POLITIK

PKS: Pilkada di Tengah Pandemi Menggerus Kualitas

MONITOR, Jakarta – Ketua DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Mardani Ali Sera, mengungkapkan bahwa pelaksanaan Pilkada Serentak di tengah pandemi Covid-19 akan menggerus kualitas dari pilkada itu sendiri.

“Selain berpotensi menimbulkan cluster baru, melaksanakan pilkada di tengah pandemi berpeluang menggerus kualitas pilkada, mengingat tendesi yang dibangun hanya ‘yang penting pilkada jalan’. Amat disayangkan karena mahalnya biaya pilkada tidak sebanding dengan kualitas yang dihasilkan,” ungkapnya dalam keterangan tertulis yang diterima MONITOR, Jakarta, Kamis (24/9/2020).

Mardani menyebutkan, setidaknya ada beberapa alasan kenapa kualitas Pilkada Serentak yang dilaksanakan di tengah pandemi itu tergerus, misalnya saja banyaknya sarana kampanye yang hilang.

“Sebut saja seperti kegiatan sosial, kebudayaan, maupun olahraga yang mengumpulkan banyak warga. Padahal salah satu faktor utama pemilih ingin ke TPS karena tertarik pada kandidat,” ujarnya.

Sementara ketertarikan itu, menurut Mardani, muncul setelah pasangan calon (paslon) kepala daerah menghadiri sosialisasi maupun kampanye yang dilakukan langsung oleh kandidat.

“Padahal di tengah pandemi Covid-19 hal tersebut sulit dilakukan secara maksimal. Rencana kampanye secara daring kurang efektif terlebih pada beberapa wilayah yang tidak memiliki akses jaringan internet memadai,” katanya.

Kemudian, Mardani pun mempertanyakan tentang penerapan protokol kesehatan yang ketat itu akan seperti apa mekanismenya nanti.

“Kita melihat peristiwa tanggal 4-6 September yang lalu ketika pendaftaran paslon ke KPU, protokol kesehatan tidak diindahkan. Lalu ‘protokol yang ketat’ yang dimaksud seperti apa? Perlu didetailkan,” ungkapnya.

Jika tidak jelas seperti itu, Mardani menilai, maka akan ada potensi turunnya partisipasi masyarakat di Pilkada Serentak 2020 nanti yang menjadi salah satu syarat suksesnya sebuah pelaksanaan pilkada.

Menurut Mardani, jika partisipasi masyarakat menurun atau berkurang, maka potensi kecurangan dalam pilkada akan semakin tinggi.

“Bisa menimbulkan potensi kecurangan dalam pilkada seperti potensi manipulasi suara, penyalahgunaan kertas suara atau bahkan meningkatnya potensi politik uang di masyarakat,” ujarnya.

Terakhir, Mardani menambahkan, pelajaran penting yang bisa diambil dari pelaksanaan pilkada di tengah pandemi itu adalah jangan sampai memaksakan pilkada tapi tidak memperhatikan kualitas dari pilkada itu sendiri.

“Kualitas proses akan mempengaruhi hasil dan perlu diingat, hasil dari pilkada akan dirasakan dalam jangka waktu yang panjang oleh masyarakat,” katanya.

Recent Posts

Kementerian UMKM Perkuat Ekosistem Laundry melalui Pemetaan Usaha

MONITOR, Jakarta - Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Maman Abdurahman mendorong pengusaha dan…

3 jam yang lalu

Kemenag Rp80,2 Miliar untuk Pulihkan Sarpras 902 Pesantren di Aceh

MONITOR, Jakarta - Kementerian Agama menyiapkan bantuan Rp80,215 miliar untuk pemulihan sarana dan prasarana pascabencana…

3 jam yang lalu

Kemenhaj Kawal 282 Jemaah Umrah PT AAT, Keberangkatan Dijadwalkan Bertahap Mulai 15 September

MONITOR, Jakarta - Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI terus memperkuat pengawasan dan pelindungan terhadap…

4 jam yang lalu

Kemnaker: Pekerja Perlu Pahami Hak dan Kewajiban Sebelum Menandatangani Perjanjian Kerja

MONITOR, Jakarta — Kementerian Ketenagakerjaan mengingatkan pekerja untuk memahami hak dan kewajiban serta mencermati isi…

4 jam yang lalu

Menag: MTQ Nasional Punya Makna Sosial dan Kebangsaan yang Sangat Besar

MONITOR, Semarang - Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional XXXI di Semarang dibuka oleh Menko Bidang…

6 jam yang lalu

Dari Teh hingga Agrowisata, Dana Bergulir LPDB Perkuat Bisnis Puskopkar PTPN VIII

MONITOR, Jakarta - Pusat Koperasi Karyawan (Puskopkar) PTPN VIII terus memperluas lini bisnis untuk memperkuat…

1 hari yang lalu