EKONOMI

Kenaikan Suku Bunga BI Dikhawatirkan Pengaruhi Kegiatan Ekonomi Diberbagai Sektor

MONITOR, Jakarta- Kebijakan yang dibuat Bank Indonesia (BI) untuk menaikan suku bunga acuan (7 Days Reverse Repo) sebesar 25 bps menjadi 4,50% dapat berimbas di berbagai sektor kegiatan ekonomi.

Kegiatan ekonomi yang dimaksud ialah perputaran arus keuangan/perbankan seperti tabungan, investasi, inflasi yang dipengaruhi oleh pergerakan nilai tukar rupiah.

Pasal nya, tingkat suku bunga merupakan salah satu tolak ukur yang memicu pertumbuhan perekonomian suatu negara. Suku bunga erat kaitannya dengan kreditor (bank) dan debitor (peminjam).

Head of Research Ekuator Swarna Sekuritas, David Sutyanto menjelaskan, kenaikan suku bunga acuan memang menjadi vitamin yang dibutuhkan oleh pasar saham untuk menjaga IHSG berada di level 6.000.

“BI memang harus melakukan kebijakan makroprudensial yang akan menenangkan pasar, salah satunya dan yang utama adalah menyesuaikan suku bunga acuan,” kata dia.

Menurutnya, rencana bank sentral yang akan menaikkan 7 Day Reverse Repo Rate sebesar 25 bps menjadi 4,50% susah sesuai dengan harapan pasar dan diyakini bisa menjadi penyeimbang antara penguatan IHSG dan nilai tukar rupiah.

“Kebijakan jika pendek mungkin tidak ada yang optimum. Kebijakan menengah panjang perlu dipertahankan konsistensi, kebijakan makro dan persoalan struktural harus terus dibenahi” ungkap nya saat dihubungi MONITOR, Jakarta, Sabtu (12/5).

Lanjut David, pengaruh kenaikan suku bunga akan berdampak pada kondisi capacity utilization sebenarnya sedang naik cerminan permintaan agregat yang sedikit meningkat.

Sebelumnya, BI sudah membuka ruang untuk menaikkan suku bunga acuan BI 7 Day Reverse Repo Rate. Pelemahan Rupiah, berimbas kepada bursa saham. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus merosot hingga menninggalkan level 6.000.

Gubernur BI Agus Martowardojo pada pernyataan resminya telah mengatakan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah dalam beberapa pekan terakhir sudah tidak lagi sejalan dengan kondisi fundamental ekonomi Indonesia saat ini.

Menurut Agus, operasi moneter di pasar valas juga akan terus dilanjutkan untuk meminimalkan volatilitas nilai tukar rupiah.

“Agar keyakinan pelaku ekonomi dapat dipastikan tetap terjaga,” ujar Agus.

Recent Posts

Kemnaker Mulai Siapkan Peta Jalan Tata Kelola PRT

MONITOR, Jakarta — Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) mulai menyiapkan peta jalan tata kelola Pekerja Rumah Tangga…

8 jam yang lalu

Kemenhaj Perketat Pengawasan Travel Umrah

MONITOR, Jakarta - Lonjakan kasus penipuan dan penggelapan dana perjalanan ibadah kembali menjadi sorotan serius seiring…

9 jam yang lalu

Kemenag Salurkan Rp65,2 Miliar Bantuan untuk Pemulihan Pesantren Terdampak Banjir Aceh

MONITOR, Jakarta - Kementerian Agama (Kemenag) telah menyalurkan bantuan senilai Rp65,2 miliar untuk mendukung pemulihan…

18 jam yang lalu

ICFA 2026: Rokhmin Dahuri dorong Transformasi Akuakultur Menuju Ekonomi Biru Berkelanjutan

MONITOR, MIRI, SARAWAK - Masa depan akuakultur global tidak cukup hanya diarahkan pada peningkatan produksi…

21 jam yang lalu

Komisi XI DPR Tagih Komitmen BI Dorong Lapangan Kerja dan Ekonomi Daerah

MONITOR, Jakarta - Anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Marwan…

21 jam yang lalu

50 Persen Travel Umrah Tak Aktif, Kemenhaj Rombak Aturan dan Digitalisasi Perizinan

MONITOR, Jakarta — Tata kelola penyelenggaraan ibadah umrah di Tanah Air mendesak untuk dibenahi secara menyeluruh…

22 jam yang lalu