PARLEMEN

Prof Rokhmin: Pembangunan Ramah Lingkungan Syarat Mutlak Indonesia Emas 2045

MONITOR, Jakarta – Anggota Komisi IV DPR RI, Prof. Dr. H. Rokhmin Dahuri, memperingatkan bahwa keberlanjutan masa depan Indonesia sangat bergantung pada kesadaran kolektif terhadap kelestarian lingkungan. Saat ini, dunia termasuk Indonesia sedang dikepung oleh fenomena triple ecological crises atau krisis ekologi rangkap tiga, yakni polusi, hilangnya keanekaragaman hayati, dan pemanasan global.

Peringatan tersebut disampaikan Prof. Rokhmin saat menjadi pembicara kunci dalam Webinar Nasional bertajuk “Ekolinguistik: Bahasa, Lingkungan, dan Kesadaran Ekologis dalam Wacana Publik” yang diselenggarakan Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC) Press dan Kampung Inggris Purbalingga (KEEP), Sabtu (17/1/2026).

Prof. Rokhmin memaparkan data mutakhir dari National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) tahun 2025 yang menunjukkan kenaikan suhu Bumi mencapai 1,47 derajat Celsius di atas era praindustri.

“Kondisi ini memicu gelombang panas ekstrem, kekeringan, dan banjir yang mulai terasa nyata mengancam nyawa. Di Indonesia, deforestasi hingga Oktober 2025 juga telah mencapai tingkat yang sangat mengkhawatirkan akibat kebakaran hutan primer,” ujar Menteri Kelautan dan Perikanan periode 2001–2004.

Guru Besar IPB Universiti tersebut juga menyoroti krisis keanekaragaman hayati yang tercermin dalam Living Planet Report. Data menunjukkan populasi rata-rata satwa liar global menurun drastis hingga 73 persen sejak 1970.

Selain hilangnya ekosistem satwa, Prof. Rokhmin mengingatkan dampak ekonomi dari kerusakan alam. “Hilangnya lahan basah dunia akibat polusi dan alih fungsi lahan berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi global hingga 39 triliun dolar AS pada pertengahan abad ini,” tambahnya.

Kondisi lingkungan di dalam negeri pun tidak kalah kritis. Merujuk pada laporan Kementerian Lingkungan Hidup 2025, Prof. Rokhmin mengungkapkan bahwa 70,7 persen sungai nasional kini berstatus tercemar sedang, sementara hanya 29,3 persen yang masih memenuhi standar kualitas air.

Menutup paparannya, Pakar Kelautan itu menegaskan bahwa Visi Indonesia Emas 2045 hanya akan menjadi angan jika isu lingkungan dikesampingkan.

“Pembangunan ramah lingkungan adalah prasyarat menjadi negara maju. Pengendalian polusi yang ketat, konservasi, serta mitigasi pemanasan global harus menjadi agenda serius jika kita ingin mencapai kualitas lingkungan kategori baik hingga sangat baik di tahun 2045,” pungkas Prof. Rokhmin.

Recent Posts

Menaker: SDM Jadi Kunci Indonesia Emas 2045

MONITOR, Pelalawan — Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli menegaskan bahwa sumber daya manusia (SDM) menjadi kunci…

3 jam yang lalu

TNI Bangun Sumur Bor untuk Warga Bokimaake melalui Program TMMD

MONITOR, Halmahera Timur - Harapan warga Desa Bokimaake, Kecamatan Wasile Tengah, Kabupaten Halmahera Timur, untuk…

4 jam yang lalu

Pendaftaran MagangHub Angkatan II Batch 1 Masih Dibuka hingga 28 Juli 2026

MONITOR, Jakarta — Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) menginformasikan bahwa pendaftaran peserta Program Pemagangan Nasional (MagangHub) Angkatan II…

4 jam yang lalu

Kemenperin Tegaskan Pentingnya Kepatuhan Industri Dalam Pelaporan SIINas

MONITOR, Jakarta - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) kembali menegaskan pentingnya kedisiplinan dan kepatuhan perusahaan industri dalam…

4 jam yang lalu

Mahasiswa KKN FIKOM Universitas Pancasila Gelar Pelatihan Digital Marketing, Perkuat Daya Saing UMKM Desa Tonjong

MONITOR, Bogor – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 2 Fakultas Ilmu Komunikasi (FIKOM) Universitas…

22 jam yang lalu

SETARA Institute Kritik Pelibatan Babinsa dalam Pengawasan Pajak

MONITOR, Jakarta – Ketua Dewan Nasional SETARA Institute, Pers Hendardi, mengkritik pelibatan Bintara Pembina Desa…

23 jam yang lalu