Maria Ulfa
(Dosen Ilmu Susastra, Prodi Sastra Inggris Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)
1
Agustus kembali mengetuk ingatan.
Merah putih menjulang di tiang.
Anak-anak melagukan janji lama
yang tak juga kehilangan gema:
“Mencerdaskan Kehidupan Bangsa.”
Dari janji itu, sebuah angka dititipkan kepada Negeri:
“Dua Puluh Persen”
agar kemerdekaan tak berhenti pada tonggak perayaan,
tetapi meneruskan langkah ke ruang-ruang belajar,
untuk anak-anak bangsa menyalakan nalar.
2
Dua Puluh Persen membentang lebar bagai jalan tak bertepi,
barisan angka yang panjang diberangkatkan setengah hati,
jumlahnya terus meninggi seiring tahun berganti,
seolah tak satu pun ruang belajar tertinggal sendiri.
Namun, deretan angka itu rupanya akrab dengan banyak persimpangan:
berbelok, terbagi, berganti nama, berpindah meja,
menyusuri lorong-lorong panjang dari jantung kuasa hingga penjuru negeri,
sementara ruang-ruang belajar masih menanti
apa yang dahulu berangkat atas namanya.
Barangkali yang hilang bukan jalan,
melainkan penunjuk arah
yang menjaga setiap langkah menuju amanat semula.
3
Tidak sedikit sekolah yang menua dalam penantian,
atap-atap rapuh menyerahkan ruang kepada hujan,
dinding-dinding menyimpan luka,
bangku-bangku tua bertahan di antara yang belum juga ada.
Di satu tempat, layar membuka jendela dunia;
di tempat lain, satu buku berpindah dari tangan ke tangan.
Di suatu kota, dunia telah lama hadir dalam genggaman;
di kejauhan, banyak sekolah masih menunggu dunia menemukan sinyalnya.
Dari perjalanan yang jauh,
anak-anak membawa pagi menuju kelas,
menempuh jarak demi ilmu
yang semestinya tak mengenal batas.
Semakin jauh sekolah berdiri,
semakin panjang pula yang harus dinanti.
Merah putih berkibar di langit yang sama,
tetapi kesempatan belum selalu jatuh
dengan cahaya yang sama.
4
Setiap pagi, guru-guru membawa bekal yang tak terlihat:
kesabaran bagi huruf yang belum menemukan bunyinya,
ketekunan bagi angka yang belum membuka makna.
Dari ruang-ruang sederhana, mereka membesarkan hari esok,
sementara hidup mengajari mereka seni mencukupi.
Bertahun-tahun mereka menyalakan cahaya di ruang kelas,
meski tak setiap pijar cukup dibawa pulang;
selepas buku ditutup dan papan tulis kembali sunyi,
sebagian masih harus mencari jalan lain untuk mencukupkan hari.
Negeri ini menitipkan begitu banyak pelita pada mereka,
namun tak selalu cukup terang tersisa untuk dirinya.
Bukankah ketika Dua Puluh Persen itu berangkat,
nama mereka pun tersimpan di dalam perjalanannya?
5
Di kampus, cakrawala terus digantung semakin tinggi.
Mahasiswa mengejar ilmu di balik gerbang yang tak terbuka tanpa harga,
sementara para dosen mengemban tuntutan
yang gaungnya melampaui horizon.
Namun ketika yang dibebankan itu ikut pulang,
yang kembali tak selalu sepadan
dengan segala yang tak selesai hanya di pundaknya.
Kita ingin kampus menjulang di mata dunia,
namun enggan memuliakan mereka yang menyangga semesta.
Kita meminta temuan ilmu menggema ke segala penjuru,
mahasiswa membawa pulang nama gemilang,
kampus mendaki puncak-puncak dunia,
tetapi ilmu tidak tumbuh hanya dari tuntutan;
ia pun membutuhkan tanah yang subur untuk berpijak.
