Kamis, 28 Oktober, 2021

Imlek Singkawang Wujud Pluralisme Indonesia

Oleh: Haris Zaky Mubarak, MA*

Jika ditarik dari apa yang berkembang pasca kemerdekaan Indonesia. Singkawang bertransformasi heterogenitas yang kuat meskipun dalam periode tahun 1950 an hingga tahun 1990 an tekanan itu masih dalam bayang koloni kekuasaan kontrol negara terhadap upaya kontestasi etnisitas berlebih.

Kolonisasi pemerintah masa Soeharto akan adanya kontestasi primordial berlebih yang hadir di daerah pasca gerakan 30 September 1965.

Masyarakat etnis seperti Cina mengalami pembatasan hak yang sangat ketat bahkan hak-hak politik juga mengalami pembatasan yang signifikan.

- Advertisement -

Disisi lain respon politik yang beragam dalam ranah politik lokal di Singkawang dan Kalimantan Barat juga turut serta mengambil porsi jarak dinamisnya kehidupan masyarakat di Singkawang.

Kelompok etnik Cina, menurut beberapa literatur, bukanlah suatu kelompok yang homogen. Etnik Cina begitu beragam hampir seperti suku yang ada di negara kepulauan Indonesia.

Saat Soekarno berkuasa, etnik Cina mempunyai hak berekspresi baik dalam segi kebudayaan maupun keyakinan, perayaan subkultur mereka.

Etnik Cina masa Soeharto dilarang berkembang, baik perayaan budaya maupun persoalan keyakinannya yang tidak diakui secara resmi oleh negara.

Setelah masa Soeharto berakhir pada tahun 1998, etnik Cina Indonesia mempunyai hak mengekspresikan budaya, bahasa dan agama / kepercayaannya. Pada tahun 2003, Tahun Baru Cina (Imlek) dinyatakan hari libur nasional. Penghapusan ini buah kebijakan pasca berakhirnya masa pemerintahan Soeharto dan politik nasional yang luas.

Jejak Sejarah

Etnik Cina di Kota Singkawang adalah mayoritas, tetapi ukuran Kalimantan Barat mereka bukan mayoritas. Singkawang hanyalah daerah di Indonesia yang dikenal dengan perayaan Cap Go Meh.

Dengan demikian, tempat- tempat seperti Singkawang menjadi daya tarik pariwisata domestik dan wisatawan internasional.

Perayaan Cap Go Meh merupakan bagian Tahun Baru Imlek pasca reformasi Indonesia dijadikan sebagai ajang kerukunan dalam masyarakat Singkawang. Perayaan Cap Go Meh setiap tahunnya menjadi wadah masyarakat bersama menikmati hiburan.

Inilah yang menjadi perekat toleransi masyarakat etnik Cina dengan etnik Melayu dan suku Dayak. Dalam perayaan Cap Go Meh, terdapat atraksi pawai Tatung yang merupakan akulturasi dari hasil kesepahaman yang dimiliki masyarakat Singkawang.

Tatung berasal dari bahasa Hakka dan diserap dalam bahasa lokal yang diartikan manusia yang dirasuki roh dewa.

Etnik Cina di Singkawang memiliki keunggulan dalam menyampaikan pesan-pesan dengan menggunakan simbol dibentuk berdasarkan kesepakatan menggunakan atribut pribumi (Melayu dan Dayak) perayaan Cap Go Meh dan pawai Tatung dengan melibatkan etnik pribumi sebagai perayaan itu.

Realitas inilah yang dikemas oleh etnik Cina dan Pribumi menjadi wujud ritual budaya toleransi dikomunikasikan sehingga membuat terciptanya akulturasi budaya antara etnik Cina dan Pribumi di Kota Singkawang.

Pesan moral pawai Tatung dari dulu hingga masa sekarang selalu mengalami perubahan yang menonjol, baik dari dari segi umur, jenis kelamin, maupun atribut pakaian yang digunakan.

Atribut pakaian yang digunakan dalam perayaan pawai Tatung tak hanya atribut etnik Cina namun atribut adat etnik Pribumi, suku Dayak. Hal ini membuktikan terciptanya hubungan antara etnik Cina dan pribumi yang melambangkan penyatuan budaya antar etnik, sehingga menciptakan integrasi serasi Singkawang.

Pawai Tatung mendidik masyarakat Singkawang supaya menjadikan perbedaan sebagai dasar membangun masyarakat harmonis.

Bahasa Melayu dijadikan bahasa keseharian supaya mempermudah komunikasi antaretnik menyampaikan dan menerima informasi. Keberagaman Singkawang dalam perayaan pawai Tatung membuktikan kerukunan umat beragama dan menghormati perbedaan.

Etnik Cina umumnya memiliki kekurangan tak bisa menggunakan bahasa Indonesia secara baik. Namun, di Singkawang mereka menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa keseharian sehingga terjadi saling memahami dalam berkomunikasi antara Cina dan etnik Pribumi di Singkawang.

Selain itu, etnik Cina juga terdorong untuk mengatur kehidupan mereka sendiri tapi menariknya dalam proses interaksi yang terjadi di Singkawang.

