OPINI

Lidah Kecil, Dampak Besar: Kunci Hidup Berkah dari Kesehatan hingga Akhlak

Oleh: dr. H. Agus Sunardi, Sp.PK*

Manusia tidak pernah lepas dari aktivitas berbicara. Dalam kehidupan sosial, lidah menjadi alat utama untuk menyampaikan pikiran, perasaan, hingga membangun relasi. Namun di balik perannya yang vital, lidah juga dapat menjadi sumber persoalan jika tidak dijaga dengan baik. Banyak konflik, pertengkaran, bahkan perpecahan dalam masyarakat berawal dari ucapan yang tidak terkontrol—yang kerap disebut sebagai slip of tongue.

Secara fisik, lidah hanyalah organ kecil. Namun fungsinya sangat besar. Dalam dunia medis, lidah merupakan organ otot yang dilengkapi ribuan reseptor rasa yang memungkinkan manusia membedakan manis, asam, asin, dan pahit. Lidah juga berperan dalam proses berbicara, mengunyah, dan menelan. Bahkan, kondisi lidah dapat menjadi indikator kesehatan tubuh secara umum.

Lidah yang sehat umumnya berwarna merah muda dan tidak berlapis tebal. Perubahan warna menjadi putih, kuning, atau muncul luka yang tidak sembuh bisa menjadi tanda gangguan kesehatan, seperti infeksi atau dehidrasi. Karena itu, menjaga kebersihan lidah sama pentingnya dengan menjaga kesehatan organ tubuh lainnya. Membersihkan lidah secara rutin, menghindari makanan terlalu panas atau pedas, serta mengonsumsi makanan bergizi menjadi langkah sederhana namun penting.

Namun, pembahasan tentang lidah tidak berhenti pada aspek kesehatan semata. Dalam perspektif Islam, lidah memiliki dimensi yang jauh lebih dalam—yakni sebagai penentu baik buruknya amal seseorang. Ucapan bukan sekadar bunyi, melainkan memiliki konsekuensi moral dan spiritual.

Rasulullah SAW menegaskan bahwa siapa yang mampu menjaga apa yang ada di antara dua rahangnya (mulut/lidah), maka baginya jaminan keselamatan. Pesan ini menempatkan lidah sebagai kunci utama dalam menjaga kehormatan dan keselamatan manusia, baik di dunia maupun di akhirat.

Islam mengajarkan prinsip sederhana namun mendalam: berkata baik atau diam. Setiap ucapan harus mengandung nilai kebaikan. Jika tidak, maka diam adalah pilihan yang lebih bijak. Dalam praktiknya, menjaga lidah berarti menghindari dusta, ghibah, fitnah, dan ucapan kasar yang dapat menyakiti orang lain.

Lebih dari itu, Islam juga mengenalkan konsep etika berbicara seperti qaulan sadida(perkataan benar), qaulan layyina (lembut), qaulan ma’rufa (baik), dan qaulan karima (mulia). Prinsip-prinsip ini menjadi pedoman agar setiap kata yang keluar tidak hanya benar, tetapi juga santun dan penuh penghormatan.

Dalam kehidupan sehari-hari, menjaga lidah membutuhkan kesadaran dan latihan. Berpikir sebelum berbicara, mengendalikan emosi, serta membiasakan diam saat ragu adalah langkah penting. Selain itu, memperbanyak dzikir dapat membantu menjaga lisan tetap berada dalam kebaikan. Lingkungan juga berperan besar—lingkungan yang positif akan membentuk cara berbicara yang lebih santun.

Dalam tradisi Nahdlatul Ulama (NU), menjaga lidah merupakan bagian dari akhlakul karimah. Nilai-nilai seperti tawassuth (moderat), tasamuh (toleransi), tawazun (seimbang), dan i’tidal (adil) menjadi landasan dalam berkomunikasi. Para ulama menekankan bahwa adab dalam berbicara adalah cerminan kepribadian dan kedewasaan seseorang.

Menariknya, terdapat keterkaitan erat antara kesehatan fisik lidah dan penggunaannya secara spiritual. Lidah yang sehat memungkinkan seseorang berdzikir, membaca Al-Qur’an, dan menyampaikan kebaikan dengan optimal. Sebaliknya, penggunaan lidah yang tidak bijak—seperti sering berteriak atau berkata kasar—juga dapat berdampak pada kesehatan.

Pada akhirnya, menjaga lidah bukan hanya soal kesehatan organ, tetapi juga tentang menjaga kualitas hidup. Lidah yang terjaga akan menghadirkan ketenangan, mempererat hubungan sosial, serta mendatangkan keberkahan. Sebaliknya, lidah yang tidak terkontrol dapat menjadi sumber masalah yang berkepanjangan.

Karena itu, menjaga lidah adalah bagian dari menjaga diri secara utuh—fisik dan spiritual. Dari organ kecil inilah, kebaikan atau keburukan dapat bermula.

*Penulis Adalah Ketua LKNU Kabupaten Lebak Masa Khidmat 2024–2029

Recent Posts

KemenUMKM Perkuat Ekosistem Digital dan Kemitraan untuk Perluas Akses Pasar

MONITOR, Denpasar — Deputi Bidang Usaha Menengah Kementerian UMKM, Bagus Rachman, menegaskan pentingnya penguatan ekosistem digital…

7 jam yang lalu

Kemenhaj Perkuat Layanan Jemaah di Jamarat pada Fase Mina

MONITOR, Jakarta - Kementerian Haji dan Umrah memastikan layanan jemaah haji Indonesia pada fase Mina, khususnya…

7 jam yang lalu

Bantuan Sapi Kurban Presiden Dinilai Lebih Tepat Diposisikan sebagai Program Sosial Negara

MONITOR, Jakarta — Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Dr. Ahmad Tholabi Kharlie, menilai bantuan…

21 jam yang lalu

Pelatihan Vokasi Nasional Batch 2 Hadir di Berbagai Daerah untuk Perluas Akses Kompetensi

MONITOR, Jakarta — Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) akan melaksanakan Pelatihan Vokasi Nasional (PVN) 2026 Batch 2 di…

22 jam yang lalu

Kementan-BUMN Tegaskan Hilirisasi Ayam di Bone untuk Peternak Rakyat

MONITOR, Makassar - Kementerian Pertanian (Kementan) bersama BUMN pangan mempertegas komitmen pengembangan hilirisasi ayam terintegrasi di…

1 hari yang lalu

Pelayanan Haji 2026 Dinilai Melompat Jauh, Amirul Hajj Apresiasi Kinerja Kemenhaj

MONITOR, Mina — Anggota Amirul Hajj 1447 H/2026 M, H.R. Muhammad Syafi’i, menilai penyelenggaraan ibadah…

1 hari yang lalu