Senin, 20 September, 2021

Gubernur BI Ungkap 4 Tantangan Pemulihan Ekonomi yang Lebih Kuat

MONITOR, Jakarta – Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengungkapkan, terdapat empat tantangan bank sentral dalam menghadapi peradaban baru akibat pandemi covid-19.

Pertama, yaitu resiliensi atau kapasitas BI merespons secara cepat perubahan-perubahan perbankan akibat pandemi, yang bertujuan mendorong perekonomian menjadi lebih kuat.

Kemudian kedua, lanjut Pery, tantangan digitalisasi. Ia menilai, akselerasi ekonomi dan keuangan digital nasional yang menjadi game-changer selama pandemi, serta digitalisasi di berbagai bidang lain, terbilang cepat berubah.

“Ketiga, inklusi, yaitu perlunya akselerasi inklusi ekonomi dan keuangan, khususnya pada UMKM dan sektor pertanian melalui klasterisasi, kewirausahaan, akses pembiayaan, dan digitalisasi,” ujar Perry dalam sebuah webinar, Kamis (2/9/2021).

- Advertisement -

Keempat, BI harus merespons skema ekonomi hijau atau green economy. Terdapat tekanan untuk ramah lingkungan yang semakin tinggi, perlu direspons melalui kebijakan reformasi struktural maupun digitalisasi.

Perry mengatakan, respons BI terhadap masing-masing tantangan tersebut. Pertama, implementasi bauran kebijakan bank sentral (central bank policy mix) akan terus berlanjut. Tidak hanya terkait kebijakan suku bunga, tetapi juga untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

Kedua, BI terus mendorong digitalisasi ekonomi dan keuangan dengan terus mendukung akselerasi digital banking, fintech, e-commerce, dan industri sistem pembayaran.

“Ketiga, berkoordinasi dengan pemerintah guna memperkuat pemulihan ekonomi, antara lain mendukung dan mempromosikan UMKM,” ucap Perry

“Terakhir keempat, green economy and finance, melalui dukungan kebijakan makroprudensial yang ramah terhadap lingkungan, antara lain kebijakan pembiayaan berwawasan lingkungan atau green financing.”

Sementara itu, Kepala Bank Indonesia Institute (BINS), Solikin M. Juhro, menyampaikan BI melalui BINS akan terus memperluas dan meningkatkan kerja sama strategis dengan mitra dalam dan luar negeri lainnya guna menciptakan ekosistem riset atau penelitian yang kuat di Indonesia.

Perluasan dan peningkatan kemitraan strategis dilakukan dengan berbagai institusi antara lain Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI), berbagai perguruan tinggi, akademisi, lembaga penelitian di Indonesia, dan mitra strategis lainnya.

- Advertisement -

BERITA TERKAIT

TERPOPULER