Karena persebaran yang merata pada beberapa titik konsentrasi kota seperti halnya pasar maka masyarakat etnik lain seperti Dayak dan Melayu cukup memahami dan mengerti jika pada beberapa hal tertentu kelompok masyarakat Cina tidak mau untuk terlalu dicampuri urusan mereka.

Pluralitas Masyarakat

Hal menarik lainnya yang terjadi di Singkawang adalah terjadinya proses perbauran. Leluhur etnik Cina adalah bangsa agraris. Adapun ciri adat istiadatnya adalah mengagungkan kepercayaan terhadap hal-hal gaib, roh, serta leluhur (animistik).

Disamping itu, juga sangat menjunjung tinggi etika dan upacara dalam bermasyarakat serta mementingkan kehidupan mental daripada material.

Penghormatan kepada leluhur menjadi titik kepercayaan tradisional Cina sebelum mereka mengenal filsafat dan agama.

Festival Cap Go Meh merupakan kegiatan tahunan yang diadakan Pemerintah Kota Singkawang, Kalimantan Barat. Semua elemen masyarakat ikut ambil bagian termasuk dari masyarakat etnis Tionghoa, Melayu dan Dayak.

Festival Cap Go Meh ini dimanfaatkan masyarakat Festival Cap Go Meh pada tahun 2015 ini dimeriahkan oleh Festival Patung, Pemilihan Duta Wisata Kota Singkawang,

Pawai Lampion dan Pentas Seni Budaya Tionghoa. Biasanya masyarakat yang hadir berasal dari masyarakat etnis Tionghoa yang berhasil di luar kota Singkawang. Selain itu juga ada wisatawan yang berasal dari Cina dan Malaysia.

Festival Cap Go Meh ini merupakan bukti bahwa pelestarian budaya merupakan kebutuhan setiap orang serta negara untuk mengapresiasi keunikan, keindahan, dan nilai yang berupa keanekaragaman kekayaan alam, budaya, dan hasil buatan manusia.

Hal ini sesuai dengan yang tercantum pada Undang Undang Republik Indonesia No.10 tahun 2009 tentang Kepariwisataan. Selain budaya Festival Cap Go Meh yang terkenal akan kemeriahannya, Singkawang kaya akan potensi pariwisata.

Citra Singkawang sebagai kota amoy, kota seribu kuil, dan kota pariwisata akan membuat wisatawan merasa belum lengkap kalau belum datang ke Singkawang, dan ini menjadi salah satu daya tarik wisatawan berkunjung di Kota Singkawang.

Tradisi budaya berkembang di masyarakat dan ini sukses dalam merepresentasikan pengalaman historis dari perjalanan dan dinamika sebuah kota.

Begitu juga dalam narasi Islam di Singkawang, Dalam konteks sejarah dan realitas warga keturunan Tionghoa saat ini di Kalimantan Barat, kajian ini ingin mengetahui keberadaan Tionghoa Muslim di sana. Ini terkait dengan kehadiran perkembangan Islam di lingkungan suku Tionghoa di Kalimantan Barat yang tidak begitu pesat sebagaimana pengaruh Tionghoa Muslim di Pulau Jawa yang sukses.

Muslim yang ada di Singkawang umumnya adalah orang mualaf (orang baru masuk agama Islam). Mereka menjadi Muslim karena pernikahan atau karena diambil anak asuh oleh keluarga muslim. Kelompok muslim kenyataan hidup berdampingan damai antara komunitas Melayu dengan komunitas Tionghoa dengan budaya dan keyakinan masing- masing.

Melayu dengan keyakinannya Islam, dan Tionghoa dengan keyakinannya Konghucu. Kesan berdampingan ini ditandai dengan adanya masjid pertama dan Pekong di Singkawang yang letaknya amat berdekatan. Berjarak kurang 50 meter saja masjid dan pekong.

Jejak komunitas Tionghoa Muslim di Kalimantan Barat yang paling terlihat adalah kehadiran organisasi Tionghoa muslim, Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI).

Organisasi ini didirikan dan berpusat di Jakarta, pada 14 April 1961. Pendirinya antara lain oleh Abdul Karim Oei Tjeng Hien, Abdusomad Yap A Siong dan Kho Goan Tjin. PITI ini merupakan gabungan kelompok Persatuan Islam Tionghoa (PIT) yang dipimpin oleh Alm Abdusomad Yap A Siong dan juga Persatuan Muslim Tionghoa (PMT) dipimpin oleh Kho Goan Tjin. (Kemendikbud : 2018)

Organisasi PITI di Kalimantan Barat berdiri dalam bentuk cabang Kalimantan Barat yang diketuai oleh Budi Andika. PITI yang mereka akui sebagai organisasi pembinaan muallaf tak saja membina Muslim Tionghoa, tapi juga muallaf dari suku Dayak di Kalimantan Barat. Demikianlah interaksi yang terjadi di Singkawang dalam hal keberagaman dan toleransi.

Keberadaan proses pluralitas tak hanya hadir dalam hal ajeg tetapi juga seringkali hadir dalam banyak pertentangan dan perbedaan perspektif. Konteks inilah yang penting dalam melihat makna pluralitas sebenarnya.

Penulis adalah Sejarawan dan Direktur Jaringan Studi Indonesia

- Advertisement -

BERITA TERKAIT

TERPOPULER