Pengamat: Bawa-bawa Agama dalam Pemilu hanya akan buat Umat Terbelah

1004

MONITOR,┬áSerang, Banten – Pemilihan presiden dan wakil presiden tahun 2019 masih lama akan berlangsung, namun berita dan isu politik harian lebih banyak diisi oleh perhelatan pesta demokrasi tersebut. Group-group perbincangan di berbagai aplikasi dipenuhi dengan link-link berita pilpres, meme politik hingga video singkat, semua berisi dukungan, tentangan dan atau pesan-pesan netral.

Sayangnya, karena kebetulan pasangan calon ada dua pasang, posisi group pendukung dan penentang menjadi berhadap-hadapan. Bahkan hingga grup chat (percakapan)-pun menjadi ramai. Dalam beberapa kasus, perdebatan antar dua kelompok pendukung kubu masing-masing berlangsung sengit, panas dan destruktif khususnya ketika isu agama dimunculkan.

Banyak peserta merasa terusik dan tersinggung ketika persoalan agama diangkat dalam pilpres.

Ketika kelompok satu menuduh kelompok lain sebagai salah, tidak mencintai agamanya atau tidak mau menyelamatkan agamanya karena berbeda dukungan. Sementara kelompok lainnya memandang persoalan pilpres adalah urusan dunia, soal pilihan hati, soal pilihan karena program, bukan soal membela agama atau sedang berdakwah agama.

Apalagi, secara faktual para peserta pilpres hanya ada empat orang, dua calon presiden dan dua calon wakil presiden dan semuanya beragama Islam.

Karena itu ketika beberapa orang yang mengaku ulama menggelar ijtima’ atau berkumpul dan menyatakan dukungan kepada pasangan tertentu, banyak pihak yang menyesalkan. Mereka mempertanyakan, bagaimana bisa sekelompok orang terjun ke politik kontestasi dan membela satu pasangan dengan mengatasnamakan ulama atau mengatasnamakan agama.

Pemgamat dan aktivis Forum Pemerhati Pemilu Indonesia, Agusta Surya Buana mengatakan sebaiknya peserta pilpres dan pendukunganya tidak membawa-bawa agama ke dalam praktik kontestasi politik.

Menurut Agusta, menjadikan isu agama atau bahkan isu SARA ke dalam politik pemilu jelas merupakan pelanggaran. Hal demikian juga akan menyebabkan ummat terbelah. “Lagi pula tidak ada juga relevansinya bawa-bawa isu agama dalam pilpres. Semua calon presiden bergama Islam, demikian juga calon wakil presiden, agamanya Islam semua, bahkan salah seorang cawapres malah seorang ulama, ketua organisasi ulama dan pimpinan tertinggi organisasi Islam di tanah air,” uajrnya saat ditemui usai diskusi terbatas ‘Isu Agama Dalam Pilpres 2019 & Dampaknya Bagi Umat’, di Kota Serang, Senin (17/9).

Agusta menegaskan, yang ideal terjadi dalam pilres harusnya adalah perdebatan program, adu visi misi. Siapa yang bisa memajukan dan menata negara agar rakyat sejahtera. Ia juga mengecam anjuran untuk menyisipkan kampanye salah satu paslon ke masjid-masjid dan majelis taklim.

Menurutnya itu tindakan memalukan dan mengecewakan. “Bagaimana mungkin ada anjuran seperti itu padahal jelas sekali dalam aturan, dilarang keras kampanye di tempat ibadah dan tempat belajar. Lembaga agama dan forum keagamaan jangan diseret untuk kepentingan dukung mendukung salah satu paslon. Apalagi jika sampai dibiayai untuk kepentingan kampanye salah satu paslon. Itu konyol,” pungkasnya.