Siswa Susuri Sungai saat Cuaca Ekstrim, KPAI Nilai Pihak Sekolah Ceroboh

MONITOR, Jakarta – Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyampaikan duka mendalam bagi para korban dan keluarganya atas tragedi tenggelamnya ratusan siswa salah satu SMP Negeri di Sleman.

Dimana, sebanyak 250 siswa telah diinstruksikan pihak sekolah untuk melakukan kegiatan pramuka susur sungai Sempor Dusun Dukuh, Desa Donoharjo, Kecamatan Turi.

Widget Situasi Terkini COVID-19



Sayangnya, debit arus sungai yang cukup deras mengakibatkan sejumlah siswa hanyut terbawa arus. Dari informasi terakhir yang dihimpun KPAI, sebanyak 8 pelajar ditemukan tewas.

“KPAI menyampaikan duka ini. Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa senantiasa memberikan kekuatan dan kesabaran bagi keluarga korban dalam menghadapi ujian ini,” kata Retno Listyarti, Komisioner Bidang Pendidikan, Sabtu (22/1).

Retno mengatakan, KPAI sangat menyayangkan pihak sekolah yang diduga ceroboh, karena tidak menghitung secara masak faktor resiko menyelenggarakan kegiatan susur sungai di saat musim penghujan dengan kondisi cuaca ekstrem. Bahkan KPAI menduga kuat pihak sekolah justru mengabaikan peringatan BMKG.

“Seharusnya, karena anak-anak yang akan mengikuti keguiatan kepramukaan susur sungai berada di alam yang memiliki kondisi yang sering tak terduga maka para guru dan pelatih harusnya memang memiliki pengetahuan dan pengalaman yang memadai dalam memasukinya,” imbuhnya.

Ia mengatakan, seharusnya para guru dan pelatih melakukan survey terlebih dahulu, termasuk mempertimbangkan kondisi cuaca, jalur evakuasi, kemudahan naik dan turun ke badan sungai, termasuk debit sungainya, apalagi ketika membawa ratusan murid yang masih usia SMP.

“Artinya perlindungan anak dan keselamatan anak-anak harus menjadi faktor utama dan pertama yang dipertimbangkan dan diperhatikan,” tandasnya.