PEMERINTAHAN

Gubernur Sulut keluhkan Regulasi Kementerian KKP Hambat Industri Kelautan dan Perikanan

MONITOR, Jakarta – Gubernur Sulawesi Utara, Olly Dodokambey mengatakan jika saat ini, regulasi dan kebijakan pemerintah pusat di sektor kelautan dan perikanan tidak mendukung pengembangan ekonomi industri kelautan dan perikanan di wilayahnya. Padahal, menurut Olly yang juga merupakan politikus PDIP itu posisi Sulawesi Utara sangat strategis sebagai pintu gerbang Indonesia dalam mengembangkan potensi kelautan dan perikanan.

“Kendala kita hari ini kekurangan pasokan ikan. Dengan regulasi yang ada sangat memberatkan untuk perikanan. Padahal potensi strategis Sulawesi Utara seharusnya bisa dimanfaatkan untuk industri kelautan dan perikanan berkontribusi lebih bagi ekonomi,” ujarnya saat menjadi narasumber Focus Grup Discussion (FGD) RPJMN 2019-2024 Sektor Kelautan dan Perikanan yang diselenggarakan KADIN dan Bappenas, Jakarta, Rabu (14/11/2018).

Menurut Olly, seharusnya regulasi pemerintah pusat dalam hal ini kementerian kelautan dan perikanan menjawab persoalan di industri tersebut, bukan sebaliknya. “Regulasi yang ada di pemerintah pusat harus menjawab persoalan terkait sektor kelautan dan perikanan di seluruh wilayah sesuai karakter dan potensinya,” tegasnya.

Olly menambahkan, saat ini setidaknya ada tiga persoalan pelik sektor kelautan perikanan khususnya di wilayah Sulawesi Utara yaitu ketersediaan bahan baku, regulasi, sarana dan prasarana, implementasi teknologi yang mumpuni, dan ketersediaan energi (listrik dan BBM).

“Soal regulasi perizinan kapal saat ini lambat sehingga menghambat aktifitas. Saya sendiri mensiasatinya dengan mengeluarkan pergub (peraturan gubernur) untuk izin operasional sementara 3 bulan. Kalau menteri tidak kasih juga kita perpanjang terus,” ungkapnya.

Regulasi yang dinilai Olly menghambat pembangunan ekonomi sektor kelautan dan perikanan yang sangat menghambat adalah soal izin impor yang tidak bisa langsung melalui pelabuhan bitung melainkan harus masuk ke Surabaya terlebih dahulu.

“Soal sarana dan Prasarana. Kapal kita gak bisa masuk karena dicurigai kapal luar,” tandasnya.

“Pemerintah harus konsisten membuka ruang ekonomi kelautan dan perikanan sebagai contoh pembukaan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) tapi juga tidak boleh impor. Ini membuat bingung investor,” pungkasnya.

Recent Posts

Bedah Buku di Munas-Konbes NU 2026, Gus Hery Tegaskan Kesiapan Mengabdi untuk Masa Depan PBNU

MONITOR, Kediri – Forum bedah buku dalam rangka pelaksanaan Munas Alim Ulama dan Konferensi Besar…

4 jam yang lalu

Sambangi UID, Senator Jihan Fahira Ajak Mahasiswa Kawal Demokrasi Substantif dan Etika Berbangsa

MONITOR, Depok – Anggota DPD RI, Jihan Fahira, mengajak mahasiswa untuk berperan aktif mengawal kehidupan…

7 jam yang lalu

UMKM Kota Mataram Sektor Perhiasan Makin Tangguh Berkat Akses KUR

MONITOR, Mataram – Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) melakukan kunjungan kerja ke sentra…

11 jam yang lalu

Selamat Jalan Pejuang Madrasah Diniyah Nusantara: Mengenang Dr. Sumitro, M.Si., Pendiri FKDT

Oleh: Akhmad Sururi(Plt. Sekretaris Jenderal DPP FKDT) Kabar duka menyelimuti keluarga besar pegiat pendidikan keagamaan…

13 jam yang lalu

Pemadaman Listrik Bergilir yang Makin Sering Buat Rakyat Resah, Legislator: Sengaja Ada Pembiaran

MONITOR, Jakarta - Anggota Komisi VI DPR RI, Mufti Anam meminta Pemerintah dan PT PLN…

24 jam yang lalu

Tekankan Pentingnya Mitigasi Bencana Kekeringan, DPR Dorong Peningkatan Infrastruktur Ketahanan Air Nasional

MONITOR, Jakarta - Wakil Ketua Komisi V DPR RI, Andi Iwan Darmawan Aras menekankan pentingnya…

1 hari yang lalu