Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita. (Foto: Humas Kemenperin)
MONITOR, Jakarta – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) bergerak cepat merespons dinamika geopolitik global yang berpotensi mengganggu rantai pasok bahan baku petrokimia dan industri plastik nasional. Salah satu langkah strategis yang dilakukan adalah mempertemukan pelaku industri dari hulu hingga hilir guna memastikan stabilitas pasokan dalam negeri tetap terjaga.
Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, menyampaikan bahwa hasil pertemuan tersebut menunjukkan optimisme dari pelaku industri terkait ketersediaan stok plastik nasional.
“Dari hasil pertemuan, kami mendapatkan jaminan dari industri bahwa stok plastik seharusnya tidak ada masalah. Saya garis bawahi kata seharusnya, karena pemerintah tetap akan terus memantau perkembangan situasi global secara cermat,” ujar Agus di Jakarta, Kamis (16/4).
Pertemuan tersebut melibatkan berbagai pelaku industri, mulai dari sektor hulu petrokimia, industri antara, industri hilir, hingga sektor daur ulang plastik. Mereka juga menyatakan komitmen untuk menjaga kesinambungan pasokan, khususnya bagi industri kecil agar tetap mampu bersaing di pasar.
Namun demikian, Kemenperin mengakui bahwa gejolak di kawasan Selat Hormuz telah berdampak pada struktur harga plastik di dalam negeri. Kenaikan biaya logistik, freight pelabuhan, hingga surcharge premium turut memengaruhi biaya produksi industri.
“Waktu pengiriman yang sebelumnya rata-rata sekitar 15 hari, saat ini dapat meningkat hingga 50 hari. Kondisi ini tentu berdampak pada peningkatan beban biaya produksi,” jelas Agus.
Situasi ini menjadi pelajaran penting bagi Indonesia untuk memperkuat kemandirian industri petrokimia nasional, terutama dalam penyediaan bahan baku dalam negeri guna mengurangi ketergantungan impor.
Selain itu, pemerintah juga membuka peluang diversifikasi bahan baku, termasuk pemanfaatan crude palm oil (CPO) sebagai substitusi nafta. Meski secara keekonomian masih menghadapi tantangan, opsi ini dinilai strategis untuk jangka panjang.
“Kita harus melihat seluruh potensi sumber daya nasional yang bisa menjadi alternatif bahan baku industri petrokimia, termasuk CPO, meskipun tantangan keekonomiannya masih perlu dihitung secara matang,” tambahnya.
Dalam forum tersebut, pelaku industri juga mendorong pemerintah untuk memperkuat perlindungan pasar domestik dari gempuran produk impor serta meningkatkan daya tarik investasi di sektor petrokimia nasional.
Menutup pernyataannya, Agus menegaskan komitmen pemerintah dalam menjaga ketahanan sektor manufaktur nasional di tengah persaingan global yang semakin ketat.
“Kemenperin akan terus hadir bersama pelaku industri dalam menjaga ketahanan sektor manufaktur nasional menghadapi dinamika global,” pungkasnya.
MONITOR, Jakarta - Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menegaskan kontribusi UMKM dalam Program…
MONITOR, Tangerang — Mahasiswa Program Pascasarjana S-2 Manajemen Pendidikan Universitas Pamulang (UNPAM) kembali menunjukkan komitmennya…
MONITOR, Tangerang — Mahasiswa Program Pascasarjana S-2 Manajemen Pendidikan Universitas Pamulang (Unpam) melaksanakan kegiatan Pengabdian…
MONITOR, Jakarta — Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menegaskan pentingnya penguatan kolaborasi antara…
MONITOR, Jakarta — Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) mengajak Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI) berkolaborasi untuk…
MONITOR, Tangerang – Mahasiswa Pascasarjana Program Studi Manajemen Pendidikan Universitas Pamulang (Unpam) kembali menunjukkan kontribusi…