Ketua Komisi X DPR Syaiful Huda (dok: detik.com)
MONITOR, Jakarta – Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan Lembaga Pendidikan Maarif Nahdatul Ulama (NU) memutuskan keluar dari Program Organisasi Penggerak (POP). Kedua ormas terbesar di Indonesia ini sama-sama mengungkapkan bahwa ada kejanggalan dalam proses seleksi.
Terkait hengkangnya kedua ormas ini, Ketua Komisi X DPR RI Syaiful Huda menegaskan langkah apa yang akan dilakukan Kemendikbud terutama metode seleksi dalam program tersebut.
“Setelah Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama mundur dari POP Kemendikbud RI, patut dipertanyakan metode seleksinya seperti apa?” tanya Syaiful Huda, Kamis (23/7).
Politikus PKB ini pun mengingatkan, kontribusi besar yang sudah ditorehkan Muhammadiyah dan NU dalam dunia pendidikan di negeri ini.
“Sejarah pengabdian NU dan Muhammadiyah di dunia pendidikan, jangan samakan dengan Lembaga pengelola CSR yang baru tumbuh,” imbuh Huda mengingatkan.
Sebagaimana diketahui, Program Organisasi Penggerak telah diluncurkan Kemendikbud pada tanggal 2 Maret 2020 lalu. Organisasi Penggerak ini diharapkan dapat menginisiasi Sekolah Penggerak, yaitu sekolah yang mampu mendemonstrasikan kepemimpinan pembelajaran (instructional leadership) terutama dari kepala sekolah dan guru di dalamnya.
MONITOR, Indramayu – Arus balik Lebaran tak hanya identik dengan perjalanan panjang, tetapi juga tradisi membawa…
MONITOR, Cikampek – Gelombang arus balik Idulfitri 1447H/2026 dari wilayah Timur Trans Jawa menuju Jakarta melonjak…
Adriansyah (Ketua Umum IKAL FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta) Keputusan Perdana Menteri Anwar Ibrahim menolak…
Jakarta - PT Jasa Marga (Persero) Tbk mencatat kondisi lalu lintas mencatat lalu lintas yang…
MONITOR, Cirebon – Dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan Tempat Istirahat dan Pelayanan (TIP) pada periode…
MONITOR, Jakarta - Maxim Indonesia mengumumkan telah melampaui kehadiran di 400 kota di Indonesia, menegaskan…