Cerita Korban Tsunami Banten, Suaminya Dihantam Ombak

1006
Suasana pengungsian di Posko Muhammadiyah di Labuan Pandeglang Banten

MONITOR, Pandeglang – Belum reda dampak musibah tsunami yang melanda wilayah Banten, masyarakat Pandeglang dikejutkan datangnya banjir. Siti, nama samaran, mengaku was-was dan trauma jika air pantai kembali naik. Saat ditemui MONITOR di Posko Pengungsian Labuan baru-baru ini, korban tsunami Banten ini memastikan keluarganya baik-baik saja.

Perempuan 56 tahun itu menuturkan, saat air bah menerjang tepian pesisir Tanjung Lesung, suaminya yang tengah melaut mencari ikan dihantam ombak. Siti mengatakan, saat itu air laut surut. Beberapa kapal menepi dan ditambatkan pada tali di tepian pantai. Ada sekitar tiga kapal, termasuk kapal yang ditumpangi suaminya, berada di lokasi yang tak jauh dari panggung hiburan yang menampilkan pertunjukkan band Seventeen.

“Kebetulan saat itu kapalnya ditambatkan, suami saya sambil mendengarkan suara nyanyian musik, yang lainnya (anak buah kapal) juga sama,” kata Siti sembari mengingat-ingat kejadian.

Ketika ombak pantai mulai naik menggulung, suami Siti segera memotong tali yang tertambat dan berpegangan kuat pada dek kapal. Sambil menyeka air mata, ia mengatakan suaminya dan kawan-kawannya terhempas ombak dan terbanting ke dalam dek.

“Untung terbantingnya kedalam, jadi alhamdulillah masih selamat,” tuturnya pilu.

Sementara kawan lainnya yang berada di kapal lain, ada yang terlempar di luar kapal, nyawanya pun tak terselamatkan. “Suami saya luka-luka, bagian mukanya dan beberapa lengannya lebam-lebam karena terbentur dek kapal. Ada temannya yang meninggal pas terlempar di luar (kapal),” cerita dia.

“Saya pun tahunya itu musibah (tsunami) dari tetangga. Langsung saya teringat suami saya,” ujarnya.

Ia pun bersyukur, keluarganya masih selamat dan tidak mengalami nasib nahas. Perempuan asal Menes ini pun berharap, semoga pemerintah dan lembaga kemanusiaan lainnya cepat tanggap atas musibah yang terjadi belakangan ini.