MEGAPOLITAN

Aktivis Jakarta Kritik Dua Tahun Kepemimpinan Anies Baswedan

MONITOR, Jakarta – Dua tahun dibawah kepemimpinan Gubernur Anies Baswedan, warga Jakarta rupanya tidak baik-baik saja. Belakangan, sejumlah aktivis di Jakarta mengeluh soal pelayanan kesehatan dan perekonomian di Ibukota.

Keluhan tersebut disampaikan langsung para aktivis Jakarta di hadapan Gubernur DKI Jakarta dalam acara syukuran dua tahun kepemipinan Gubernur Jakarta Anies Baswedan yang digelar di Candi Bentar-Ancol, Jakarta Utara, Rabu malam (16/10).

“Pembangunan infrastruktur di Jakarta memang sudah berjalan, namun, ada hal yang belum disentuh yaitu masalah pemberdayaan ekonomi. Apalagi perekonomian yang berbasis kerakyatan di Jakarta belum bergerak,” ujar tokoh muda dan aktivis Jakarta Utara Jamran.

Jamran juga mengeluhkan banyaknya toko Alfamart dan Indomaret yang sudah merambah ke kampung-kampung. Kehadirannya, kata Jamran, tentu secara tidak langsung mematikan usaha masyarakat yang menjual kebutuhan warga.

“Nah, disini saya minta Pak Gubernur bisa mengeluarkan kebijakan membatasi kehadiran toko-toko seperti Alfamaret dan Indomaret tersebut masuk kampung-kampung,” tandasnya.

Berkaitan dengan persoalan perekonomian kerakyatan, Jamran yang duduk sebagai Sekertaris KONI Jakarta ini, menyarankan agar masyarakat diperdayakan dalam menggerakkan ekonomi di wilayah. Misalnya saja, dalam pembuatan seragam sekolah. Dimana sekolah yang ada di satu kelurahan diwajibkan membeli seragam dari produksi warga di kelurahan tersebut.

“Kalau diperdayakan seperti itu, saya rasa dan yakin ekonomi akan bergerak,” ungkapnya.

Sementara itu Ketua Relawan Kesehatan (Rekan) Agung Nugroho, mengeluhkan soal pelayanan kesehatan di Ibukota. Menurut Agung, wilayah DKI Jakarta masih kekurangan armada ambulance. Ini dibuktikan dengan masih banyaknya keluhan masyarakat untuk mendapatkan ambulance ketika sangat diperlukan.

“Tak hanya soal ambulance yang kurang. Persyaratan untuk memperoleh atau mendapat pinjaman ambulance di Jakarta ini masih bertele-tele atau ribet. Sehingga pasien yang perlu ambulance bisa keburu meninggal akibat prosedur yang bertele-tele tersebut,” terang Agung.

Lantas bagaimana Gubernur Jakarta Anies Baswedan dalam menyikapi keluhan para aktivis Jakarta tersebut?

Anies mengakui bahwa masalah Ekonomi masih menjadi pekerjaan rumah yang belum terselesaikan. Dia pun mencatat beberapa masukan pemberdayaan masyarakat yang disampaikan oleh para aktivis itu. Termasuk soal kesehatan yang disampaikan oleh beberapa aktifis tadi.

“Saya tidak akan menjawab dengan kata-kata. Semua akan saya jawab dengan karya. Masalah kesehatan saya juga sudah bicara kepada pimpinan rumah sakit pusat yang ada di Jakarta agar dapat mempermudah pelayanan kepada masyarakat Jakarta,” pungkasnya.

Recent Posts

Kemenag dan Leiden University Jalin Kerja Sama Internasionalisasi PTK

MONITOR, Jakarta - Kementerian Agama menjalin kerja sama internasional dengan Leiden University, Belanda dalam peningkatan…

2 jam yang lalu

Urai Macet Investasi, Satgas P2SP Selesaikan 46 Aduan Proyek Strategis

MONITOR, Jakarta - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa memimpin sidang debottlenecking untuk membahas hambatan…

4 jam yang lalu

Dorong Produk Lokal, Kemenperin Gelar Bazar Ramadhan DWP 2026

MONITOR, Jakarta - Momentum bulan suci Ramadhan menjadi faktor penting bagi penguatan ekonomi nasional, khususnya…

9 jam yang lalu

DPR Tegaskan UU Peradilan Militer Tetap Konstitusional dan Mengikat

MONITOR, Jakarta - DPR RI menegaskan bahwa ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1997 tentang…

12 jam yang lalu

Menag Bantah Isu Zakat untuk MBG, Harus Sesuai Delapan Asnaf!

MONITOR, Jakarta - Menteri Agama menegaskan bahwa zakat tidak boleh digunakan di luar ketentuan delapan…

14 jam yang lalu

LBH Gelora Desak Polisi Tangkap Pelaku Penusukan Advokat KAI Bastian Sori Manalu

MONITOR, Jakarta – Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Gelora Indonesia mengutuk keras aksi penusukan terhadap Advokat…

16 jam yang lalu