OPINI

Meraih “Kemenangan” Takwa

Oleh: Muhammad Dhofir

MONITOR – “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa ” (Q. S. Al Baqoroh : 183).

Ayat di atas merupakan dasar naqli umat muslim menjalankan ibadah puasa di bulan ramadhan. Ayat yang kerap dibaca mubaligh di atas mimbar kultum atau khotbah jumat sepanjang ramadhan itu, juga menjadi landasan pengharapan seorang hamba agar menjadi pribadi yang bertakwa.

Siapa “si Takwa” itu?

Saya mengamati di kalangan masyarakat awam, acapkali kurang tepat memaknai takwa. Mereka membayangkan takwa adalah sebuah predikat atau gelar laiknya orang mendapatkan ijazah.

Padahal, takwa semestinya dimaknai sebagai sebuah sikap mental yang akan mewujud menjadi laku spiritual dalam kehidupan pribadi kita sehari-hari dan berpengaruh positif bagi masyarakat luas.

Tafsir yang lebih umum dan klasik kita dengar dalam khotbah jumat, takwa berarti takut kepada Allah dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Namun demikian, jika kita mau merenung lebih jauh, nampak kesan bahwa ruang lingkup pemaknaan tersebut tidak luas. Bahwa, takwa terbatas pada pengamalan syariat ibadah. Ia merupakan ejawantah dari rasa takut. Sehingga yang muncul adalah kesalehan individu, ritus-ritus ibadah sebagai wujudnya.

Dampak dari pencerapan seperti itu adalah merasa benar sendiri. Membusungkan “keakuan” dalam beragama. Orang lain yang ibadahnya tidak serajin “aku” perlu diingatkan, bahkan, bila perlu dengan cara-cara yang keras.

Pemahaman takwa yang lebih mendalam dapat kita jumpai dalam sebuah catatan Gus Ulil Absar Abdalla, yang mengutip Muhammad Asad. Orang yang bertakwa adalah mereka yang sadar akan kehadiran Tuhan.

Penafsiran seperti ini membabarkan pengertian takwa yang lebih esoteris. Sikap relijius yang ditampilkan oleh seorang hamba bukanlah sebab ketakutan semata, lebih dari itu, sikap itu tampak sebagai keniscayaan karena Tuhan selalu hadir dalam setiap langkah hidup kita.

Dengan demikian, rasa “aku” dalam beragama mampu dikikis habis hingga yang ada hanyalah Sang Khalik. Karena kehadiran-Nya, tidak pantas kita menghukumi liyan sebagai ahli bid’ah atau kafir.

Sikap yang yang tidak menonjolkan “aku” juga merupakan jalan dakwah yang menghadirkan kelembutan. Amar makruf atau ajakan kebaikan lebih didahulukan daripada menghajar kemungkaran.

Alhasil, pemaknaan takwa sebagai kesadaran akan hadirnya Tuhan lebih hakiki (dimensi esoterik) daripada sekadar rasa takut yang syariat (dimensi eksoterik).

Sikap proporsional

Penggalian makna takwa bisa juga berpijak dari kata takwa itu sendiri. Dalam kamus bahasa arab, jika kita mencari definisi kata takwa (ta-qof-wau-ya), maka kita akan dirujuk ke kata dzulum. Bahwa, dzulum adalah lawan kata dari takwa. Dzulum sendiri mempunyai arti melampaui batas atau berlebih-lebihan.

Berarti, takwa bermakna tidak melampaui batas atau proporsional. Arti kata ini bahkan, lebih implementatif. Praktik hidup proporsional menjadi salah satu ciri orang bertakwa.

Perilaku proporsional ini jika diterapkan sungguh-sungguh dalam kehidupan sehari-hari, sebagai contoh, tidak akan ada banjir karena orang tidak membuang sampah sembarangan. Tidak pernah ada perselisihan sebab orang menjaga hatinya. Bahkan, tidak perlu ada kerusuhan gegara kalah dalam pemilu karena orang tidak melampaui batas dalam memperjuangkan haknya.

Mendapat Petunjuk Al Qur’an

Muara dari sikap takwa adalah agar kita menjadi hamba yang dikehendaki Allah dalam surat Al Baqoroh, yaitu Al Qur’an adalah petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.

Setiap individu bisa saja membaca Al Qur’an. Tetapi, meminjam istilah Ulil Absar Abdalla, hanya orang-orang yang memiliki syarat rohani tertentu yang bisa menjadikan Alquran sebagai sumber petunjuk, adalah mereka yang bertakwa, yaitu, mempunyai kesadaran tentang kehadiran Tuhan terus-menerus dalam dirinya.

Inilah orang-orang yang memiliki kedudukan paling mulia di sisi Allah SWT.

Recent Posts

Rektor UID Buka PBAK 2026, Tekankan Adab, Prestasi, dan Kontribusi Mahasiswa

MONITOR, Depok - Universitas Islam Depok (UID) resmi membuka rangkaian Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan…

2 jam yang lalu

Menaker: Kunci Wirausaha Bukan Sekadar Dapat Pelanggan, tapi Menjaga Hubungan

MONITOR, Bandung Barat – Menteri Ketenagakerjaan (Menaker), Yassierli, mengatakan salah satu kunci keberhasilan dalam berwirausaha…

16 jam yang lalu

Kemenperin Sampaikan Duka Cita Mendalam Atas Insiden Kebakaran Pabrik di KEK Sei Mangkei

MONITOR, Jakarta - Kementerian Perindustrian menyampaikan rasa duka cita yang mendalam atas musibah kebakaran yang…

17 jam yang lalu

Majelis ASTACITA Gelar ‘Maulid Nabi dan Dzikir Kemerdekaan’ di Karawang, Gaungkan Jaga Rawat Jabar

MONITOR, Karawang — Dalam rangka memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW sekaligus merawat semangat kemerdekaan…

18 jam yang lalu

Capai 75 Ribu Pendaftar PPIH 2027 Non Nakes, Kemenhaj Gelar CAT Dua Gelombang

MONITOR, Jakarta - Lebih dari 75 ribu orang mendaftar Seleksi Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH)…

19 jam yang lalu

Partai Gelora Soroti Perubahan Data Desil DTSEN

MONITOR, Jakarta — Penerapan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) sebagai basis tunggal penyaluran bantuan…

19 jam yang lalu