OPINI

Hari Perdamaian Internasional: Palestina, Krisis Kemanusiaan, dan Dunia yang Tak Lagi Terusik

Oleh: Maria Ulfa
Dosen Sastra Inggris, Fakultas Adab & Humaniora
Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta

*Puisi Kritis-Reflektif

1
Dua Puluh Satu September.
Dunia kembali mengucapkan:
‘p-e-r-d-a-m-a-i-a-n’
dari gedung-gedung megah bercahaya.
Mikrofon melantangkan suara,
kata-kata tentang ‘Kemanusiaan’ menggema
dari panggung ke panggung dunia.
Perdamaian macam apa
yang membutuhkan begitu banyak panggung
untuk meyakinkan dunia bahwa Ia ada.

Lalu pandangan tenggelam di Palestina.
Di sana, Cahaya mempunyai arti berbeda:
Ada yang datang dari langit, membuat orang berlari.
Ada yang berakhir menjadi asap, debu, dan kehilangan.
Seorang Ibu merapatkan anak-anak ke dadanya.
Seseorang bergegas memanggil keluarganya.
Yang lain berlari entah ke mana,
tak tahu berapa nama yang masih akan menjawab
ketika cahaya kembali datang.

Alangkah mahal sebuah kata bernama ‘damai’
bila mereka yang paling membutuhkannya
justru tak pernah menerima kirimannya.
Bagaimana Dunia merayakan Hari Perdamaian
jika seorang anak masih harus berunding dengan ketakutan
setiap kali hendak memejamkan mata?

2
Pandangan jatuh pada Jalur yang pecah.
Di antara reruntuhan,
nama-nama dipanggil satu demi satu
ke celah bangunan yang telah rata.
Tak ada jawaban.
Hanya debu bangkit dari bebatuan,
hinggap pada wajah, bibir, dan rambut
seperti kehancuran yang menolak pergi.

Perang mempunyai cara paling kejam
untuk menyederhanakan kehidupan:
sebuah Keluarga menjadi daftar,
sebuah Kampung menjadi puing,
sebuah Kota menjadi berita,
lalu berita menjadi Angka.
Angka terus bertambah.
Dunia semakin pandai menghitung
tanpa harus ikut berkabung.

3
Di bangunan berkumpulnya luka,
seorang anak membuka mata.
Darah. Debu. Perban. Cahaya buram.
Matanya mengikuti setiap langkah yang mendekat:
mungkin Ibu, mungkin Ayah,
mungkin seseorang dari rumah.
Pintu berkali-kali terbuka.
Tak satu pun membawa pulang dunianya.

Di luar sana, sekolah kehilangan riuhnya.
Buku-buku kehilangan halaman.
Anak-anak mendapat pelajaran baru:
mendengar bahaya sebelum tiba,
mencari sudut yang belum disentuh maut,
membungkam lapar dengan kosong,
menghafal nama yang tak lagi menjawab.

Jangan sebut mereka tangguh.
Jangan jadikan ketangguhan sebagai bunga
di atas kuburan masa kecil mereka,
agar kegagalan terdengar lebih terhormat
karena dunia terlalu pengecut untuk melindungi mereka.

4
Barisan itu memanjang.
Seorang Ibu menggendong bayi.
Seorang anak menggandeng adiknya.
Seorang tua menyeret langkah
menjauh dari tempat yang pernah disebut rumah.
Di depan mereka:
dinding plastik, atap kain.
Panas menghunus. Hujan menghujam.
Dingin mengajari bayi menggigil
sebelum sempat bisa memanggil.
Dan sebuah kata bernama ‘sementara’
yang tak kunjung selesai.

Seorang tua membawa yang masih tersisa:
sebuah Kunci.
Pintunya mungkin tak lagi berdiri,
tetapi kunci itu tetap digenggam—
seolah mengingatkan sejarah:
Alamat boleh hilang,
tetapi Hak Pulang tidak.

5
Lalu pandangan berhadapan dengan lapar.
Di sini, lapar mempunyai banyak wajah.
Ia duduk di antara orang tua, ayah, ibu, dan anak-anak.
Ketika makanan terakhir dibagi,
seorang Ayah menyembunyikan lelahnya,
seorang Ibu menggeser bagiannya
ke tangan-tangan kecil
yang masih menyimpan hari esok.

Di barisan panjang menunggu air,
seorang anak pulang memeluk jeriken kosong—
Kosong, tetapi beratnya
seperti seluruh kegagalan manusia.

Di tempat penampungan luka,
duka datang silih berganti,
pertolongan selalu tertinggal,
harapan perlahan kehilangan waktu.

Sementara Dunia sibuk menaklukkan langit.
Langit semakin dekat.
Kemanusiaan semakin jauh.

