Dok. Humas Direktorat Pesantren Kemenag
MONITOR, Jakarta – Kementerian Agama (Kemenag) melalui Direktorat Pesantren melanjutkan proses seleksi Bakal Calon Anggota Majelis Masyayikh Masa Khidmat 2026–2031 dengan menggelar sesi wawancara yang dilaksanakan oleh Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA). Tahapan ini menjadi bagian penting dalam menjaring figur-figur terbaik yang akan mengemban amanah menjaga dan mengembangkan mutu pendidikan pesantren di Indonesia.
Kegiatan berlangsung di Grand Mercure Kemayoran, Jakarta, pada 24–28 Juni 2026. Proses wawancara dilaksanakan melalui dua metode, yakni daring dan luring, guna memberikan kesempatan kepada seluruh peserta yang telah lolos tahapan administrasi untuk mengikuti proses seleksi secara optimal.
Tahap pertama dilaksanakan secara daring pada 25–26 Juni 2026 dan diikuti oleh 61 bakal calon. Sementara itu, tahap kedua berlangsung secara luring pada Sabtu, 27 Juni 2026, dengan melibatkan 22 bakal calon. Pembagian tahapan tersebut dilakukan agar proses pendalaman terhadap kapasitas keilmuan, integritas, pengalaman, serta visi para peserta dapat berjalan lebih efektif dan proporsional.
Direktur Pesantren Kementerian Agama, Dr. H. Basnang Said, menegaskan bahwa Majelis Masyayikh memiliki posisi strategis dalam sistem pendidikan pesantren, khususnya dalam menjaga kualitas dan memastikan penyelenggaraan pendidikan berjalan sesuai standar yang telah ditetapkan.
“Majelis Masyayikh memegang peran penting dalam menjaga dan meningkatkan mutu pendidikan pesantren. Karena itu, proses seleksi harus mampu menghasilkan sosok-sosok yang memiliki kompetensi, integritas, dan profesionalisme untuk menjalankan tugas kelembagaan tersebut,” ujar Basnang.
Ia menjelaskan, salah satu aspek utama yang menjadi perhatian dalam proses seleksi adalah kemampuan calon anggota Majelis Masyayikh dalam memahami sistem penjaminan mutu pendidikan pesantren, termasuk pengembangan kurikulum yang tetap berpijak pada karakteristik dan kekhasan pesantren di Indonesia.
Selain kapasitas keilmuan, Basnang menilai komposisi keanggotaan Majelis Masyayikh juga perlu mencerminkan keberagaman kompetensi. Mulai dari rumpun keilmuan, pengalaman kepemimpinan, kemampuan teknis, hingga aspek administrasi kelembagaan agar mampu memperkuat pelaksanaan tugas secara komprehensif.
Sementara itu, Ketua AHWA menjelaskan bahwa sesi wawancara dirancang untuk menggali lebih mendalam profil, pengalaman, visi, serta kontribusi yang dapat diberikan oleh setiap bakal calon terhadap pengembangan pendidikan pesantren.
Menurutnya, salah satu indikator yang menjadi perhatian tim penguji adalah personal branding peserta yang mencerminkan kapasitas kepemimpinan, integritas, serta rekam jejak pengabdian di lingkungan pesantren maupun masyarakat.
Dalam pelaksanaannya, setiap peserta menjalani wawancara dengan durasi yang telah ditentukan. Tim penguji menggunakan instrumen penilaian yang telah disusun secara sistematis guna menjamin objektivitas, transparansi, dan akuntabilitas proses seleksi. Penilaian juga mempertimbangkan aspek keterwakilan wilayah serta keberagaman latar belakang calon sehingga diharapkan menghasilkan komposisi Majelis Masyayikh yang inklusif dan representatif.
Melalui rangkaian wawancara yang berlangsung selama lima hari tersebut, AHWA berharap memperoleh gambaran menyeluruh mengenai kompetensi, integritas, serta komitmen para bakal calon. Hasil wawancara akan menjadi salah satu dasar penting dalam menetapkan Anggota Majelis Masyayikh Masa Khidmat 2026–2031.
Anggota Majelis Masyayikh yang terpilih nantinya diharapkan mampu menjalankan amanah secara profesional dalam menjaga tradisi keilmuan pesantren, memperkuat sistem penjaminan mutu, serta mendorong pengembangan pendidikan pesantren yang berkelanjutan sesuai amanat Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren.
MONITOR, Jakarta – Kementerian Pertanian (Kementan) terus memperkuat upaya menjaga keseimbangan sektor perunggasan nasional di…
MONITOR, Lumajang – Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kabupaten Lumajang menegaskan komitmennya mengawal implementasi kebijakan…
MONITOR, Jakarta - Ketua DPR RI Puan Maharani menyampaikan rasa simpati atas musibah bencana gempa…
MONITOR, Jakarta - Menteri Haji dan Umrah Moch. Irfan Yusuf menegaskan transformasi penyelenggaraan haji dan umrah…
MONITOR, Jakarta - Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Evita Nursanty, menyoroti polemik antara Kementerian…
MONITOR, Makassar – Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dengan lebih dari 17 ribu pulau,…