Rabu, 20 Oktober, 2021

Jalankan Tradisi Imlek, Sekjen PDIP: Supaya Rejekinya Enggak Hilang

"Ternyata ada prosesi untuk jangan menyapu rumah dari belakang ke depan rumah“

MONITOR, Jakarta – Sekjen DPP PDI Perjuangan (PDIP), Hasto Kristiyanto, mengaku dirinya menjalankan ritual khusus untuk merayakan Imlek di 2021 ini, yakni menyapu rumahnya hingga menanak nasi dengan cara khusus.

Hal itu disampaikan Hasto ketika berbicara di perayaan Imlek 2021 yang digelar virtual oleh DPP PDI Perjuangan (PDIP) dengan tema ‘Imlekan Bareng Banteng’, Jakarta, Jumat (12/2/2021). Acara itu ditayangkan secara langsung di channel resmi PDIP @pdiperjuangan.

Hasto mengungkapkan bahwa melakukan ritual itu setelah berbincang dengan banyak temannya dari etnis Tionghoa soal perayaan Imlek. Dan ternyata ada sejumlah tradisi yang memiliki makna tersendiri. 

“Ternyata ada prosesi untuk jangan menyapu rumah dari belakang ke depan rumah, tetapi dari depan ke belakang. Ya saya ikutin itu, saya jalanin, supaya rejekinya enggak hilang,” ungkapnya. 

- Advertisement -

“Kemudian memasak di rice cooker, kita isi dengan nasi sampai penuh. Itu mencerminkan agar bangsa Indonesia bisa sejahtera, rakyatnya cukup sandang pangan. Simbol-simbol kesejahteraan itu simbol dari Imlek,” ujar Hasto melanjutkan.

Tak hanya itu, Hasto mengatakan, soal baju baru ia juga memakai hal yang sama. Jaket merah yang dipakainya hari ini baru dipakai saat perayaan ‘Imlekan Bareng Banteng’.

“Inilah kemudian yang mengangkat bahwa Imlek kita rayakan, sama kemarin Harlah NU juga dirayakan oleh PDI Perjuangan,” katanya.

Soal acara Imlekan Bareng Banteng itu sendiri, Hasto menyampaikan bahwa ini wujud PDIP sebagai rumah kebangsaan dari semua warga negara. Dan perayaan Imlek adalah wujud nyata keseriusan PDIP merawat kebhinnekaan.

“Ya inilah PDI Perjuangan sebagai rumah kebangsaan Indonesia raya, kami selalu diajarkan oleh Ibu Megawati Soekarnoputri bagaimana kita harus selalu mengggelorakan semangat kebangsaan semangat Indonesia untuk semua,” ungkapnya.

“Karena itulah Imlek, kita bisa melihat bagaimana Indonesia dibangun oleh semuanya dengan cara gotong royong termasuk juga kelompok Tionghoa,” ujar Hasto melanjutkan.

Kemudian, bagi Hasto, kebudayaan membentuk jati diri Indonesia sebagai bangsa. Beragam suku agama telah membentuk identitas nasional. Hasto mencontohkan, pebulutangkis Rudi Hartono yang berdarah Tionghoa telah menjadi idolanya sejak kecil.

Hasto meyakini semangat Rudi saat itu adalah bagaimana merah putih berkibar, tak ada bicara soal warna kulitnya atau genetik dirinya.

Hal itu pulalah yang menjadi landasan PDIP dalam politik. Untuk Pilkada hingga pemilihan legislatif, yang dilihat adalah kualitas kepemimpinan, ideologi Pancasila, leadership, manajemen, hingga kemampuan mengatasi masalah.

“Kalau tadi kita lihat ada Pak Rudianto Tjen, ada Pak Darmadi, ada Pak Charles Honoris, semuanya bergabung karena satu identitas sebagai satu warga negara Indonesia. Bukan asalnya dari mana, itu prinsip PDI Perjuangan,” katanya.

- Advertisement -

BERITA TERKAIT

TERPOPULER