Nenas Subang Semakin Mengganas

1008

MONITOR, Subang – Bila berkunjung ke Kabupaten Subang, Jawa Barat tidak lengkap rasanya bila kita tidak menyempatkan diri untuk mencicipi nenasnya. Ya, nenas Subang yang sudah sangat tersohor bahkan telah menjadi ikon kabupaten.

Nenas Subang rasanya manis dan tidak meninggalkan kecut di lidah.  Buah ini tidak hanya dijual dengan bentuk segar, sebagian telah diolah menjadi dodol nenas, selai, jus dan sebagainya.

Sentra produksi nenas di kabupaten Subang terdapat di beberapa kecamatan seperti di kecamatan Jalan Cagak, kecamatan Kasomalang, kecamatan Cijambe dan kecamatan Ciater.

Masa panen nenas di daerah ini  berlangsung sepanjang tahun. Panen raya terjadi pada bulan Oktober sampai Januari. Panen sepanjang tahun dapat dilakukan karena petani telah melakukan pengaturan pola tanam dan pengaturan pembungaan dengan ethrel.

Nenas Subang pada umumnya dijual di pasar Subang, pasar induk Caringin di Bandung, pasar Jati Barang di Cirebon, pasar induk Karamat Jati di Jakarta atau ke pabrik-pabrik olahan untuk pembuatan saos. Sebagian besar penjualan di pinggir jalan pun cukup menguntungkan dengan mengandalkan wisatawan yang bepergian dari Subang ke Bandung atau sebaliknya.

Sebagai tanaman rakyat, budidaya nenas di kabupaten Subang masih banyak yang dilakukan secara sederhana di sekitar pekarangan rumah dan tegalan meski dengan input teknologi yang terbatas.

Oleh karena itu produktivitas nenas yang dihasilkan pada umumnya masih berkisar antara 20 – 35 ton per hektare. Apabila teknologi budidaya dilakukan dengan lebih baik, produktivitas nenas Subang dapat ditingkatkan sampai dengan 50 – 60 ton per hektare.

Rendahnya produktivitas nenas juga disebabkan karena tanaman yang diusahakan sebagian besar berumur diatas 10 tahun.  Agar tanaman dapat berproduksi tinggi dengan kualitas yang terjamin, perlu dilakukan pembongkaran tanaman dan menggantikannya dengan pertanaman baru yang berasal dari bibit baru.

Efrizal adalah salah seorang petani nenas di Subang yang sebelumnya bekerja di sebuah perusahaan keluarga di Jakarta dengan gaji Rp 8 juta per bulan dan mendapatkan bonus Rp 20 juta per tahun, namun sejak tahun 2012 memilih berusaha tani nenas dengan luas lahan 6 hektare.

Efrizal bertutur supaya bisa menghasilkan panen lebih baik, dapat dilakukan dengan cara menerapkan aturan tanam sesuai dengan kaidah SOP, mengikuti setiap tumbuh kembangnya nenas di kebunnya seperti pada pemberian pupuk, pencegahan hama penyakit dan sebagainya sehingga kebun nenas yang dikelolanya bisa menghasilkan 100 ton per hektare sekali panen.

Efrizal menambahkan, “Nenas dijual Rp 3.500 per kg maka keuntungan yang bisa diperoleh adalah 1 Ha populasi 40.000 batang x 3 Kg per butir x Rp. 3.500 per Kg = Rp 420.000.000 dikurangi modal Rp 100.000.000 maka keuntungan yang diperoleh adalah Rp 320.000.000 untuk sekali panen. Lahan saat ini  1,5 hektare sehingga bila ditotal menjadi Rp 480.000.000”.

Kepala Dinas Pertanian kabupaten Subang, Djadja Rohadarmadja menyampaikan bahwa jajarannya sangat menaruh dukungan terhadap pengembangan nenas di kabupaten Subang.

“Beberapa kegiatan yang telah dilkukan antara lain bimbingan teknis SOP/GAP, bimbingan teknis GHP. Termasuk bantuan benih dan pupuk, fasiliasi aat pengolahan nenas yang bersumber dari APBD 1, APBD 2 dan APBN”, jelasnya

Berdasarkan data BPS, produksi nenas nasional tahun 2016 sebesar 1.396.141 ton dan tahun 2017 sebesar 1.795.962 ton atau naik sebesar 22,26 persen. Volume ekspor nenas tahun 2017 sebesar 7.097.710 kg.  Nenas Indonesia telah diekspor ke Uni Emirate Arab, Jepang, Korea, Hongkong, Kuwait, Saudi Arabia, Oman, Singapura, Itaia, Canada dan Qatar.

Direktur Buah dan Florikultura Sarwo Edhy menyampaikan bahwa berkat ketaatannya pada kaidah tanam sesuai SOP dan ketekunannya untuk mengikuti tumbuh kembangnya nenas di kebunnya, tidak mengherankan bila produksi nenas di kebun Efrizal bisa menghasilkan jumlah yang lebih baik dibandingkan dengan kebun lain disekitarnya.

“Apa yang dilakukan oleh Efrizal semoga bisa menjadi inspirasi bagi petani lainnya. Ternyata bertani itu menyenangkan dan bisa memberikan kesejahteraan bagi keluarganya”, jelasnya.

Selanjutnya Sarwo Edhy menambahkan bahwa pada tahun 2019 direncanakan akan mengucurkan dana bantuan yang bersumber dari APBN.  “Tahun 2019 Kementerian Pertanian akan mengucurkan dana untuk pengembangan kebun nenas seluas 25 hektare yang akan dialokaskan di kecamatan Jalan Cagak 15 hektare, kecamatan Kasomalang 5 Ha dan kecamatan Tanjungsiang 5 hektare”, tutupnya.