POLITIK

Fahri Hamzah: Partai Gelora Siapkan ‘Darah Segar’ Pemimpin Baru Bangsa

MONITOR, Jakarta – Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia menegaskan, siap menjawab tiga tantangan yang tengah dihadapi bangsa Indonesia dengan menyiapkan ‘darah segar’ pemimpin baru, yang akan memimpin perjalanan bangsa ini selanjutnya.

“Partai Gelora akan menjadi armada yang menghadirkan ‘darah segar’ pemimpin-pemimpin baru bangsa yang mengerti betul masalah mendasar dan tantangan bangsa Indonesia,” kata Wakil Ketua Umum Partai Gelora Indonesia saat membuka pelaksanaan ‘GELORA DIGIFEST 2020’ di Jakarta, Jumat (17/7/2020) malam.

Menurut Fahri, saat ini ada tiga tantangan yang menjadi masalah mendasar bangsa Indonesia, yakni kegamangan naratif, kapasitas negara dan kapasitas pemimpin.

Hal ini menyebabkan negara tidak bisa menyelesaikan berbagai persoalan berulang, tidak hanya persoalan sosial, politik, ekonomi, tapi juga kriminalitas seperti korupsi dan narkoba.

Sehingga kejadian tersebut, telah menguras energi bangsa, yang seharusnya telah menjadikan Indonesia sebagai kekuatan lima besar dunia.

Kegamangan naratif, itu antara lain adanya suatu kelompok yang ingin mereduksi Pancasila menjadi Trisila atau Ekasila. Padahal perdebatan hal itu, sudah selesai dengan disahkannya versi akhir Pancasila sebagai falsafah negara dalam Pembukaan UUD 1945.

“Tapi masih ada kelompok yang ingin mereduksi atau menyinggung lagi Pancasila. Ini yang saya sebut sebagai kegalauan naraktif,” katanya.

Sedangkan mengenai kapasitas negara, terlihat sekali bahwa kapasitas negara semakin melemah, bahkan dikalahkan oleh media sosial (medsos). Akibatnya negara melakukan patroli untuk mengintip percakapan pribadi warganya di medsos maupun pribadi.

“Seharusnya negara itu, bagaimana meningkatkan pendapatan perkapita kita yang baru naik 4.000 USD, kalah jauh dibandingkan Malaysia, Singapura, Tiongkok dan Taiwan. Masih banyak masyarakat kita yang hidup dibawah garis kemiskinan, begitu harga beras naik puluhan orang langsung amblas dibawah garis kemiskinan. Kalau kerjanya hanya mengintip percakapan pribadi dan medsos, itu menandakan bahwa kapasitas negara kita melemah,” tegas Fahri.

Sementara terkait kapasitas pemimpin, Fahri menilai cara pandang masyarakat kepada pemimpinnya saat ini semakin memprihatinkan dan menyedihkan, bahkan di olok-olok, padahal mereka ibaratnya bukan manusia biasa, karena seorang pemimpin.

“Melihat pemimpin itu seperti getir, reputasi pemimpin gampang dijatuhkan dan gampang jatuh menjadi manusia biasa. Tapi yang lebih menyedihkan adalah kapasitas pemimpin lainnya,” ujar mantan Wakil Ketua DPR Periode 2014-2019 ini.

Karena itu, bagi Fahri, tidak ada jalan lain untuk mengatasi persoalan krisis berlarut ini, yakni dengan mengganti kepemimpinan baru dengan ‘darah yang lebih segar’, yang akan dipersembahkan oleh Partai Gelora Indonesia. 
Partai Gelora Indonesia, lanjutnya, akan mempelopori lahirnya ‘digital demokrasi’, yang menghadirkan berbagai instrumen partai politik (parpol) secara digital, yang akan mudah diakses publik melalui ponsel maupun gadget lainnya.

Baik menjadi tempat untuk perdebatan isu atau pikiran, merekrut anggota, mengakses informasi tentang partai politik dan calon pemimpinnya, termasuk mencari pemimpin baru.

“Disinilah pentingnya berbicara digital demokrasi, kegiatan ‘GELORA DIGIFEST 2020’ ini instrumen untuk melengkapkan diri sebagai partai politik digital. Sebab, partai yang manual, kuno dan kolot akan ditinggalkan,” katanya.

Pandemi Covid-19 saat ini, menurut dia, juga telah mempengaruhi demokrasi manual dan penggunaan digital mulai dilakukan.

“Cara negara mengambil keputusan secara manual, tidak akan temukan lagi dimasa yang akan datang, semua akan dilakukan secara digital, sehingga tugas kepartaian juga perlu direformasi,” katanya.

Melalui digital demokrasi ini, Partai Gelora berikhtiar akan membangun sinergi yang mengumpulkan seluruh potensi anak bangsa tanpa membedakan suku, agama dan ras untuk berkiprah dalam politik, sehingga menimbulkan kesadaran kolektif bangsa dalam mengatasi krisis berlarut.

“Kalau kata ketua umum (Anis Matta, red). Langit terlalu tinggi, kita terbang terlalu rendah, yang kita ingin capai begitu tinggi, tetapi kemampuan kita untuk menggapainya masih terlalu rendah. Ini tantangan dan keluhan yang harus diatasi bersama, kita harus berkolaborasi. Kita harus melaksanakan amanah sila ketiga Pancasila, Persatuan Indonesia,” pungkasnya.

Recent Posts

Kemenhaj Gelar CAT PPIH 2027 Non Nakes Serentak, Gandeng BKN untuk Perkuat Transparansi

MONITOR, Jakarta — Kementerian Haji dan Umrah menggandeng Badan Kepegawaian Negara (BKN) dalam pelaksanaan Computer…

12 jam yang lalu

Rektor UID Buka PBAK 2026, Tekankan Adab, Prestasi, dan Kontribusi Mahasiswa

MONITOR, Depok - Universitas Islam Depok (UID) resmi membuka rangkaian Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan…

1 hari yang lalu

Menaker: Kunci Wirausaha Bukan Sekadar Dapat Pelanggan, tapi Menjaga Hubungan

MONITOR, Bandung Barat – Menteri Ketenagakerjaan (Menaker), Yassierli, mengatakan salah satu kunci keberhasilan dalam berwirausaha…

2 hari yang lalu

Kemenperin Sampaikan Duka Cita Mendalam Atas Insiden Kebakaran Pabrik di KEK Sei Mangkei

MONITOR, Jakarta - Kementerian Perindustrian menyampaikan rasa duka cita yang mendalam atas musibah kebakaran yang…

2 hari yang lalu

Majelis ASTACITA Gelar ‘Maulid Nabi dan Dzikir Kemerdekaan’ di Karawang, Gaungkan Jaga Rawat Jabar

MONITOR, Karawang — Dalam rangka memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW sekaligus merawat semangat kemerdekaan…

2 hari yang lalu

Capai 75 Ribu Pendaftar PPIH 2027 Non Nakes, Kemenhaj Gelar CAT Dua Gelombang

MONITOR, Jakarta - Lebih dari 75 ribu orang mendaftar Seleksi Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH)…

2 hari yang lalu