PERTANIAN

Pengamat dan Asosiasi Pertanian Ramai-ramai Sikapi Petisi PATAKA

MONITOR, Jakarta – Pengamat dan asosiasi pertanian ramai-ramai menanggapi petisi dari Pusat Kajian Pertanian, Pangan dan Advokasi (PATAKA). Pihak yang terlibat mengeluarkan petisi yang ditandatangani 20 orang, diantaranya Yeka, Toni J Kristianto dan Cuncun Wijaya.

Petani Muda Aceh, Mawardi mengatakan yang menarik tentang data luas sawah rilis terbaru, ternyata data luas sawah Aceh menjadi berkurang 50 persen. Dampak data ini bisa membawa petaka bagi petani di Aceh.

“Karena secara otomatis mulai Januari 2019 nanti subsidi pupuk, bantuan benih, bantuan alat mesin akan dipangkas habis 50 persen karena alokasinya berdasarkan data luas sawah rilis terbaru yang telah susut. Jadi nanti yang jadi korban ya kita-kita para petani,” kata Mawardi di Aceh Besar, Jumat (23/11).

“Ini kan karena diantaranya dia yang ikut mempelopori data luas sawah Aceh berkurang 50 persen. Sebaiknya Dia keluar dari Aceh karena membikin petani Aceh sengsara,” tambahnya.

Bahkan pengamat kebijakan pangan pertanian, Razikin Juraid mengatakan para pembuat petisi atau mosi tidak percaya tentang kebijakan pangan saat ini patut dipertanyakan pemahamannya dan keberpihakannya. Kebijakan pangan saat ini dinilai sudah tepat dalam membangun pertanian modern dan mensejahterakan petani serta membangun minat generasi muda.

“Ini sih pembuat petisi jangan-jangan kumpulan orang-orang lingkung. Kaki tanganya mafia pangan yang selama ini tidak bisa gerak. Biasanya mafia lihai mengolah isu seperti ini,” tegas Razikin.

Hal senada diungkapkan Dekan Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin, Prof. Luthfi Fatah. Dia curiga bila asosiasi yang terlibat membuat petisi khususnya PATAKA sebenarnya adalah corong para agen mafia pangan yang tidak ingin mendukung upaya meningkatkan kesejahteraan petani. Di era kepemimpinan Menteri Amran tercatat 700 perusahaan terkait mafia pangan berhasil dibekukan dan dipolisikan.

“Petisi mereka itu seolah tidak menghargai kinerja petani Indonesia. Khawatirnya mereka ini disusupi oleh oknum semacam itu,” ungkapnya.

Sebelumnya, beberapa asosiasi juga menyampaikan penolakan dan keberatan atas pencatutan nama Asosiasi Agribisnis Cabai Indonesia dan Asosiasi Petani Bawang Merah Indonesia dalam berita petisi.

Recent Posts

Kemenag Seleksi Calon Anggota Majelis Masyayikh 2026–2031, Perkuat Mutu Pendidikan Pesantren

MONITOR, Jakarta – Kementerian Agama (Kemenag) melalui Direktorat Pesantren melanjutkan proses seleksi Bakal Calon Anggota…

2 jam yang lalu

Kementan Tegaskan Pelaku Perunggasan Komitmen Lakukan Perbaikan Harga Ayam Broiler

MONITOR, Jakarta – Kementerian Pertanian (Kementan) terus memperkuat upaya menjaga keseimbangan sektor perunggasan nasional di…

10 jam yang lalu

HKTI Lumajang Kawal Ketat LP2B, Tegaskan Tak Boleh Ada Alih Fungsi Lahan Produktif

MONITOR, Lumajang – Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kabupaten Lumajang menegaskan komitmennya mengawal implementasi kebijakan…

11 jam yang lalu

3 Negara Diguncang Gempa Hebat, Puan Sampaikan Simpati dan Tekankan Perlindungan WNI

MONITOR, Jakarta - Ketua DPR RI Puan Maharani menyampaikan rasa simpati atas musibah bencana gempa…

19 jam yang lalu

Menhaj Buka IEE 2026, Tegaskan Transformasi Haji dan Umrah Harus Berpihak kepada Jemaah

MONITOR, Jakarta - Menteri Haji dan Umrah Moch. Irfan Yusuf menegaskan transformasi penyelenggaraan haji dan umrah…

1 hari yang lalu

Waka Komisi VII DPR: Kebijakan Bebas Visa Kunjungan Dapat Buka Lapangan Kerja

MONITOR, Jakarta - Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Evita Nursanty, menyoroti polemik antara Kementerian…

1 hari yang lalu