Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Reni Yanita. (Foto: humas kemenperin)
MONITOR, Jakarta – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memperkuat komitmennya dalam memacu pengembangan industri otomotif nasional, khususnya pada segmen kendaraan niaga dan pick-up. Langkah ini dilakukan melalui pembinaan intensif terhadap Industri Kecil dan Menengah (IKM) komponen otomotif agar mampu menjadi tulang punggung rantai pasok global.
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kemenperin, Reni Yanita menegaskan bahwa keberpihakan pada produk dalam negeri bukan sekadar pilihan, melainkan keharusan ekonomi. Berdasarkan perhitungan Kemenperin, jika kebutuhan 70.000 unit kendaraan pick-up nasional dipenuhi oleh produksi dalam negeri, maka akan tercipta dampak ekonomi (backward linkage) mencapai Rp 27 Triliun.
“Kemenperin secara proaktif meningkatkan pengembangan industri kendaraan niaga melalui berbagai langkah strategis, termasuk peningkatan penggunaan komponen dalam negeri (TKDN) dan penguasaan teknologi manufaktur. Kami ingin memastikan nilai tambah ekonomi dan penyerapan tenaga kerja dinikmati sepenuhnya oleh rakyat Indonesia,” ujarnya dalam keterangan resmi di Jakarta.
Shutterstock
Kekhawatiran Terhadap Rencana Impor Di sisi lain, munculnya rencana importasi kendaraan operasional untuk Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) oleh PT Agrinas Pangan Nusantara memicu kekhawatiran serius dari para pelaku industri lokal. Perkumpulan Industri Kecil dan Menengah Komponen Otomotif (PIKKO), yang menaungi 110 IKM tier 2 dan 3, menyatakan kekecewaannya melalui surat resmi.
Ketua Umum PIKKO, Rosalina Faried, menyampaikan bahwa saat ini utilisasi produksi IKM komponen nasional masih berada di angka 60-70%. Masuknya kendaraan impor utuh (CBU) dikhawatirkan akan memutus mata rantai ekosistem yang telah dibangun selama belasan tahun.
“Kami memahami adanya kebutuhan mendesak untuk kendaraan operasional, namun kami memohon agar pengadaannya tetap mengutamakan produksi dalam negeri. Industri komponen kita sudah sangat mumpuni. Jika impor dilakukan secara masif, ada sekitar 6.000 tenaga kerja di sepanjang rantai pasok kami yang akan terdampak langsung,” tegas Rosalina Faried dalam pernyataan tertulisnya.
Sinergi Teruji Sinergi antara Kemenperin, IKM, dan industri besar sebenarnya telah terbukti sukses melalui proyek Alat Mekanis Multiguna Perdesaan (AMMDes) pada 2018. Proyek tersebut menjadi bukti nyata bahwa IKM lokal mampu memproduksi komponen krusial untuk kendaraan niaga yang adaptif dengan kebutuhan desa.
PIKKO berharap pemerintah memberikan proteksi lebih kuat terhadap produsen lokal, khususnya di tengah situasi pasar otomotif yang sedang lesu. Pembatasan impor kendaraan niaga, terutama dari negara seperti India, dinilai menjadi kunci agar industri komponen nasional tetap bisa bernapas dan bertumbuh menuju visi Indonesia Maju.
MONITOR, Jakarta - Komisi VIII DPR RI memberikan apresiasi tinggi terhadap manajemen pengelolaan pendidikan di…
MONITOR, Jakarta - Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamen Komdigi), Nezar Patria, telah merampungkan serangkaian…
MONITOR, Jakarta - Ketua Komisi VIII DPR RI, Marwan Dasopang, memberikan dukungan terhadap kebijakan larangan…
MONITOR, Jakarta - Pelindungan terhadap jemaah haji reguler, haji khusus, maupun umrah merupakan bagian dari…
MONITOR, Jakarta - Menteri Agama Nasaruddin Umar merencanakan pembangunan Madrasah Terintegrasi di Ibu Kota Nusantara…
MONITOR, Jakarta - Anggota Komisi IV DPR RI, Prof. Rokhmin Dahuri, mengajak umat Muslim menyambut…