di Tengah Konflik Iran vs Israel dan Amerika Serikat

Adriansyah (Ketua Umum IKAL FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)

Keputusan Perdana Menteri Anwar Ibrahim menolak skema “Board of Peace” dan menunjukkan sikap yang cenderung mendukung Iran menarik perhatian. Ini bukan sekadar pernyataan politik biasa, tetapi langkah yang menunjukkan arah baru kebijakan luar negeri Malaysia.

Di tengah konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan pengaruh besar Amerika Serikat, Malaysia memilih untuk tidak diam. Anwar Ibrahim ingin menunjukkan bahwa Malaysia punya sikap, terutama dalam isu yang berkaitan dengan keadilan dan kemerdekaan Palestina.

Penolakan terhadap “Board of Peace” bisa dilihat sebagai pesan bahwa perdamaian tidak boleh hanya menguntungkan pihak tertentu. Malaysia ingin solusi yang benar-benar adil, bukan sekadar formalitas politik.

Namun, langkah ini juga mengandung resiko. Sikap yang terlihat dekat dengan Iran bisa membuat negara-negara Barat, terutama Amerika Serikat, menjadi lebih berhati-hati terhadap Malaysia. Dampaknya bisa terasa pada investasi, kerja sama ekonomi, dan hubungan diplomatik.

Meski begitu, ada peluang yang bisa dimanfaatkan. Pertama, Malaysia bisa tampil sebagai negara penengah yang tidak sepenuhnya berpihak ke Barat, tapi juga tidak ekstrem ke Iran. Posisi ini bisa membuat Malaysia lebih dihormati di dunia internasional, terutama di kalangan negara berkembang dan dunia Islam.

Kedua, konflik ini membuka peluang ekonomi. Dengan hubungan yang baik dengan Iran, Malaysia bisa menjaga kepentingannya dalam perdagangan dan energi, terutama di jalur strategis seperti Timur Tengah.

Ketiga, secara politik, sikap ini bisa memperkuat posisi Anwar Ibrahim di dalam negeri. Banyak masyarakat yang mendukung sikap tegas terhadap isu Palestina, sehingga langkah ini bisa meningkatkan kepercayaan publik.

Pada akhirnya, langkah Anwar adalah keputusan yang berani, tetapi juga penuh perhitungan. Malaysia sedang mencoba mengambil peran lebih besar di dunia internasional. Tantangannya adalah menjaga keseimbangan agar tidak terlalu condong ke satu pihak.

Jika berhasil, Malaysia bisa naik menjadi pemain penting di tingkat global. Tetapi jika salah langkah, risikonya juga tidak kecil.

Recent Posts

IPIM Banten Sambut Positif Terpilihnya Prof. Nasaruddin Umar sebagai Presiden IAMI Petama

MONITOR, Jakarta - Ketua Umum PW IPIM Provinsi Banten, Prof. Dr. Ahmad Tholabi Kharlie, menyambut…

2 jam yang lalu

Expo UMKM dan Ekosistem Haji & Umrah 2026 Catatkan Transaksi Rp5,7 Miliar

MONITOR, Madiun – Penyelenggaraan Expo UMKM dan Ekosistem Haji & Umrah tahun 2026 yang diselenggarakan…

3 jam yang lalu

IGIC 2026 Pilih Nasaruddin Umar sebagai Presiden IAMI dan Hasilkan Jakarta Understanding

MONITOR, Jakarta - International Grand Imams Conference (IGIC) 2026 sepakat untuk membentuk The International Assembly…

7 jam yang lalu

Ketua PW Fatayat NU Ajak Kader Fatayat Aktif Kampanyekan Pariwisata Anyer dan Majukan Ekonomi Kreatif

MONITOR, Serang - Ketua Pimpinan Wilayah Fatayat NU Nony Menawati melantik Pengurus Pimpinan Anak Cabang…

8 jam yang lalu

Peternak Lumajang Ari Borong Empat Gelar di Kontes Ternak DKPP 2026

MONITOR, Lumajang - Peternak asal Kabupaten Lumajang, Ari, meraih empat gelar juara dalam Kontes Sapi,…

1 hari yang lalu

Rokhmin Dahuri: Guruh Soekarnoputra Wariskan Nasionalisme Lewat Seni dan Budaya

MONITOR, Jakarta - Kepergian seniman dan budayawan Mohammad Guruh Irianto Soekarnoputra meninggalkan warisan penting dalam…

2 hari yang lalu