6
Malam turun.
Seorang Ibu masih terjaga,
mengeja napas dari dada anak-anaknya,
seperti menghitung harta terakhir
yang belum dirampas perang.
Ia menakar apa yang tersisa,
mengingat siapa yang hilang,
siapa yang masih bertahan,
siapa yang terakhir berkata akan kembali.
Duka menunggu gilirannya.
Kapan menangis?
Mungkin nanti.
Tetapi ‘nanti’ tak kunjung datang.

Perang belum juga kenyang.
Banyak luka yang tak berdarah,
tetapi kehilangan terus mengalir darinya.
Seseorang pergi sekali,
tetapi kehilangannya datang berkali-kali,
hingga kesedihan sendiri lupa
bagaimana caranya selesai.

7
Kemudian pandangan beralih kepada Dunia.
Ia menimbang penderitaan.
Pasal dibacakan.
Resolusi diajukan.
Kecaman dikirim menyeberangi benua.
Sementara deretan angka terus bertambah.
Namun di jalan-jalan yang jauh dari Palestina,
masih ada suara yang menolak diam,
masih ada tangan yang memilih bergerak.

Maka pertanyaan itu semakin tajam:
jika hukum memiliki begitu banyak pasal,
diplomasi begitu banyak meja,
dan solidaritas begitu banyak suara,
mengapa penderitaan masih harus Berteriak,
mengapa kehilangan harus terus Bertambah,
agar dunia benar-benar Bergerak?

8
Lalu Palestina datang begitu Dekat:
di layar, di depan mata.
Mula-mula satu kematian membuat dada sesak.
Kemudian angka membesar,
perasaan justru mengecil.
Barangkali inilah bahaya yang paling senyap:
bukan ketika manusia tidak tahu,
melainkan ketika terlalu banyak melihat
hingga mata tak lagi gemetar.

Kekejaman tak hanya membunuh.
Ia juga memaksa mata
memandang kematian sebagai sesuatu yang biasa.
Tangis yang dahulu mengetuk dada
kini harus menjadi jerit agar terdengar.
Penderitaan kehilangan daya kejut.
Ketidakpedulian tumbuh tanpa suara.

Dan ketika anak-anak di antara para puing
hanya menjadi gambar berikutnya,
jangan-jangan bukan Palestina
yang semakin jauh dari Kita—
melainkan Kita yang telah terlalu lama melihat,
hingga kemanusiaan perlahan lupa
bagaimana caranya Terusik.

9
Palestina bukan hanya Luka.
Di tanah yang dipaksa berkali-kali berkabung,
harapan masih mencengkeram kehidupan.
Nama keluarga diwariskan.
Ingatan menjaga tempat yang telah berubah.
Anak-anak masih menyebut hari esok.

Itulah ‘Sumud’:
bukan ketiadaan takut,
bukan pula tanpa tangis,
melainkan keteguhan yang menolak
menyerahkan martabat kepada kehancuran.

Dan perjalanan ini akhirnya berhenti
di hadapan kita sendiri.
Bila penderitaan Palestina
telah mengetuk sedemikian keras,
berapa banyak lagi yang harus hilang
sebelum kepedulian menemukan jalannya?

Jangan biarkan kesedihan selesai sebagai air mata,
murka habis sebagai teriakan.
Biarkan duka mempunyai arah,
kemarahan mempunyai keberanian,
kepedulian mempunyai tubuh.

Recent Posts

Produksi Padi dan Cabai Bogor Meningkat dalam Demplot Aplikasi Pupuk Hayati ExtraGen

MONITOR, Bogor - Produksi padi di sejumlah wilayah Kabupaten Bogor meningkat hingga mencapai 9 ton…

2 jam yang lalu

GNTI Gelar Pengobatan Gratis untuk Warga Kampung Nelayan Kalibaru

MONITOR, Jakarta - Ratusan warga Kampung Nelayan Kalibaru, Cilincing, Jakarta Utara, mendapat layanan pemeriksaan kesehatan…

3 jam yang lalu

Kementerian UMKM dan UI Perkuat Sinergi Kewirausahaan Berbasis Inovasi

MONITOR, Jakarta — Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memperkuat sinergi dan kolaborasi dengan…

8 jam yang lalu

Kalimantan Timur Juara Umum MTQ Nasional XXXI di Semarang

MONITOR, Semarang - Kafilah Provinsi Kalimantan Timur kembali meraih gelar juara umum Musabaqah Tilawatil Qur’an…

9 jam yang lalu

Menaker: Transisi Hijau Buka Peluang Baru bagi Tenaga Kerja

MONITOR, Bandung – Seiring berkembangnya kendaraan listrik dan energi terbarukan saat ini, kebutuhan terhadap kompetensi…

11 jam yang lalu

Maman Tegaskan IKA Trisakti Jadi Wadah Bersama Seluruh Alumni

MONITOR, Jakarta – Ketua Umum Ikatan Alumni Trisakti sekaligus Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah…

11 jam yang lalu