MONITOR – Peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW 1447 Hijriah menjadi ruang refleksi penting bagi umat Islam untuk meneguhkan kembali relasi spiritual dengan Tuhan sekaligus memperkuat tanggung jawab sosial dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Hal itu disampaikan anggota DPR RI Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS, dalam pernyataannya memperingati Isra Mi’raj, Jumat (16/1/2026).
Rokhmin menilai, Isra Mi’raj tidak cukup dipahami sebagai peristiwa historis dalam perjalanan kenabian, melainkan mengandung pesan fundamental tentang pembentukan manusia beriman yang memiliki kesalehan personal dan kesalehan sosial secara seimbang. Dalam konteks tersebut, Isra Mi’raj menjadi titik temu antara dimensi spiritual dan etika sosial Islam.
“Isra Mi’raj adalah momentum untuk memperkuat iman dan takwa kepada Allah SWT, memperbaiki kualitas ibadah, khususnya shalat, serta meneguhkan komitmen untuk menebar kebaikan dan kepedulian sosial,” ujar Rokhmin.
Anggota Komisi IV DPR-RI itu menjelaskan, perintah shalat yang diterima Nabi Muhammad SAW dalam peristiwa Mi’raj menegaskan posisi shalat sebagai fondasi utama pembentukan karakter manusia. Shalat, menurut Rokhmin, tidak berhenti pada dimensi ritual, tetapi harus berdampak pada perilaku sosial yang mencerminkan nilai kejujuran, keadilan, dan empati.
“Shalat yang benar dan berkualitas semestinya melahirkan pribadi yang jujur, amanah, serta memiliki kepedulian terhadap sesama. Di situlah letak hubungan antara ibadah dan etika sosial,” katanya.
Rokhmin menekankan bahwa pesan Isra Mi’raj menjadi semakin relevan dalam konteks kehidupan bangsa saat ini, ketika masyarakat masih dihadapkan pada berbagai persoalan struktural, seperti kemiskinan, ketimpangan sosial, dan melemahnya nilai-nilai moral di ruang publik. Dalam situasi tersebut, nilai-nilai spiritual agama, kata dia, seharusnya hadir sebagai sumber etika publik yang menuntun arah kebijakan dan perilaku sosial.
“Iman tidak boleh berhenti sebagai keyakinan personal. Ia harus terwujud dalam tindakan nyata yang memberi manfaat sosial, seperti solidaritas terhadap kelompok rentan, kepedulian terhadap sesama, dan tanggung jawab dalam menjalankan amanah,” ujar Ketua Umum Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) tersebut.
Dalam konteks kebangsaan, Rokhmin menilai nilai-nilai spiritual yang terkandung dalam peristiwa Isra Mi’raj memiliki relevansi strategis bagi upaya memperkuat kohesi sosial dan etika publik di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk. Ia berpandangan bahwa agama, ketika dipahami secara substantif, dapat menjadi sumber nilai yang mendorong persatuan, moderasi, dan tanggung jawab sosial, sekaligus menjadi fondasi moral dalam menghadapi tantangan pembangunan, mulai dari ketimpangan sosial hingga krisis kepercayaan terhadap institusi publik.
Sebagai akademisi dan tokoh nasional yang lama berkecimpung dalam isu pembangunan berkelanjutan, Rokhmin menilai bahwa ajaran Islam sejak awal menempatkan keseimbangan antara hablum minallah dan hablum minannas sebagai prinsip utama kehidupan. Karena itu, kesalehan individual yang tidak diikuti kesalehan sosial berisiko kehilangan relevansi substansialnya dalam kehidupan bersama.
Dalam perspektif tersebut, Rektor UMMI Bogor itu mengajak umat Islam menjadikan peringatan Isra Mi’raj sebagai sarana evaluasi diri, baik dalam meningkatkan kualitas ibadah maupun dalam memperbaiki relasi sosial di tengah masyarakat yang beragam latar belakang sosial, budaya, dan keyakinan.
“Agama seharusnya menghadirkan keteduhan, memperkuat persatuan, dan mendorong lahirnya tindakan-tindakan yang berorientasi pada kemaslahatan bersama,” kata Prof Rokhmin.
Ketua Dewan Pakar Asosiasi Pemerintah Daerah Kepulauan dan Pesisir se Indonesia (ASPEKSINDO) itu juga menyinggung pentingnya keteladanan nilai-nilai moral dalam kehidupan publik, terutama bagi para pemimpin dan penyelenggara negara. Menurutnya, kejujuran, amanah, dan tanggung jawab merupakan nilai universal yang sejalan dengan pesan Isra Mi’raj dan sangat dibutuhkan dalam pengelolaan kehidupan berbangsa dan bernegara.
Prof Rokhmin berharap, peringatan Isra Mi’raj 1447 Hijriah tidak berhenti pada kegiatan seremonial, melainkan menjadi momentum untuk memperdalam kesadaran kolektif tentang pentingnya iman yang berorientasi pada perbaikan sosial dan penguatan solidaritas kebangsaan.
“Jika nilai-nilai Isra Mi’raj kita aktualisasikan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari, insya Allah akan tumbuh masyarakat yang beradab, adil, dan memiliki solidaritas sosial yang kuat,” ujarnya.
MONITOR, NTB - Menteri Haji dan Umrah Republik Indonesia, Mochamad Irfan Yusuf, melakukan kunjungan supervisi…
MONITOR, Jakarta - Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan (Imipas), Agus Andrianto, memimpin langsung pelaksanaan layanan pemeriksaan…
MONITOR, Tulungagung - Era baru dunia pendidikan Islam di Indonesia resmi dimulai. Kementerian Agama (Kemenag)…
MONITOR - Kebijakan publik, termasuk di sektor pangan, harus dilandasi oleh integritas dan akhlak kepemimpinan.…
MONITOR, Jakarta - Ekoteologi yang dikampanyekan Kementerian Agama sebagai upaya membangkitkan semangat keagamaan dalam menjaga…
MONITOR, Jakarta - Wakil Menteri Haji dan Umrah Republik Indonesia, Dahnil Anzar Simanjuntak, menegaskan bahwa…