DAERAH

Kementan Kawal Sumba Tengah Kendalikan Populasi Belalang Kembara

MONITOR, Sumba Tengah – Populasi belalang kembara (Locusta migratoria) di Kecamatan Umbu Ratu Nggay, Sumba Tengah, Nusa Tenggara Timur (NTT) mengalami peningkatan. Hama ini ditemukan di areal padang rumput (savana) dan pertanaman jagung di Desa Tanambanas, Tanambanas Barat, Tanambanas Selatan, Lenang dan Lenang Selatan.

Bupati Sumba Tengah, Paulus S. K. Limu, cepat tanggap memimpin dan mengerahkan seluruh jajaran terkait seperti Dinas Pertanian, UPT Proteksi Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan, serta BPD Kabupaten untuk turut serta mengendalikan hama belalang kembara. “Sedini mungkin hama belalang ini harus dikendalikan sebelum membentuk kelompok yang lebih besar dan merusak produksi tanaman jagung,” ungkap Paulus saat dihubungi hari Minggu (14/3).

Belalang kembara, merupakan spesies polimorfik yang mengalami tiga kali transformasi populasi yaitu fase soliter, fase transisi, dan fase gregarius. Serangga ini dapat berubah dari fase soliter menjadi fase gregarius jika terjadi kenaikan kepadatan populasi sehingga belalang kembara fase soliter saling berdekatan dan beragregasi.

Dalam fase soliter, belalang kembara bukanlah merupakan hama yang merusak karena populasinya berada di bawah ambang luka ekonomi dan perilakunya tidak rakus. Tahap berikutnya fase transisi, yaitu ketika populasi belalang kembara sudah cukup tinggi dan mulai membentuk kelompok-kelompok kecil.

Fase transisi, sudah perlu diwaspadai karena apabila kondisi lingkungan mendukung maka belalang kembara akan membentuk fase gregrarius. Fase gregarius, merupakan fase ketika kelompok-kelompok belalang kembara telah bergabung dan membentuk gerombolan besar yang sangat rakus dan merusak.

Gabriel Bara Beni, Kepala UPT Proteksi Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (PTPHP) Provinsi NTT, mengerahkan petugas Pengendali OPT untuk segera melakukan pengendalian hama belalang dengan insektisida. Gabriel menjelaskan gerakan pengendalian harus dilakukan sedini mungkin sebelum belalang kembara membentuk gerombolan besar yang sangat merusak. “Akan lebih mudah jika pengendalian dilakukan pada saat serangga masih kecil atau instar awal karena pergerakannya masih terbatas,” ujarnya.

Labih lanjut Gabriel menjelaskan gerakan pengendalian hama belalang telah dilakukan oleh tim Direktorat Perlindungan, Dinas Pertanian Sumba Tengah, BPD Sumba Tengah, UPT PTPHP, petugas lapangan dan juga masyarakat yang berada di Kecamatan Umbu Ratu Nggay. Secara kumulatif, spot serangan belalang kembara di beberapa desa sementara ini dilaporkan sejumlah 500 ha. Luas pengendalian hama belalang yang telah dilakukan hingga saat ini seluas 1.365 Ha.

“Kami menggunakan insektisida yang berbahan aktif beta sipermetrin untuk mengendalikan populasi belalang. Insektisida ini dapat membunuh serangga dengan cepat dan memiliki kadar toksisitas rendah terhadap mamalia,” sebutnya.

Gerakan pengendalian OPT merupakan langkah responsif untuk menurunkan populasi hama dan mencegah terjadinya ledakan hama dalam rangka mengamankan produksi pangan nasional. Gerdal OPT dapat dilakukan sebelum terjadinya serangan OPT sebagai langkah preemtif. “Untuk pengendalian hama belalang, sebaiknya dilakukan ketika populasi belalang masih rendah dan belum menyebabkan kerusakan yang besar,” ujar Mohammad Takdir Mulyadi, Direktur Perlindungan Tanaman Pangan saat meninjau lokasi pertanaman jagung yang terserang hama belalang.

Bantuan sarana pengendalian berupa mistblower sebanyak 10 unit diberikan oleh Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan, untuk memudahkan aplikasi penyemprotan pestisida.

Terpisah, Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Suwandi, menegaskan dukungannya dalam pengawalan produksi tanaman pangan dari serangan OPT. “Pemerintah pusat, Pemerintah Daerah, Dinas Pertanian tingkat provinsi maupun kabupaten berserta jajarannya hingga petugas lapangan (POPT dan penyuluh) serta masyarakat (petani) selalu bersinergi mengawal pengamanan produksi tanaman pangan dari serangan OPT,” jelas Suwandi. Hal ini sesuai dengan arahan Menteri Pertanian, yaitu semua jajaran Kementan dari pusat sampai daerah harus terus mengawal dan mengamankan produksi pangan nasional dari serangan OPT.

Recent Posts

Menaker: Kunci Wirausaha Bukan Sekadar Dapat Pelanggan, tapi Menjaga Hubungan

MONITOR, Bandung Barat – Menteri Ketenagakerjaan (Menaker), Yassierli, mengatakan salah satu kunci keberhasilan dalam berwirausaha…

3 jam yang lalu

Kemenperin Sampaikan Duka Cita Mendalam Atas Insiden Kebakaran Pabrik di KEK Sei Mangkei

MONITOR, Jakarta - Kementerian Perindustrian menyampaikan rasa duka cita yang mendalam atas musibah kebakaran yang…

3 jam yang lalu

Majelis ASTACITA Gelar ‘Maulid Nabi dan Dzikir Kemerdekaan’ di Karawang, Gaungkan Jaga Rawat Jabar

MONITOR, Karawang — Dalam rangka memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW sekaligus merawat semangat kemerdekaan…

4 jam yang lalu

Capai 75 Ribu Pendaftar PPIH 2027 Non Nakes, Kemenhaj Gelar CAT Dua Gelombang

MONITOR, Jakarta - Lebih dari 75 ribu orang mendaftar Seleksi Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH)…

5 jam yang lalu

Partai Gelora Soroti Perubahan Data Desil DTSEN

MONITOR, Jakarta — Penerapan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) sebagai basis tunggal penyaluran bantuan…

5 jam yang lalu

Verifikasi Seleksi PPIH 2027 Tetap Berjalan, CAT Dilaksanakan Dua Gelombang

MONITOR, Jakarta - Kementerian Haji dan Umrah memastikan proses Seleksi Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH)…

7 jam yang lalu