6
Di ruang-ruang lain,
rangkaian angka di atas meja berjajar tampak tenang.
Berbaris rapi hingga ke koma,
bersemayam di balik lembar-lembar yang tampak sempurna,
seolah setiap hitungan yang menemukan tempat
telah menemukan pula maknanya.
Puluhan tahun bergulir.
Angka silih berganti, peringkat berpindah posisi,
namun sejauh mana mutu telah melangkah,
masih menyisakan tanya.
Kita telah lama pandai menghitung:
nilai, kelulusan, peringkat, anggaran.
Tetapi siapa yang menghitung
berapa banyak nalar bertunas,
seberapa dalam ilmu berakar?
7
Di sepanjang perjalanan,
semakin banyak yang menumpang
pada kendaraan bernama Pendidikan.
Masing-masing membawa kepentingan,
semua meminta tempat,
hingga belajar perlahan terdesak di jalannya sendiri.
Ada yang naik membawa janji-janji,
ada yang memenuhi dengan tumpukan kertas,
ada yang menitipkan catatan yang tak habis dituliskan;
masing-masing membawa alasan
mengapa ia harus ikut serta dalam perjalanan.
Barangkali jalannya bukan terlalu panjang—
kita hanya terlalu banyak menitipkan perkara
kepada Dua Puluh Persen yang sama.
Sementara jauh di ujung perjalanan,
anak-anak tak sedang menagih janji.
Yang mereka tunggu:
ilmu yang sungguh sampai kepadanya,
dalam kesetaraan yang tak membedakan alamat.
8
Barangkali pendidikan kita tidak kekurangan jalan.
Kita justru membentangkan terlalu banyak arah atas namanya,
membekali terlalu banyak beban pada pundaknya,
hingga di tengah riuh segala yang hendak dibawa,
pendidikan nyaris lupa:
untuk siapa ia berjalan?
Satu arah menjanjikan tujuan,
arah lain membawa kebijakan;
di persimpangan, janji-janji saling mendahului,
sementara lembar catatan sibuk merekam jejak langkah.
Semua tampak bergerak.
Namun di tengah riuh perjalanan itu,
siapa yang masih menengok penunjuk arah:
sudahkah kita semakin dekat kepada tujuan?
9
Maka setiap Agustus,
ketika merah putih kembali menjulang
dan janji lama kembali dinyanyikan,
Dua Puluh Persen itu masih menyisakan pertanyaan:
bukan berapa besar yang berangkat,
melainkan apa yang akhirnya tiba;
bukan berapa banyak yang telah habis dalam perjalanan,
melainkan apa yang tumbuh
di ruang-ruang belajar
dan berakar dalam nalar-nalar pembelajar.
Siapa yang menjaga perjalanannya,
agar yang berangkat sebagai angka
sungguh tiba sebagai ilmu yang menghidupkan—
menjadi terang di ruang-ruang belajar,
menguatkan tangan-tangan yang mengajar,
dan menegakkan pilar bagi tumbuhnya para pembelajar.
Sebelum jalan yang panjang
menghabiskan tujuannya,
masihkah Dua Puluh Persen itu
mengingat nama
yang dibawanya sejak berangkat:
Pendidikan?
MONITOR, Jakarta — Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dimeriahkan salah satunya…
MONITOR, Jakarta – Pertumbuhan ekonomi dan berbagai capaian pembangunan yang disampaikan Presiden Prabowo Subianto dalam…
MONITOR, Jakarta – Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memperkuat standar pelayanan publik untuk…
MONITOR, Jakarta — Menteri Agama Nasaruddin Umar memimpin doa dalam Sidang Tahunan MPR dan Sidang…
MONITOR, Tangerang - Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) bergerak cepat memastikan hak dan pelindungan 33…
MONITOR, Bekasi — Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) menyiapkan talenta muda agar mampu mengembangkan gagasan dan inovasi…