Pembina Forum Kepri Bersatu (FKB) Mustofa Widjaya
MONITOR, Tanjung Pinang – Setiap tanggal 6 Januari diperingati sebagai hari jadi kota Tanjung Pinang, kota bersejarah yang kini berusia 234 tahun. Tanggal tersebut dipilih sebagai perayaan kemenangan perang kerajaan Riau-Lingga atas Belanda pada tajun 1784. Selain sarat dengan sejarah, kota ini merupakan pusat kebudayaan melayu pada masanya, dan pernah menjadi tempat Raja Ali Haji beraktivitas dan melahirkan Gurindam 12 yang termahsyur hingga kini serta Bustanil Katibin. Kitab bahasa itu adalah cikal bakal bahasa Melayu modern yang kemudian menjadi bahasa Indonesia.
Sebagai Kota dengan sejarah panjang dan banyak peninggalan budaya, upaya menjaga dan mengembangkan warisan tersebut adalah keharusan. Kini Tanjungpinang tengah berada dipersimpangan jalan, di satu sisi, Tanjungpinang ingin mempertahankan identitas dan sejarahnya. Namun, pada saat yang sama aneka bukti sejarah terus hilang. Seperti Masjid Keling di tengah kota dipugar tanpa menyisakan bentuk dan penampakan bangunan lama. Bangunan baru sama sekali tidak menyisakan tanda masjid yang sudah berusia lebih dari seabad.
Mustofa Widjaja Tokoh Kepri yang fokus pada pengembangan budaya mengucapkan selamat atas hari jadi kota Tanjungpinang ke-234, mari sempatkan berdoa untuk para leluhur yang telah berjuang membuat kota ini berdiri. Tanjungpinang menjadi salah satu pusat kebudayaan melayu yang harus dilestarikan dan dikembangkan agar generasi mendatang dan pelajaran untuk kita dimasa kini.
“Selamat hari jadi untuk Kota Gurindam kebanggaan kita masyarakat Kepri dan melayu. Tanjungpinang adalah simbol kebudayaaan melayu yang harus dijaga dan dilestarikan, sejarah panjang kelahiran kota ini telah memberikan kita banyak pelajaran dan warisan berharga sebagai bekal untuk memajukan Kepri. Momen HUT Tanjungpinang tahun ini kita jadikan sebagai pemantik untuk terus menjaga kota bersejarah ini terutama peningalan budaya dan nilai-nilainya,” Jelas Mustofa Widjaja di Tanjungpinang, Minggu (6/1/2019).
Calon Anggota DPD Dapil Kepri tersebut menambahkan, menjaga dan belestarikan peninggalan budaya adalah pekerjaan yang tidak mudah butuh kerjasama dan komitmen berbagai pihak. Secara nilai masyarakat Kepri masih terus melestarikan warisan luhur para pendahulu melayu, namun peninggalan budaya yang seharusnya bisa dikembangkan banyak yang salah urus.
“Saya mengajak semua pihak untuk menjaga dan melestarikan kebesaran dari Kota Gurindam ini, kalau bukan kita siapa lagi?,” tegas mantan ketua BP Batam tesebut.
MONITOR, Jakarta - Wakil Menteri Agama, Romo Muhammad Syafi’i mengapresiasi pesantren Kilat Ramadan, bagi Pramuka…
MONITOR, Jakarta - Kementerian Agama menggelar “Ramadan Bersama Gen Z Lintas Negara”. Acara ini berlangsung…
MONITOR, Jakarta - Pemerintah Indonesia akan mengajukan permintaan penangguhan konsesi atau kewajiban lainnya yang ditujukan…
MONITOR, Jakarta - Ketua Komisi VI DPR RI, Anggia Erma Rini, menilai rencana kesepakatan persetujuan…
MONITOR, Jakarta - Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia melalui Direktorat Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi…
MONITOR, Jakarta - Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (Diktis) Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama…