POLITIK

Pengamat Bedah Janji-janji Manis Kampanye Jokowi

MONITOR, Jakarta – Komisi Pemilihan Umum (KPU) sudah menobatkan pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin sebagai presiden dan wakil presiden terpilih. Tugas berat pun sudah menanti pasangan ini dalam merealisasikan janji-janji kampanyenya.

Melihat ini, pengamat politik Universitas Negeri Jakarta Ubedillah Badrun menilai program atau janji Jokowi di tahun kedua menjabat akan berat dilaksanakan. Salah satunya adalah terkait janji kartu prakerja bagi masyarakat yang belum mendapatkan pekerjaan.

“Untuk merealisasikan kartu pekerja ini bukan perkara mudah. Membutuhkan antisipasi yang sistemik, misal kartu prakerja itu mesti didesain yang baik,” kata Ubedillah.

Dikatakan Ubedillah, kalaupun kartu tersebut direalisasikan hal itu tidak bisa dilakukaan secara langsung.

“Mungkin tidak langsung sekarang, dua atau tiga tahun setelah anak-anak milenial ini memiliki asuransi pengangguran prakerja supaya negara tidak beban,” ungkapnya.

Sebab apabila semua pengangguran diberi kartu prakerja maka kerugian negara akan sangat besar. Sehingga dibutuhkan suatu pemikiran yang utuh sebelum pelaksanaan program tersebut.

“Yang sulit ini kan yang terjemahan seperti apa karena itu nanti membebani APBN, sekarang aja devisit APBN ini jadi devisitnya lumayan oleh karena itu seluruh janji kampanye itu tidak mudah dilaksanakan,” ujarnya.

Jika dibandingkan dengam program Jokowi di periode pertama, menurutnya tidak semua program yang dilaksanakan pada periode kedua ini memiliki kesinambungan.

“Yang paling berkesinambungan mungkin infrastruktur. Tapi ada problem yang tidak berkesinambungan yakni BPJS itu perlu diselesaikan bagaimana menyelesaikan masalah lima tahun lalu diselesaikan,” ungkapnya.

Kemudian soal kartu pintar itu masih berkesinambungan karena hal itu memang sudah lama ada bahkan sejak era presiden SBY. Hanya saja kala itu bernama bidik misi. Namun yang lebih penting menurutnya yang harus diselesaikan yakni persoalan SDM.

“Harus dievaluasi karena hanya infrastruktur terlalu ambisius. Resikonya kementerian tidak dapat peluang financial. Kalau sekarang orientasinya benar SDM perlu dikalkulasi berapa biaya yang diutamakan,” paparnya.

“Misal dalam UU 1945 ada (dana) untuk pendidikan 20 persen, kalau itu dijalankan konsisten saya yakin SDM baik tapi kan tidak konsisten ya pemerintahan Jokowi, SBY dan 20 persen itu tidak hanya untuk kemendikbud hanya 12 persen jadi kalau mau konsisten apapun yang terjadi jalan terus, kalau akal-akalan lagi ya sama lagi nanti,” pungkasnya.

Recent Posts

Kemenhaj Imbau Jemaah Umrah Tingkatkan Kewaspadaan di Tengah Situasi Timur Tengah

MONITOR, Jakarta - Menyikapi perkembangan situasi keamanan di kawasan Timur Tengah akhir-akhir ini, Kementerian Haji…

10 jam yang lalu

Multatuli Justice Law Firm Lebak Dorong Kesadaran Hukum dan Akses Pendampingan bagi Masyarakat

MONITOR, Lebak — Multatuli Justice Law Firm hadir di Kabupaten Lebak, Banten, untuk memberikan pelayanan…

10 jam yang lalu

Disamarkan sebagai Makanan Ringan, 1.728 Kuda Laut Kering Digagalkan di Bandara RHF

MONITOR, Tanjungpinang - Sebanyak 1.728 ekor kuda laut kering dengan berat total 6,5 kilogram ditemukan…

17 jam yang lalu

Sambut Andrea Bocelli, Hery Haryanto Azumi: Musik Bisa jadi Jembatan Peradaban di Tengah Konflik Global

MONITOR, Jakarta - Musik dapat menjadi ruang perjumpaan lintas bangsa dan budaya ketika dunia diwarnai…

2 hari yang lalu

Menag Dorong Kemandirian Pesantren, Apresiasi Inovasi Ekonomi dan Digital Al Yasini

MONITOR - Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan komitmen Kementerian Agama untuk terus memperkuat kemandirian dan…

3 hari yang lalu

Kemnaker Hadirkan Pelatihan Vokasi bagi Masyarakat Terdampak Gempa di NTT

MONITOR, Jakarta — Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) melalui Kemnaker Peduli Bencana terus memberikan dukungan kepada masyarakat…

4 hari yang lalu