Categories: HUMANIORASOSIAL

Cerita Pilu KPAI saat Kunjungi Korban Kebakaran di Bidara Cina

MONITOR, Jakarta – Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) telah melakukan pengawasan ke lokasi kebakaran di Jalan Kebon Sayur 2 RT 007 dan 008/RW 014 Kelurahan Bidara Cina Jatinegara Jakarta Timur pada Senin 28 Mei 2018. Pada kesempatan itu, KPAI menurunkan tim pengawasan yang terdiri dari dua komisioner, yaitu Susianah Affandi dan Retno Listyarti.

KPAI menemukan, ada satu korban usia anak A (13 th), kakinya terbakar. Dua orang korban lainnya Sadih (50 th) mengalami lukar bakar seluruh tubuh dan Muahana (60 th) mengalami luka bakar di muka dan tangan. Ketiganya adalah satu keluarga di dalamya rumahnya terdapat tabung gas yang meledak sebagai penyebab kebakaran. Ketiganya kini dirawat di Rumah Sakit Polri.

“Warga terdampak kebakaran sebanyak 221 jiwa dari 56 Kepala Keluarga dan 46 rumah. Dari pengawasan KPAI, anak-anak yang terdampak kebakaran sebanyak 57 jiwa dengan rincian anak Usia SD 23 orang, anak usia SMP sebanyak 14 orang dan anak usia SMA sebanyak 20 orang,” tutur Retno Listyarti, Komisioner bidang Pendidikan.

Komisioner KPAI Retno dan Susianah saat mengunjungi korban kebakaran di Bidara Cina Jatinegara (dok: istimewa)

Retno menuturkan, KPAI meminta kepada Pemerintah Kota Jakarta Timur agar memberikan kemudahan kepada warga terdampak kebakaran dalam mengurus surat berharga dan penting seperti surat tanah, akte lahir, Kartu Keluarga, ijazah dan rapor anak.

“KPAI mengapresiasi inisiasi ibu-ibu Sekolah Perempuan yang didampingi oleh Institute Kapal Perempuan dalam mengamankan dokumen-dokumen penting dengan cara di scan, sehingga ketika terjadi musibah kebakaran, dokumen relatif dapat diselamatkan,” ujar Retno.

Insiden kebakaran ini menyebabkan anak-anak bersedih, karena kehilangan tempat tinggal yang selama ini melindungi mereka dari terik panas matahari dan hujan. Kondisi shock terjadi ketika orang tua membawa anak-anak mereka yang masih Balita meninggalkan rumahnya yang akan terbakar pada dini hari dan semua warga panik.

“Saat kejadian, anak-anak masih terlelap tidur, tapi langsung dibangunkan dan dibawa berlari keluar rumah, melewati ga sempit yang dijejali orang-orang yang panik menyelamatkan diri dengan disertai jeritan orang dewasa dan tangisan balita. Situasi ini yang mengakibatkan anak-anak balita mengalami trauma,” terang Susianah, Komisioner KPAI Bidang Sosial.

Komisioner KPAI Retno dan Susianah saat mengunjungi korban kebakaran di Bidara Cina Jatinegara (dok: istimewa)

Susianah menambahkan, indikasi trauma diantaranya anak kehilangan selera makan dan kerap memgigau dan menangis ketika tidur, terutama malam hari.

Secara umum, anak-anak telah beradaptasi dengan bencana karena tempat tinggal mereka berada di samping sungai Ciliwung yang ketika curah hujan tinggi daerah berlangganan banjir. Traumatik anak-anak yang tempat tinggalnya sering dilanda bencana banjir menjadikan mereka beradabtasi dengan bencana.

“Anak-anak usia 8-12 tahun yang kami temui mengaku menerima kejadian ini sebagai musibah sebab menurut mereka tak ada gunanya marah karena tak mengembalikan rumah dan barang-barang yg hangus terbakar,” urainya.

Atas kerugian itu, KPAI meminta Pemkot Jakarta Timur dan Pemprov DKI untuk menyediakan sarana air bersih, fasilitas MCK (pengakuan warga baru ada 1 kamar mandi umum).

“Jumlah MCK satu dengan jumlah korban mencapai 221 jiwa jelas tidak memadai,” pinta Susianah.

KPAI juga meminta Pemkot menyediakan fasilitas pengungsian yang ramah anak. Saat ini ada 3 tenda pengungsian yang dibangun ala kadarnya, membuat banyak warga masyarakat tidak betah karena kondisinya yg panas. Warga terdampak banyak yang tinggal di rumah saudara dan keluarganya. Dalam konteks ini, tempat pengungsian seharusnya ramah anak, memberikan fasilitas yg nyaman bagi anak khususnya anak perempuan dalam menjaga privasinya.

KEENAM, Anak-anak harus mendapatkan trauma healing dan psiko sosial yang dapat mengembalikan keceriaan mereka seperti sebelum ternjadinya kebakaran. Hal ini dapat dilakukan oleh Dinas Sosial DKI Jakarta dan Kemensos RI.

KETUJUH, Pemkot harus segera mencari jalan keluar bagi tempat hunian warga terdampak. Temuan KPAI, warga yg memiliki anak-anak kebingungan terhadap tempat tinggal mereka di masa depan. Karena tidak mungkin mereka berada di pengungsian ala kadarnya dalam jangka waktu lama. Saat ini warga terdampak mulai merencanakan kos atau ngontrak.

Recent Posts

Kemnaker Mulai Siapkan Peta Jalan Tata Kelola PRT

MONITOR, Jakarta — Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) mulai menyiapkan peta jalan tata kelola Pekerja Rumah Tangga…

6 jam yang lalu

Kemenhaj Perketat Pengawasan Travel Umrah

MONITOR, Jakarta - Lonjakan kasus penipuan dan penggelapan dana perjalanan ibadah kembali menjadi sorotan serius seiring…

7 jam yang lalu

Kemenag Salurkan Rp65,2 Miliar Bantuan untuk Pemulihan Pesantren Terdampak Banjir Aceh

MONITOR, Jakarta - Kementerian Agama (Kemenag) telah menyalurkan bantuan senilai Rp65,2 miliar untuk mendukung pemulihan…

16 jam yang lalu

ICFA 2026: Rokhmin Dahuri dorong Transformasi Akuakultur Menuju Ekonomi Biru Berkelanjutan

MONITOR, MIRI, SARAWAK - Masa depan akuakultur global tidak cukup hanya diarahkan pada peningkatan produksi…

18 jam yang lalu

Komisi XI DPR Tagih Komitmen BI Dorong Lapangan Kerja dan Ekonomi Daerah

MONITOR, Jakarta - Anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Marwan…

18 jam yang lalu

50 Persen Travel Umrah Tak Aktif, Kemenhaj Rombak Aturan dan Digitalisasi Perizinan

MONITOR, Jakarta — Tata kelola penyelenggaraan ibadah umrah di Tanah Air mendesak untuk dibenahi secara menyeluruh…

20 jam yang lalu