PERTANIAN

Anggota DPR: Biosaka ini Hal Baru, Yang Belum Mencoba Jangan Komentar Dulu

MONITOR, Mojokerto – Anggota Komisi IV DPR RI, Mindo Sianipar mengadakan sosialisasi pembuatan Biosaka di Kabupaten Mojokerto, bertempat di Area TPA Karang Diyeng, Kecamatan Kuterejo pada 13/12/2022

Menurut Mindo Sianipar, Biosaka ini memang hal baru dan biasanya memang ada pihak yang belum tentu menerima apalagi ini dapat mengurangi kepentingan orang lain misalnya mengurangi kebutuhan pupuk mengurangi kebutuhan pestisida ini tentu akan ada penolakan-penolakan.

“Jadi menurut saya orang-orang yang nantinya produknya berkurang penggunaannya diharapkan ada pembaharuan produknya supaya lebih kompetitif dan sinergi dengan bahan-bahan alami, untuk beberapa pihak yang belum mencoba sampe 3 kali masa tanam diharapkan jangan berkomentar dulu” ucap Mindo

Mindo menambahkan hari ini petani yang hadir dari Mojokerto, Nganjuk, Jombang dan Madiun diharapkan dapat mengikuti sosisalisasi dengan sungguh-sungguh sehingga dapat ilmu baru yang diharapkan dapat bermanfaat.

“Ini hal baru, mari kita pelajari, mari kita coba jika ini berhasil tentunya sangat bermanfaat karena biaya produksi gabah jelas berkurang tentunya petani akan mendapatkan keuntungan lebih” tambahnya

“Biosaka ini bukan Pupuk, Bukan juga untuk menggantikan Pupuk tapi ini bisa mengurangi biaya produksi petani jadi memang perlu di coba”lanjutnya

Pada Kesempatan yang sama, Muhamad Ansar Penggagas Biosaka menyampaikan bahwa ini merupakan suatu kemajuan adanya dukungan dari Anggota DPR RI Komisi IV, hari ini sudah banyak sekali testimoni bukan hanya dari Blitar tapi beberapa daerah di jawa timur, jawa tengah, bahkan hari ini sudah sampe di Aceh dan Papua dan testimoninya baik.

“Ini suatu kemajuan, suatu suport yang luar biasa dari Anggota Komisi IV DPR RI Bapak Mindo Sianipar, jadi paling tidak ini yang diharapkan terkait pengembangan Biosaka” tutu Ansar

Ansar juga mengatakan bahwa di blitar petani sudah melakukan aplikasi biosaka sejak 4 tahun yang lalu, jadi sudah beberapa kali tanam dan panen dan hasilnya baik, bahkan menurut petani indikasi-indikasi menandakan tanah lebih subur karena tanahnya lebih gembur, mudah di olah, warna lebih gelap. tapi tentunya lebih dari itu diaharapkan adanya penelitian lebih lanjut tentang apa itu biosaka dan apa dampaknya terhadap pertanian di masa depan.

“Petani sudah mencoba, petani sudah menyimpulkan, mereka sebagai pengguna biosaka bukan hanya 1 kali tanam sudah ada yang 4 tahun, sebetulnya ini kan yang banyak di ragukan orang 1kali tanam, 2 kali tanam unsur hara tanah habis terkuras tetapi pengalaman petani sampe saat ini hasilnya masih baik” Ungkap ansar

“Saya hanya ingin berbagi pengalaman atas apa yang telah dilakukan, paling tidak hari ini sudah terbukti bagaimana dampak dari biosaka melalui testimoni-testimoni dan praktek di lapangan bukan analisa akademis. Keberhasilan ini saya hanya ingin membagi apa yang kita peroleh di peroleh juga oleh orang lain bertani dengan biaya yang murah namun hasilnya tetap maksimal” tambahnya

Sementara itu Prof, Robert Manurung Akademisi ITB yang hadir pada kesempatan yang sama mengatakan Bioasaka ini bukan untuk menggantikan pupuk namun dapat mengurangi penggunaan pupuk sintetis, sehingga dapat mengurangi biaya produksi dan otomatis menguntungkan.

“Di tengah mahalnya harga pupuk dan pestisida saat ini menurut saya ini momentum untuk membantu petani dengan cara pengurangan penggunaan pupuk sintetis, dengan biosaka ini biaya produksi bisa minim sehingga produksi dan harga gabah petani tidak terlalu menjadi persoalaan bagi petani” ujar Prof Robert

Terpisah Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Suwandi mengungkapkan Biosaka itu bukan pupuk, bukan pestisida, tetapi elisitor berperan sebagai signaling bagi tanaman tumbuh dan berproduksi lebih bagus, hemat pupuk kimia sintetis, meminimalisir hama penyakit, lahan mjd lebih subur. Biosaka ini disebut elisitor dari ilmu epigenetic, sudah banyak riset dan jurnal tentang elisitor.

“Di lokasi ujicoba demplot standingcrop jagung, padi dengan biosaka lebih bagus dibandingkan tidak biosaka, produksi lebih tinggi dengan hemat 50% pupuk kimia “ kata Suwandi. Lebih jauh Suwandi menjelaskan bahwa manfaat ramuan biosaka adalah biaya nol rupiah gratis dapat di buat sendiri, tidak ada risiko kerugian bagi petani, dan menghemat biaya pupuk kimia 50-90%. “ Telah dilakukan kajian lanjut dan sudah banyak petani di daerah lain menerapkan biosaka ” tambahnya.

Recent Posts

Kemenag Jabar Salurkan Bantuan Sembako dan Alat Pengungsi Longsor Cisarua

MONITOR, Jakarta - Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Barat menyalurkan bantuan kemanusiaan berupa sembako…

46 menit yang lalu

DPR Soroti Denda Lingkungan Rp4,8 Triliun dari 28 Perusahaan

MONITOR, Jakarta - Anggota Komisi XII DPR RI, Ratna Juwita Sari, menyoroti denda dan pencabutan izin…

3 jam yang lalu

Dampak Geopolitik Global, Anis Matta Ingatkan 2026 Jadi Tahun Berat Bagi Indonesia

MONITOR, Jakarta - Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia sekaligus Wakil Menteri Luar Negeri…

4 jam yang lalu

Wamenhaj: Tahun Ini, Haji Afirmatif Fokus Lindungi Perempuan dan Lansia

MONITOR, Jakarta - Visi utama penyelenggaraan haji 2026, yakni haji yang berkeadilan, berempati, dan berpihak…

5 jam yang lalu

Yudisium UIN Jember, Dari Isu Zina hingga Korupsi Jadi Topik Skripsi Terbaik

MONITOR, Jakarta - Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember…

6 jam yang lalu

Prof. Rokhmin: Ekonomi Biru Kunci Menuju Indonesia Emas 2045

MONITOR, Jakarta - Anggota Komisi IV DPR RI, Prof. Rokhmin Dahuri, menegaskan bahwa potensi besar…

8 jam yang lalu