Aktivis Jakarta Kritik Dua Tahun Kepemimpinan Anies Baswedan

245
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dalam acara peringatan dua tahun kepemimpinannya (dok: Asep)

MONITOR, Jakarta – Dua tahun dibawah kepemimpinan Gubernur Anies Baswedan, warga Jakarta rupanya tidak baik-baik saja. Belakangan, sejumlah aktivis di Jakarta mengeluh soal pelayanan kesehatan dan perekonomian di Ibukota.

Keluhan tersebut disampaikan langsung para aktivis Jakarta di hadapan Gubernur DKI Jakarta dalam acara syukuran dua tahun kepemipinan Gubernur Jakarta Anies Baswedan yang digelar di Candi Bentar-Ancol, Jakarta Utara, Rabu malam (16/10).

“Pembangunan infrastruktur di Jakarta memang sudah berjalan, namun, ada hal yang belum disentuh yaitu masalah pemberdayaan ekonomi. Apalagi perekonomian yang berbasis kerakyatan di Jakarta belum bergerak,” ujar tokoh muda dan aktivis Jakarta Utara Jamran.

Jamran juga mengeluhkan banyaknya toko Alfamart dan Indomaret yang sudah merambah ke kampung-kampung. Kehadirannya, kata Jamran, tentu secara tidak langsung mematikan usaha masyarakat yang menjual kebutuhan warga.

“Nah, disini saya minta Pak Gubernur bisa mengeluarkan kebijakan membatasi kehadiran toko-toko seperti Alfamaret dan Indomaret tersebut masuk kampung-kampung,” tandasnya.

Berkaitan dengan persoalan perekonomian kerakyatan, Jamran yang duduk sebagai Sekertaris KONI Jakarta ini, menyarankan agar masyarakat diperdayakan dalam menggerakkan ekonomi di wilayah. Misalnya saja, dalam pembuatan seragam sekolah. Dimana sekolah yang ada di satu kelurahan diwajibkan membeli seragam dari produksi warga di kelurahan tersebut.

“Kalau diperdayakan seperti itu, saya rasa dan yakin ekonomi akan bergerak,” ungkapnya.

Sementara itu Ketua Relawan Kesehatan (Rekan) Agung Nugroho, mengeluhkan soal pelayanan kesehatan di Ibukota. Menurut Agung, wilayah DKI Jakarta masih kekurangan armada ambulance. Ini dibuktikan dengan masih banyaknya keluhan masyarakat untuk mendapatkan ambulance ketika sangat diperlukan.

“Tak hanya soal ambulance yang kurang. Persyaratan untuk memperoleh atau mendapat pinjaman ambulance di Jakarta ini masih bertele-tele atau ribet. Sehingga pasien yang perlu ambulance bisa keburu meninggal akibat prosedur yang bertele-tele tersebut,” terang Agung.

Lantas bagaimana Gubernur Jakarta Anies Baswedan dalam menyikapi keluhan para aktivis Jakarta tersebut?

Anies mengakui bahwa masalah Ekonomi masih menjadi pekerjaan rumah yang belum terselesaikan. Dia pun mencatat beberapa masukan pemberdayaan masyarakat yang disampaikan oleh para aktivis itu. Termasuk soal kesehatan yang disampaikan oleh beberapa aktifis tadi.

“Saya tidak akan menjawab dengan kata-kata. Semua akan saya jawab dengan karya. Masalah kesehatan saya juga sudah bicara kepada pimpinan rumah sakit pusat yang ada di Jakarta agar dapat mempermudah pelayanan kepada masyarakat Jakarta,” pungkasnya.